Press Release: DOA LINTAS IMAN DAN REFLEKSI BENCANA ALAM DI INDONESIA

0

Oleh: Ormada DIY, Ormada Jateng, Ormada Jabar, KPMRT Tuban, IMAGE Gresik, dll.

Apabila pohon terakhir telah ditebang, ikan terakhir telah ditangkap, kita akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan” (Pepatah Indian kuno).

Jelang tutup tahun 2014, kita kembali dikejutkan dengan berita tentang Tanah longsor yang menimbun Desa Jemblung, Karangkobar, Banjarnegara pada Jumat 12 Desember 2014. Diperkirakan 108 orang tertimbun material longsor. Dan 97 korban ditemukan tewas.  Juga darurat banjir yang melanda Aceh hingga menggenangi ribuan rumah, dan menyebabkan ratusan keluarga terpaksa diungsikan. Banjir memang selalu melanda di beberapa daerah di Indonesia ketika musim hujan tiba.

Bencana memang bertubi-tubi melanda bangsa Indonesia. Semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo yang hingga kini masih melanda, gunung Sinabung dan Kelud meletus, angin badai, gempa bumi, bencana kekeringan waktu musim kemarau, pencemaran lingkungan, kebakaran hutan, polusi udara dan suara, dan masih banyak lagi. Seolah Indonesia adalah gudangnya bencana.

Ada dua faktor terjadinya bencana, pergerakan alam sendiri, dan akibat ulah manusia. Indonesia yang masuk zona cincin api selalu saja menjadikan kawasan kita rawan terjadinya gempa bumi dan gunung meletus. Tentu kita teringat sepuluh tahun silam tentang Tsunami Aceh yang menelan korban ratusan ribu jiwa. Juga letusan gunung Sinabung (Sumbar), Kelud (Jatim) dan Sangeang (NTB).

Lantas banjir langganan di berapa daerah saat musim hujan tiba, semburan lumpur, pencemaran limbah dan polusi, adalah bencana-bencana yang juga akibat ulah manusia. Tentu kita tahu massifnya pembalakan hutan, industrialisasi ekstraktif yang sangat eksploitatif dan mengabaikan dampak terhadap linngkungan sekitar, diiringin dengan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga dan merawat lingkungan sekitar. Hal tersebutlah yang turut andil besar dalam menyumbangkan bencana alam yang terus-terusan melanda.

Sementara disisi lain, kita sangat enggan untuk belajar mengantisipasi adanya bencana. Tahu-tahu semuanya geger saat bencana mendadak melanda. Sehingga pengelolaan sumbangan jadi kalangkabut, sehingga sering dijumpai sumbangan itu tak tepat sasaran. Juga kita mayoritas tidak punya kesadaran untuk merawat lingkungan, sehingga sangat mudah ditemui orang buang sampah sembarangan, tebang pohon seenaknya, dan seterusnya. Sementara pemerintah juga belum ada gelagat serius untuk menangani persoalan-persoalan langganan tersebut.

Oleh sebab itu, kami kembali turun ke jalan dengan doa bersama lintas iman “Peduli Bencana Alama Nasional” yang diselenggarakan oleh organisasi masiswa daerah (ormada) sejawa. Terdiri dari ormada DIY, ormada Jateng, ormada Jabar, KPMRT Tuban dan IMAGE Gresik. Serta melakukan refleksi dengan saling mengingatkan tentang pentingnya menjaga lingkungan sebagai langkah pencegahan, memberikan penyadaran pentingnya kita agar mawas diri dan membuat kesadaran tanggap-bencana. Sehingga tidak kalangkabut saat bencana benar-benar melanda.

Maka, dengan ini kami menghimbau untuk:

  1. Sadar lingkungan dengan menjaga alam (menanam pohon, tidak membuang sampah sembarangan, hemat energi, dll.);
  2. Tidak serakah dalam mengekploitasi sumber daya alam (tambang);
  3. Manajemen penanganan bencana, sigap bencana;
  4. Pemeritah terkait untuk merancang tata ruang yang rama lingkungan hidup;
  5. Saling mengingatkan untuk memnangun kesadaran ekologis;
  6. Bertawakkah untuk memohon perlindungan pada Tuhan yang maha kuasa.

Yogyakarta, 29 Desember 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here