Tuban dalam Pusaran Perubahan

0
Tuban dalam Pusaran Perubahan
Sumber: Pinteres

(TOR untuk Tim Penulis Buku)

Semua orang tahu, Abad 21 ini globalisasi kian menegaskan dirinya dalam berbagai bentuk; menjadikan kita sebagai bagian dari warga dunia meski kita bersembunyi dalam kamar mandi. Apalagi Indonesia pasca Reformasi 1998 juga mendewakan keterbukaan. Hasilnya jelas sekali kita mengalami banjir informasi. Pesatnya perkembangan teknologi informasi juga mampu menerabas batas-batas teritorial kita. Belum lagi pasar bebas yang kini didengungkan. Barang-barang yang kita konsumsi di meja makan, juga produk dari entah belahan dunia bagian mana. Film-film, ide-ide, berita-berita media massa, sekian aspek kebudayaan dapat dengan mudah tersaji, dan bahkan mengendalikan polafikir kita.

Tuban adalah salah satu daerah yang mau tidak mau tetap terseret oleh alur-besar itu. Tuban tidak lagi bisa sendirian dalam menentukan nasibnya sendiri. Ia dipengaruhi oleh hubungan-hubungan yang ada. Dan jika belahan dunia sana berubah, perubahan itu akan terasa di Tuban. Ya, Tuban berada dalam pusaran perubahan. Hanya saja, kemana arah perubahan itu? Tulisan kitalah yang akan menjawabnya.

Tulisan-tulisan yang akan kita susun adalah upaya merekam gerak-kenyataan yang berlangsung di daerah kita (sebagai situs), sambil memperhatikan gerak-kenyataan di tempat lain yang juga mempengaruhi gerak-kenyataan kita. Mulanya bisa menampilkan penampakan-penampakan yang ada, yang kita alami keseharian dari berbagai aspek. Lantas kita telusuri lebih dalam, apakah gerak-kenyataan yang berlangsung itu mendorong kita kearah kemajuan dan kesejahteraan bersama, atau menjerumuskan kita dalam jurang kenistaan dan kesengsaraan.

Semisal industrialisasi yang kini massif, PAD yang meningkat, atau infrastruktur yang kian baik, relijiusitas yang meninggkat seperti beralihnya citra kota Tuban dari “Kota Tuak” menjadi “Kota Wali”; apakah itu semua sudah menunjukkan peningkatan kesejahteraan kita bersama? Kenyataannya masih saja kita temui kemiskinan dan ketimpangan dimana-mana, lantas urbanisasi besar-besaran dari daerah kita menuju kota atau berduyun-duyun ke luar negeri untuk mengejar sesuap nasi jadi kuli. Apakah itu artinya daerah Tuban tak lagi mampu jadi penopang hidup warganya?

Maka, disinilah pentingnya pengenalan atas kenyataan sebagai hal yang mutlak kita lakukan. Tanpanya, seluruh langkah yang akan kita ambil, seluruh solusi yang kita tawarkan, seluruh kebijakan yang akan dijalankan, hanya akan berakhir menjerumuskan kita ke jurang. Sehingga, untuk menghindarinya, diperlukan semacam disiplin tertentu, yang mana mula-mula, sebelum menulis kita harus niatkan tulisan ini bukan untuk berlagak, tapi belajar mengenali kenyataan untuk meringankan beban yang kita tanggung bersama.

Ya, beban bersama harus kita tempatkan di posisi pertama yang harus dipikirkan untuk segera diringankan. Segala ilmu yang kita rumuskan, harus kita arahkan kesana. Sebab hanya dengan begitu, kita akan ikut andil dalam perjuangan mendirikan harkat dan martabat manusia daerah kita: Tuban yang dulu pernah jaya.

Yoh, kita laksanakan!

Redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here