Muhahammad dan Penghapusan Perbudakan

0
Perbudakan
Lukisan Karya Affandi : Jatayu (Eagle)

Tubanjogja.org, Penghapusan Perbudakan

Penghapusan Perbudakan
Lukisan Karya Affandi : Jatayu (Eagle)

(Refleksi Peringantan Maulid Nabi Muhammad SAW)

 

Telah dilahirkan seorang putra pada tanggal 12 Robiul awal Tahun Gajah, dengan nama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib. Dari suku Qurays, yang ditinggal mati bapaknya ketika ia masih dalam kandungan, kemudian ibunya meninggal saat usianya masih 6 tahun. Ia diasuh oleh kakeknya, berlanjud diasuh oleh pamanya Abu Tholib sampai dewasa. Pada usia 25 tahun ia menikahi janda kaya, Siti Khodijah namanya. Suatu ketika, ia mengalami gejolak batin, dan memutuskan untuk mengasingkan diri ke gua Hiro. Dalam pengasingan, datang kepadanya malaikat Jibril, pembawa wahya dari Allah, Muhammad diangkat sebagai seorang Nabi dan Rosul.

Muhammad di utus untuk menyampaikan perintah Allah dan memperbaiki umat manusia, terutama masyarakat di jazirah arab yang pada waktu itu mengalami abad kegelapan, jahiliyah. Masyarakat arab, mengalami pembodohan, penindasan, ketidakadilan dan perbudakan yang dilanggengkan oleh sistem sosial. Banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari penghinaan, cacian dan ancaman pembunuhan. Namun Muhammad tidak gentar, kukuh mempertahankan keyakinan dan perjuangannya. Sampai ajaran islam Rahmatan Lil Alamin bisa diterima dan menyebar keseluruh jazirah arab.

Baca Juga : Deklarasi Kematian Indonesia

Demikian tadi, riwayat singkat nabi Muhammad SAW dalam menegakkan islam dan perjuangan revolusioner merubah sistem sosial masyarakat. Dimana salah satunya adalah penghapusan perbudakan yang melanda umat manusia pada waktu itu. Perbudakan adalah merupakan penghapusan hak dasar sebagai manusia yang merdeka. Manusia diperjual belikan, diperkejakan sebagaimana hewan, tidak punya power-akses dalam menentukan nasibnya sendiri. Hanya pemilik budaklah yang menentukan nasib para budak, jika ada budak yang tidak patuh, sang tuan boleh dan bisa menyiksa para budak. Hal tersebut, sah dan dilegitimasi sistem sosial masyarakat ketika itu. Sebagaiman hukum rimba, mereka yang kuat yang berkuasa.

Melihat kondisi yang tidak manusiawi tersebut, Muhammad atas perintah Allah, mulai merubah sistem masyarakat arab. Menghimbau kepada para pengikutnya untuk memerdekakan budak-budak yang dipelihara para tuan. Melalui ajaran islam, bersumber dari Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya. Beberapa ayat Al-Qur’an yang mendorong umat islam untuk menghapuskan perbudakan, diantara:

….dan barang siapa membunuh seorang mu’min karena tersalah ia memerdekan hamba sahaya yang beriman… (QS An-Nisa: 92)

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud, tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekan seorang budak… (QS Al-Maidah: 89)

Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka hendaklah memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur….(QS Al-Mujadilah: 3)

Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Taukah kamu jalan yang mendaki lagi sukar itu? Melepaskan budak dari perbudakan…(QS Al-Balad: 10-13)

Dalam hukum Al-Qur’an yang lain, seorang budak juga diperbolehkan memerdekakan dirinya melalui dicicil, ataupun dari zakat yang diberikan kepa mereka. Hal tersebut, sebagaiman yang tertuang dalam Al-Qur’an, QS An-Nur: 33 dan QS At-Taubah: 60.

Baca Juga : Tri Haryono: Petani Indonesia Jauh Dari Sejahtera

Dari beberapa ayat Al-Qur’am di atas, jelas islam yang diajarkan Muhammad, sangat anti terhadap perbudakan. Maka, sebagai kaum Muhammad, tentu kita wajib melaksanakan ajaran dan sunnahnya, untuk melawan segala bentuk perbudakan yang menindas.

Sebab, sebagai seorang muslim baik, kita tidak dianjurkan hanya melakukan ubudiah kepada Allah SWT, saja. Tetapi juga menjaga dan melestarikan lingkungan hablum minal alam. Menjaga hubungan baik sesama manusia hablum minan nas dengan memanusiakan manusia lain, tanpa menindas dan memperbudak satu dengan lainya.

Re-Interpretasi Perbudakan

Dalam era ini, perbudakan sebagaimana yang terjadi pada masa Jahiliyah tentu sudah tidak terjadi. Akan tetapi, perbudakan dalam pengertian lain, harus kita cermati adanya. Dimana ensensi dari perbudakan adalah hilangnya hak dasar, penindasan, eksploitasi, kesenjangan, penjajahan, pemiskinan dan pembodohan yang dilanggengkan oleh sistem sosial, dengan adanya dimonopoli dan didominasi oleh segelintir orang atau kelompok tertentu-sebagaimana masa Jahiliyah-. Sebagai contoh: adalah sistem yang dibentuk oleh kapitalisme-liberalisme.

Arus kapitalisme yang berselingkuh dengan pemerintah, melalui sistem liberalisasi perdagangan dan investasi, faktanya tidak pernah berpihak pada rakyat, seperti yang di kampanyekan selama ini. Modal yang masuk dan melahirkan industrialisasi ekstraktif, justru dalam porsi tertentu menghilangkan hak dasar rakyat setempat. Contohnya, rencana pembangunan pabrik semen di Rembang, harus menggusur lahan pertanian masyarakat setempat.

Jika rencana tersebut terealisasi, konsekuensinya adalah hilangnya lahan pertanian produktif yang menjadi sumber mata pencarian rakyat. Ketika rakyat menolak dan melawan, mereka malah mendapat tindakan kekerasan oleh aparatur pemerintah, digusur dan dikriminalisasi. Sementara keberadaan industri ekstraktif yang ada, tidak memberi manfaat. Inilah yang terjadi di Tuban, rakyat terpinggir dan tetap miskin.

Kesejahteraan yang dijanjikan, hanya sebatas mimpi manis. Lapangan pekerjaan tidak pernah bisa diakses masyarakat setempat, dengan alasan Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum memadai. Sedang, tidak ada upaya yang serius dari pemerintah dan perusahaan terkait untuk meningkat SDM masyarakat, guna mendapat pekerjaan yang layak . Sehingga, walaupun toh ada yang diterima sebagai tenaga kerja, kebanyakan masih terbatas pada tenaga buruh kasar.

Menjadi buruh itu bukan pilihan. Tidak tersedianya lahan pertanian akibat penggusuran karena alih fungsi lahan, Adalah penyebab konvensi petani menjadi buruh pabrik. Sedangkan, pertanian yang dijalani dengan sistem saat ini, juga melahirkan kesengsaraan dan penindasan bagi petani gurem. (baca: Ironi Negeri Agraris Meneropong Masa Depan Petani Indonesia).

Dari persoalan diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa secara esensial, perbudakan yang dulu dilawan oleh Nabi, ternyata kini masih juga berlangsung dalam bentuk yang berbeda. Persamaannya terletak pada sama-sama ada sistem sosial yang eksploitatif, mengorbankan dan merampas hak-hak rakyat bawah. Perbedaannya hanya kalau zaman dulu perbudakan yang ada itu vulgar, seperti kepemilikan jiwa-raga, kalau sekarang lebih pada keterbatasan-keterbatasan dan keterpaksaan yang dialami kalangan kelas bawah dalam mengakses kesejahteraan.

Baca Juga : KPMRT Diskusi Pertanian

Keterpaksaan dan keterbatasan yang terjadi, seolah berlangsung alamiyah tanpa disengaja. Namun, ketika sistem disepakati, atau tepatnya dipaksa untuk disepakati, tentu perbudakan rakyat akan terjadi, rakyat mengalami keterasingan/alineasi atas hak dasarnya (sumberdaya kekayaan alam dan alat produksi).

Belajar dari Perjuangan Nabi

Nabi yang tahu betul penindasan yang berlangsung dalam masyarakatnya dengan sistem jahilyah itu, kemudian mengambil sikap untuk merombaknya. Perombakan atas sistem sosial tidak bisa dilakukan sendirian, sehingga Nabi mengajak para sahabat untuk bersama-sama melakukan penyadaran massa, dan melakukan transformasi sosial menuju masarakat yang manusiawi.

Dalam Alqur’an diterangkan bahwa “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai ia merubah sendiri nasibnya.” Logika yang dipakai adalah “kaum” bukan “ahad/individu”. Artinya, sistem sosial hanya bisa dirubah jika dilakukan bersama-sama.

Meneladani Nabi, tentu bukan hanya sebatas meneladaninya dalam dimensi ubudiyah belaka (maksudnya hablun minallah). Tapi dalam dimensi sosial, kita juga dituntut untuk melakukan suatu gerakan transformasi sosial seperti yang dicontohkan Nabi.

Strategi perlawanan total atas penindasan yang dilakukan Nabi tentu dengan berbagai cara. Mulai yang paling soft, seperti dakwah, pendidikan dan diplomasi, sampai pada peperangan. Begitu juga kita, sebagai umatnya, jika benar-benar ingin meneladani Nabi, seharusnya berbagai macam cara dicobakan demi melawan penindasan yang kini sedang berlangsung. Bisa dengan propaganda untuk mengenali kenyataan masyarakat kita yang menindas, ideologisasi, diskusi, mengorganisir massa, dan sebagainya.

Hanya dengan begitulah agama yang kita anut tidak menjadi candu. [Mbah Takrib]

 

Baca Juga Hal Menarik Lainnya : Di Fanspage Kami

Wa Allahu ‘alamu bi al-Shawab-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here