Menggali Liang Kubur Sendiri (Kisah Indonesia Pasca Reformasi 1998)

1

tubanjogja.orgReformasi 1998

Reformasi 1998 adalah tonggak, dimana sejarah bangsa harusnya bisa menemui keberuntungan hidupnya sebab sudah 32 tahun dalam cengkeraman rezim otoriter. Tapi kenyataannya, pelan tapi pasti, bangsa kita malah menggali liang kuburnya sendiri. Dan proses penggalian kubur itu diiringi suka-cita yang amat mendalam pula oleh mereka yang mentahbisakan diri sebagai kaum terpelajar. Salah satunya adalah yang dengan bangga menamai diri mahasiswa.

Bagi kalangan mahasiswa pergerakan, kisah tentang heroisme 1998 diputar berulang-ulang sebagai momen bersejarah yang tak boleh dilupakan. Lantas mantra-mantra dirapalkan, bersama lantunan syahdu lagu darah juang, dan teriakan lantang sumpah mahasiswa dengan membahana. Bahwa kebebasan yang kita raih ini, bahwa demokrasi yang kita nikmati kini, adalah suatu harta rampasan hasil perang kita yang paling berharga saat melawan rezim otoriter. Dan bahwa perjuangan perebutan tersebut juga ada sekian peluh beleleran, sekian tetes darah yang ditumpahkan, juga sekian nyawa yang hilang melayang. Pendeknya, perjuangan ini bukan tanpa pengorbanan. Ingat tragedi semanggi. Ingat aktivis-aktivis yang hilang diculik. Ingat tetesan darah dan air mata yang harus keluar saat demonstrasi menghadapi hantaman popor senjata tentara!

Kemudian kita lupa bahwa kejatuhan rezim Orde Baru adalah juga akibat terpaan krisis finansial global. Kita lupa bahwa sistem dunia yang dikuasai oleh kapitalisme sebagai satu-satunya ideologi pemenang perang dingin, sudah tidak lagi menghendaki rezim otoriter. Dan kehendak itu kemudian bersambut saat reformasi meledak di bumi bangsa kita. Sebab reformasi menawarkan keterbukaan. Sebab reformasi pada akhirnya menjamin penetrasi modal jadi lebih lancar tanpa tersendat oleh rezim yang kaku. Sebab reformasi menjamin amannya modal yang masuk tanpa gangguan yang berarti.

Enambelas tahun setelahnya, sejak hiruk-pikuk pemilihan presiden 2014 yang kebetulan sekali ternyata dimenangkan oleh gelandangan kampung dari pinggiran kali kota Solo, kita mendapati bahwa memang bangsa kita mulai lupa kalau dirinya sedang mabuk sehabis pesta, dan dengan bahagia menggali kuburannya sendiri menuju neraka. Ya, benar! Bangsa kita menemui ajalnya justru saat merasa diri terbebas dari cengkeraman mulut harimau yang hendak bangkit dari warisan Orde Baru.

Baca juga: Gotong Royong Robohkan Negara

Kita bisa melihat dengan jelas, bagaimana Jokowi, dengan dukungan para cerdik-cendekia yang terlalu pandai menatarkan seribu teori, dengan tanpa malu-malu, menggadaikan ibu pertiwi untuk memenuhi doktrin khayalannya tentang ekonomi berdikari! Ya, kita bisa melihat, bahwa kedaulatan kita dalam politik tak ubahnya kemerdekaan narapidana dalam memilih bilik penjara mana yang akan dia tempati, atau sipir penjara mana yang akan mengunci dan menjaganya. Lantas martabat kebudayaan kita merosot sampai ke telapak kaki. Martabat kebudayaan ditinjau dari karya, dan kita tak pernah berkarya. Ditinjau dari karsa dan kita tak pernah berkehendak dan berfikir maju. Rakyat yang sengsara, setelah ditinjau dengan statistik, kemudian dimiskinkan dan dijadikan sebagai pengemis massal di hadapan penguasa.

Lantas apa artinya kebebasan berpendapat, apa artinya demokrasi dan keterbukaan yang kita raih ini?

Kebebasan berpendapat menjadikan kita megap-megap kebanjiran informasi tentang apa saja, kecuali tentang kenyataan bahwa kita sedang masuk neraka. Keterbukaan menyingkapkan tirai pemisah antara rakyat dengan pasar global, dan kemudian menjadikannya harus bergelut sendirian dihantam oleh serbuan barang-barang impor, oleh pikiran-pikiran impor, dan kita terima itu semua dengan khusyuk laiknya mendapatkan berkah dari Tuhan yang maha kuasa. Bahkan, kita mengejar-ngejarnya sampai harus ke luar negeri, baik mengejar gelar kesarjanaan, atau menjadi TKI. Dan berduyun-duyun kapital memasuki kamar bangsa kita, dan memperkosa ibu pertiwi kita, dan menjadikan anak-anak bangsa sebagai budak di negeri sendiri.

Kita benar-benar merosot kembali menjadi bangsa jajahan. Dan penjajahan ulang ini menegaskan kematian dari mahakreasi nenekmoyang hasil pengumuman Proklamasi 1945 yang bernama Indonesia. Ya, indonesia sudah mati. Kini mayatnya sedang dalam proses pembusukan.

Dalam proses kematian Indonesia ini, kemana gerakan mahasiswa hendak mengarah?

— Reformasi 1998 —

Baca juga: Mitos Kesejahteraan Rezim Ramah Bisnis

Blandongan, 5 Desember 2014

*Penulis adalah cendekiawan muda Kampret

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here