Kala Ibu Emoh ke Pasar

1
Lebaran Kartono

tubanjogja.orgPasar Tradisional

Emak dan Pasar Tradisional
ilustrasi dari :kritikzaini.blogspot.co.id

Oleh: Joko Dalem*

 Sebelum beranjak serius, mari mengingat puisi masa kecil dulu yang sangat populer menyemangati kita pergi ke sekolah. Judulnya: Hujan. Baiklah saya kutip bulat-bulat.

Walau hujan, ayah tetap pergi ke kantor // Walau hujan, ibu tetap pergi ke pasar // Walau hujan, aku tetap pergi ke sekolah // Karena hujan adalah rahmat Tuhan.

Dalam puisi itu, lupakan dulu soal hujan—apalagi hujan sebagai rahmat Tuhan. Lupakan juga soal aku yang tetap pergi ke sekolah walau harus kehujanan. Maka sisanya hanya ada ayah yang tetap pergi ke kantor, dan ibu yang tetap pergi ke pasar. Ya, pada bait itulah yang geger dipermasalahkan pejuang feminis.

Sekian pertanyaan muncrat dari mulut mereka demi mengadili puisi itu. Mengapa harus ayah yang ke kantor? Mengapa ibu yang ke pasar? Mengapa ayah dulu yang diungkapkan dan bukan ibu dulu?

Puisi itu kemudian disimpulkan sebagai puisi yang lahir dari rahim social patriarkhis. Maka, ia harus ditinjau ulang. Menyebarluaskan puisi itu sama dengan mengajarkan ketidaksetaraan jender sejak kanak-kanak. Bukankah itu bentuk pelanggengan budaya budaya patriarkhis yang merendahkan perempuan? Bukankah dengannya kemudian hingga kini masih saja marak ditemui kekerasan terhadap perempuan?

Baca juga: Ironi Negeri Agraris, Meneropong Masa Depan Petani Indonesia

Tuduhan yang berat! Tapi santai saja, tak perlu juga untuk kita kupas terlalu dalam mengenai tuduhan kaum feminis. Apalagi jadi pahlawan pembela puisi yang polos itu. Kita bahas sambil main-main saja. Toh kini sudah banyak perempuan kantoran, sebagaimana juga sudah banyak lelaki pasaran.

Pasar, dalam puisi itu, dalam bayangan saya adalah pasar tradisional, dimana kaum ibu-ibu, sebagaimana ibu saya, berbelanja kebutuhan keluarga. Banyak juga ibu-ibu yang jadi pedagangnya. Malah mayoritas, dibanding bapak-bapak. Biasanya barang yang diperjualbelikan adalah seputar sembako rumah tangga seperti makanan atau sayur-sayuran. Saya masih sangat ingat dimana waktu kecil saya selalu menunggu ibu membawakan oleh-oleh setiap pergi ke pasar. Ibu yang pulang langsung menjelma dewi pemurah yang memberkati anaknya dengan beragam kue pasar.

Kini, pasar tradisional hadirnya mulai terdesak. Pasar modern menggurita bahkan sampai ke pelosok desa. Memang, bagi pembeli, pasar modern menyediakan fasilitas yang lebih memadai dibanding pasar tradisional. Semisal lantai yang bersih, ruangan ber-AC, juga senyum manis SPG-nya yang cantik-cantik dan berdandan menor. Sementara pasar tradisional belum banyak berbenah. Sumpek, kadang lantainya becek, dan berbagai macam predikat minor lainnya.

Baca juga: Menggali Liang Kubur Sendiri

Namun, dibalik makin memudarnya pesona pasar tradisional, ada hal-hal berharga yang turut hilang. Kalau sebelumnya banyak perempuan yang menjadi pedagang secara independen, kini banyak perempuan yang hanya jadi pekerja upahan. Seperti para SPG tak jarang bahkan dieksploitasi tubuhnya demi menarik para pembeli.

Peralihan perempuan pedagang independen dalam pasar tradisional, menjadi perempuan pekerja upahan dalam pasar modern, tentu dapat kita pahami sebagai proses (aduh) proletariasi. Dan disinilah akumulasi kapital pada segelintir orang berlangsung. Akumulasi yang dibangun diatas landasan eksploitasi kaum buruh. Sementara pemerintah juga memihak kapitalis, dengan kebijakan memang kian ramah bisnis.

Dan bagaimana dengan puisi itu?

Entahlah, puisi itu mungkin memang lahir dari sebuah era dimana pasar tradisional masih belum tergilas pasar modern yang menjelma berbagai supermarket. Era dimana rezim belum terlalu ramah bisnis seperti sekarang. Sementara keramahan terhadap bisnis lebih sering tak sejalan dengan keramahan pada perempuan.

Baca juga: Mitos Kesejahteraan Rezim Ramah Bisnis

Semenjak ibu-ibu tidak lagi menguasai pasar tradisional, pasar itu kini dikuasai dikuasai segelintir pemodal. Dan mereka memanfaatkan perempuan sebagai pekerja upahan belaka yang selalu dieksploitasi, bukan hanya tenaga kerjanya, dalam beberapa kasus sekaligus kemolekan tubuhnya.

Bukan ibu yang emoh ke pasar. Tapi pasar ibu yang kini menghilang tergerus zaman. Kapitalisme memang sedang berjingkrang.

Baca juga: Gotong Royong Robohkan Negara

Lembah Gajah Wong, 14 Oktober 2014

*Penulis adalah warga Tuban yang kebetulan lahir saat Indonesia sudah mengalami penjajahan ulang. Bersama teman-teman Kampret, ia belajar arti mengambil sikap untuk melakukan perlawanan total atasnya. Arus-Balik bukan hanya harus dibendung, tapi harus dibalik lagi!

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here