Sekolah yang Tinggi Nak, Biar tidak Jadi Petani Seperti Bapak…

0
Peserta diskusi pertanian KPMRT nampak asyik menyimak penjelasan dari pemateri diskusi, di sekretariat KPMRT (2/1/15).
Peserta diskusi pertanian KPMRT nampak asyik menyimak penjelasan dari pemateri diskusi, di sekretariat KPMRT (2/1/15).
Peserta diskusi pertanian KPMRT nampak asyik menyimak penjelasan dari pemateri diskusi, di sekretariat KPMRT (2/1/15).

Itulah yang diungkapkan Naim, anggota KPMRT, dalam diskusi pertanian yang diselenggarakan oleh Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta, dengan tema “Ironi Negara Agraris: Meneropong Masa Depan Petani Indonesia” di sekretariat KPMRT (2/1/15). Hadir sebagai pemateri Tri Haryono, ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Yogyakarta, Khoirul Amir (Aktivis pertanian KPMRT), dan moderator Muhammad Ulil Arham (ketua KPMRT dua periode, 2010-2012). Sementara peserta diskusi adalah anggota KPMRT dari berbagai kampus di Yogyakarta.

Menanggapi pernyataan Naim, Tri mengatakan bahwa orang tua yang beranggapan begitu memang tidak bisa disalahkan. Sebab kenyataannya jadi petani itu sengsara. Sehingga wajar jika orang tua yang menjadi petani tak ingin anaknya seperti dirinya. Lebih baik jadi pegawai. Lebih terhormat juga di mata masyarakat.

“Bahkan saya pernah mengisi dalam seminar pertanian di Fakultas Pertanian UGM, saya Tanya siapa yang bercita-cita jadi petani? Tidak ada yang angkat tangan. Mayoritas ingin jadi pegawai. Artinya ada yang tidak beres juga dengan paradigma pendidikan kita dalam hal pertanian” ungkap Tri.

Dafit, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, membenarkan hal itu. Bahwa menjadi petani di Indonesia memang jauh dari kesejahteraan. “Tidak bisa dipungkiri, realitanya menjadi petani memang sengsara. Yang menjadi persoalan adalah mereka tidak memikirkan bagaimana menghadapi kenyataan itu, lalu bersama-sama mengubahnya. Tapi sebaliknya, malah sebisa mungkin menghindarinya,” terang Dafit.

“Begitu juga pendidikan kita, tanya saja mahasiswa pertanian, rata-rata mereka tidak bangga jadi petani. Paling-paling hanya ingin bekerja jadi penyuluh pertanian di dinas pertanian. Bagaimana bisa maju jika seperti itu terus?” tambah Dafit.

Oleh karenanya, Tri mengajak KPMRT agar ikut andil dalam perjuangan kesejahteraan petani. Menjadi petani tidak hanya butuh otot saja, tapi butuh kecerdasan. Dalam hal teknologi, atau politik pertanian. “Saat orang-orang lari dari petani, kita harus nyatakan bahwa lari tidak bakal menyelesaikan masalah. Kemiskinan di desa akan makin membiak. Kita harus perjuangkan itu. Siapa lagi kalau bukan kita?” tantangnya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here