Medalem (Sebuah Dongeng)

0
Dongeng di Medalem
Ilustrasi gambar karya Qoida Nor

tubanjogja.org – Medalem

Oleh; Daruz Armedian*

Seperti di dalam dongeng-dongeng. Dulu. Dulu sekali sebelum anak-anak muda di desa Medalem mengenal yang namanya cinta. Atau mereka masih dalam kandungan. Atau bahkan ibu dan bapak mereka masih berupa sel telur dan sperma. Atau malahan lagi nenek dan kakek mereka sebelum diciptakan. Di sana sudah ada kisah yang terlupakan. Kisah manis. Kisah romantis. Kisah yang jika ditayangkan di televisi-televisi, akan membuat desa itu dikenal banyak orang. Dan tidak lupa, akan membuat jadi desa paling bersejarah seantero jagat raya.

Sebagai pencerita yang baik, saya akan mengisahkan dengan baik-baik pula. Konon, di desa itu ada yang namanya Alesia. Seorang gadis cantik putri raja. Ah, bukan raja. Hanya saja orang kaya. Tapi, dulu orang kaya, orang paling kaya adalah yang pantas dipanggil raja. Pipinya ranum seperti anggur-anggur. Hidungnya tidak terlalu mancung. Meski begitu, tidak bisa disebut gadis pesek. Wanginya selalu harum. Dimulai dari rambut sampai ujung-ujung kuku kaki baunya seperti minyak kesturi. Ia selalu memakai kebaya batik.

Kalau pagi tiba, ia akan membuka jendela pelan-pelan. Sehingga sinar matahari perlahan meleleh di wajahnya yang tampak bahagia setiap hari itu. Lalu dengan senyuman, ia menyapa ibu-ibu yang berangkat ke pasar. Senyum itu, biasanya sering ditunggu-tunggu oleh para pemuda yang sengaja duduk di pos ronda dekat rumahnya. Senyum itu, juga sering ia tujukan pada satu pemuda.

Nah, pemuda itu namanya Handim. Seorang petani anggur yang sukses. Wajahnya tampan. Wataknya santun. Sehingga jika gadis yang mengenalnya, tidak ada alasan untuk tidak jatuh cinta. Sehingga membuatnya gusar sendiri jika lewat di jalanan karena banyak yang minta tanda tangan. Orang dulu sudah mengenal tanda tangan, tidak hanya orang sekarang. Bukan karena ia artis, bukan karena pula ia selebritis. Tapi, permintaan tanda tangan itu hanya karena ingin dekat-dekat dengannya. Melihat ketampanannya.

Tapi, di dalam kisah ini, seorang gadis cantik bernama Alesia, tidak mengenal pemuda itu. Sama sekali tidak mengenal. Entah namanya. Pekerjaannya. Ayah dan ibunya. Dan kesemuanya kecuali senyum dan anggukan santun yang kadang-kadang ia lihat dari balik jendela.

Pada suatu hari yang biasa. Yaitu ketika embun-embun sudah turun. Ayam-ayam berkokok. Burung-burung berkicau dan sinar matahari yang merah kekuning-kuningan merambati pohon-pohon. Handim sedang pergi naik sepeda onthel tua. Tunggu dulu, bukan berarti ia orang miskin. Hanya saja, biasanya naik kereta kencana yang tertutup rapi. Gunanya agar para gadis-gadis tidak melihatnya. Dan berangkatnya pun sudah menjelang siang.

Kalau pagi-pagi seperti itu, suasana masih sepi dari para gadis-gadis. Barangkali saja masih tidur nyenyak memeluk lututnya masing-masing. Ia jadi lega bisa melihat daratan yang ternyata serba hijau itu. Pada saat itulah ia melihat senyuman mempesona dari balik jendela. Ia balas tersenyum yang tidak kalah mempesona.

Handim hampir tidak percaya ada seorang gadis bisa tersenyum. Setahunya, gadis-gadis yang minta tanda tangan itu tidak ada yang tersenyum. Ribut. Cuma ribut. Ngomel sana ngomel sini. Dan cemberut apabila tidak mendapatkan tanda tangan. Tapi kali ini beda. Seorang gadis bisa tersenyum. Sungguh-sungguh ini hari yang sangat istimewa, batinnya.

Baca juga: Sayap Ungu Sang Tawadlu

Sementara itu, di balik jendela, Alesia antara tersipu dan bahagia. Baru kali itu ia melihat senyum seorang pemuda yang sangat mempesona. Senyum anggun debarengi anggukan sopan santun. Biasanya cuma melihat senyum pemunda yang nyengir kuda di pos ronda. Biasanya ia cuma melihat senyum nakal bapak-bapak yang mau pergi ke ladang.

Dan mulailah, sebuah kisah dilanjut. Sebelum matahari surut. Senja hanyut. Malam dan bintang-bintang saling memagut.

Pertama-tama, Handim semakin rajin naik onthel tua. Alesia membuka jendela lebih pagi dari biasanya. Akhirnya mereka saling sapa dengan senyum. Cuma itu. Lalu, timbullah perasaan saling cinta. Sebenarnya, Alesia tidak tahu kalau Handim jatuh cinta kepadanya. Begitu pula sebaliknya. Cinta berawal dari senyuman. Pepatah lama yang telah jauh dilupakan. Bukan dari uang atau jabatan. Bukan dari kendaraan atau ketampanan dan kecantikan. Buktinya Alesia tidak tahu apa pekerjaan Handim. Hartanya seberapa kok sampai-sampai naik onthel tua. Begitu pula Handim. Ia tidak tahu Alesia itu siapa. Ia tidak tahu kalau Alesia putri orang kaya. Sebab Alesia tinggal di rumah neneknya. Neneknya yang sederhana. Lagi pula, yang ia tinggal seperti hanya di balik jendela.

Baca juga: Memorabilia Elisa dan Bonekanya

Yang jelas mereka jatuh cinta.

Kedua, Handim hari-harinya semakin gusar. Ia selalu ingin melihat senyum gadis di balik jendela itu. Maka, ketika senyum itu tiba-tiba hadir di dalam mimpinya, ia senang tak kepalang. Ya, padahal cuma mimpi. Dan mimpi itu sama dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Saling sapa dengan senyum dari kejauhan. Yang satu dari balik jendela dan yang satu dari jalanan. Tidak berpelukan, apalagi berciuman. Seperti kisah cinta dusta sekarang.

Akhirnya, Handim malah sering tidur. Dan melupakan naik onthel tua melewati jendela yang di baliknya ada gadis cantik tersenyum manis nan mempesona. Hari-hari yang dilewati hanyalah tidur dan berharap bermimpi melihat senyuman gadis itu. Parahnya, semakin senyum itu tidak ada di dalam mimpinya, ia terus tidur. Menunggu bermimpi kejadian seperti itu.

Sementara di dunia nyata, Alesia sedang menunggu pemuda itu lewat seperti pagi biasanya. Dengan senyum dan anggukan santun. Ia sungguh-sungguh telah jatuh cinta. Sampai lupa makan dan lupa apa saja. Ia percaya, pemuda itu pasti akan melewati jendelanya. Tapi, sayang sekali. Sampai tua ia menunggu di sana, pemuda yang diharapkan tidak ada lewat. Nyawanya pun telah putus asa lantas meninggalkan raganya dengan sia-sia.

Handim tetap tidur. Tetap ingin bermimpi, karena di dalam mimpi senyum gadis itu semakin cantik bak bidadari. Bahkan melebihi senyum bidadari yang paling cantik sekali pun. Tapi, sayang sekali. Kejadian itu tak pernah ia temukan. Di dalam tidurnya, ia hanya mendapati jendela dengan kusen yang sudah berkarat. Di sana tidak ada gadis berparas cantik, tidak ada senyum mempesona. Yang ada hanya rangka yang utuh walaupun sudah keropos. Sampai nyawanya putus asa menunggu ia bangun. Akhirnya pergi begitu saja meninggalkan raga yang tergeletak di ranjang mewah itu.

Begitulah. Di desa Medalem sudah ada kisah yang terlupakan. Kisah manis. Kisah romantis. Bukan seperti Adam yang rela diusir dari surga hanya demi buah khuldi untuk Hawa. Bukan seperti Romeo dan Julia yang kisah cintanya tidak direstui. Bukan juga seperti Siti Nurbaya yang dijodohkan orangtuanya. Apalagi cinta-cinta kontemporer saling berpelukan, saling ciuman di pinggir jalan, di tempat persembunyian dan lain-lain.

Kisah cinta mereka sungguhlah sederhana. Saling menunggu satu sama lain. Handim rela menampik gadis-gadis lain hanya demi gadis yang ada di balik jendela. Begitu pula Alesia, ia rela menolak lamaran pemuda-pemuda lain demi pemuda yang lewati jendelanya dengan onthel tua. Lalu, seperti dongeng-dongeng pula, cerita ini ditutup dengan kata mereka bertemu di akhirat, kemudian menikah, bardua, bahagia untuk selamanya. Selama-lamanya.

Tengah Gerimis, Bantul, November 2014

*Penulis adalah pegiat sastra Kutub Yogyakarta, Sekarang nyantri di PP Hasyim Asy’ari, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Katanya, ia menunggu kisah-kisah desa yang lain. Ini hanya nulis guyon, asal-asalan. Tidak untuk dikirim. hehe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here