Kampretisme (Filosofi Manusia Goa)

8
Kampretisme I
Lukisan Affandi : Potret Diri & Topeng-topeng Kehidupan (Kampretisme I)

Tubanjogja.org, Kampretisme I

Kampretisme I
Lukisan Affandi : Potret Diri &Topeng-topeng Kehidupan (Kampretisme I)

Oleh: Joko Dalem*

/i/

Kampret tak pernah bangun pagi. Seperti nenek-moyangnya (kelelawar, kalong, codot, vampir), Kampret ditakdirkan buta saat datang matahari. Baginya, cahaya matahari adalah neraka!

Kampret hanya akan bangun saat senja tiba, alias saat dunia mulai gelap. Dalam kegelapan, Kampret mulai ramai-ramai beraksi, sebab segalanya malah terasa nyata. Karenanya, gelap adalah surga!

Nenek-moyang Kampret mayoritas berdomisili di goa. Ya, goa adalah tempat paling gelap. Sementara Kampret yang bisa tinggal dimana saja disebut Kampret fleksibel, dan yang tak mau tinggal di goa, disebut Kampret Rebel. Tapi kebanyakan Kampret masih ikut tradisi nenek-moyangnya. Mungkin semacam local wisdom dalam dunianya. Bahwa dengan tetap tinggal di goa, mereka bisa menemukan kedamaian, atau mencipta kebijaksanaan dan peradaban!

Itu kampret dalam dunia fauna.

/ii/

Baca juga Artikel Terkait : Kampretisme II (Meninjau Manusia Goa)

Kampret disini sekarang akan jadi suatu jenis filsafat. Sebagaimana filsafat sejarah, filsafat politik, etika, atau jenis filsafat lain, tentu filsafat Kampret juga punya disiplin tersendiri. Dan sebab orang-orang masih saja gandrung dengan isme-isme, maka biar mudah diterinya, Kampret juga menyandang isme. Jadilah Kampretisme.

Mengenai keberadaannya, Kampretisme sesungguhnya sudah melekat dalam keseharian hidup manusia sejak masih tinggal di goa. Hanya saja, keberadaannya kini nyaris lenyap, atau tidak dianggap. Ada tabir yang menyelimutinya. Nabi kiri menyebutnya kesadaran palsu.

Dalam ekspresi linguistik warga Tuban, Kampret sesekali memang sempat muncul. Seperti saat Ikhsan Kholid (petani) marah sebab sawahnya terancam pabrik semen, maka ia bilang “pabrik iki kampret tenan! (pabrik ini memang kampret!)”. Atau saat Dafit (pujangga asal Montong, Tuban), sedang khusyu’ ngopi di Blandongan, tiba-tiba ada cewek cantik lewat, ia bilang “Kampret! Ayune cuuah! (Kampret! Cantik banget sih!)”. Mahasiswa-mahasiswa Tuban di Jogja, juga turut andil dalam memunculkan kembali Kampretisme dengan mendirikan organisasi yang bernama KPMRT. Mungkin Kampret memang mengakar di alam bawahsadar mereka.

Dari kemunculan-kemunculan Kampret yang sifatnya sporadis itulah kemudian Kampretisme hendak disusun. Dan, taukah saudara, alangkah sukar menyusunnya. Lebih sukar dibanding merekonstruksi filsafat Yunani yang pernah tenggelam. Bayangkan, tidak ada buku, manuskrip, catatan musafir, atau benda-benda arkhaik lain yang bisa dijadikan pijakan referensi. Jadi kita harus dengan susah payah menyelami alam bawah-sadar banyak orang untuk kemudian kita munculkan ke permukaan, dan menyingkirkan segenap kesadaran palsu yang menjadi tabir.

/iii/

Baca juga Artikel Terkait : Kampretis Ngacoisme

Pada mulanya adalah suwung, kosong. Lalu ada pancaran. Jadilah yang terang adalah terang, yang gelap adalah gelap.

Dalam terang, benda-benda mudah dikenali. Bahwa kodok bentuknya begini, ular begitu. Bumi bentuknya begini (bulat, atau datar), langit begitu. Kemerdekaan begini, penindasan begitu.

Namun, lama-lama orang mulai mempertanyakan, ketika banyak petani hidup sengsara sehingga berbondong-bondong pertanian ditinggalkan, atau ketika banyak buruh yang kerja mandi peluh tapi bergaji rendah dan terancam dipecat. Padahal negara kita katanya sudah merdeka sejak tahun 1945. Apakah ini namanya kemerdekaan? Mendadak yang terang kemudian gelap seketika. Dan kita meraba-raba, mencari-cari apa sesungguhnya kenyataan itu?

Dalam urusan kegelapan beginilah Kampretisme diperlukan. Ia adalah radar yang dipancarkan untuk mengenali sekeliling, dan menjadi alat untuk melangkah. Agar tak kejedot tembok, agar mampu mengetahui mana buah yang masak dan yang masih muda. Tepatnya, ia bisa dijadikan pisau analisa untuk mengenali arus kenyataan dalam gelapnya penampakan.

/iv/

Baca juga Artikel Terkait : Berhenti Berspekulasi: Jadilah Batman

Dalam terang, kita bisa dengan mudah melihat penampakan. Tapi banyak sekali penampakan adalah kebalikan dari kenyataan. Disinilah kita sering tertipu. Apa yang seolah-olah nyata sebab dengan jelas nampak, atau mampu tertangkap indera, ternyata hanya kebalikannya. Seperti halnya dalam masyarakat, peringatan kemerdekaan agustusan, mantra-mantra Pancasila dan UUD 1945, juga janji-janji kesejahteraan bersama, ternyata hanya tampang, hanya kepalsuan.

Dan ketika kita mengira penampakan adalah kenyataan, maka yang terjadi adalah seperti saat ini. Dimana kita tak mampu keluar dari situasi yang memenjara dan menyengsarakan. Ya ya, bukan khayalan ketika dibilang bahwa kekayaan alam kita mulai habis, korupsi merajalela, pengangguran membiak, kemelaratan dimana-mana. Padahal pertumbuhan ekonomi kita cukup stabil. Padahal kebebasan berpendapat dilindungi hukum. Padahal pemilu dilaksanakan setiap lima tahun dengan demokratis. Maka, apa sesungguhnya masalah bangsa ini?

Kampretisme bukan hendak menjawab itu. Ia hanya hendak menjadi jari petunjuk bahwa sesuatu itu adalah rembulan, tapi jari yang menunjuk tentu bukan rembulan. Itu hukum pertama.

Kedua, mengimplementasikan Kampretisme adalah dengan menuruti disiplin dalam penjenjangan untuk menemukan suatu jawaban. Harus bertahap, dan tidak boleh loncat, kecuali ingin menemui kegagalan.

Ketiga, jawaban yang nanti ditemukan, harus diletakkan sebagai sesuatu yang bergerak, tak mutlak. Selalu ada ruang untuk mendiskusikan kembali.

Keempat, tidak membedakan sumber-sumber informasi, atau mengkastakan. Buku-buku yang ditulis oleh professor dengan prosedur ilmiah, tidak lebih benar dari ucapan petani desa yang tidak sekolah.

Keempat, caranya bukan mengkonsepkan terlebih dahulu atas sesuatu, atau mendefinisikannya, tapi definisi hanya bisa kita temui diakhir setelah kita melalui penjelajahan. Dan pengetahuan hanya akan bisa benar-benar menjadi pengetahuan jika kita turut andil dalam menentukan arahnya, sehingga menjadikan pengetahuan itu turut mengarahkan kita pada struktur sosial yang semakin manusiawi.

Itulah Kampretisme. Sejenis filsafat yang coba bangkit dengan susah payah. Agar radar kita kian tajam mengenali kenyataan dalam gelapnya penampakan yang penuh kepalsuan. (Kampretisme I)

Baca juga Hal Menarik Lainnya : Di Fanspage Kami

Blandongan, 6 Januari 2015

*Penulis ”Kampretisme I” adalah aktivis Kampret. Nitip lahir di Tuban.

8 KOMENTAR

  1. ini ide cerdas dan sbenernya gak main2. cuma penulis terjebak dg kerumitan teori dan ksulitan mcari jalan kluar. saran saya coba baca strukturalisme saussure. mungkin ada pencerahan dsana. trims.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here