Meninjau Masyarakat Komunis Menurut Karl Marx

0
Masyarakat Komunis

Tubanjogja.org, Komunis

 

Komunis
Masyarakat Komunis

Oleh: Ipoenk

Salah satu dari banyak hal yang tanpa kita sadari sering mengikat seseorang dalam pergerakannya adalah wacana. Ketika wacana berbicara A, seakan itulah yang normal. Sedangkan yang lain tidak normal. Seolah, normal tidaknya sesuatu itu tergantung pada wacana yang berkembang dalam suatu masyarakat tertentu. Kasus semacam ini juga sering disebut sebagai Grand Naratif. Dan sebagai salah satu contoh yang mengakar di Indonesia terkait ini adalah komunisme.

Selama ini, konsep komunisme sering dicampuradukkan dengan dengan atheisme. Atheisme adalah paham yang tidak mempercayai adanya Tuhan. Sedangkan komunis—dalam konsep Marx—merupakan salah satu tahapan masyarakat setelah sosialis. Namun, meskipun demikian, tetap saja komunis sering disamakan dengan anti Tuhan. Peristiwa berdarah dalam sejarah Rusia oleh Lenin—yang mengatasnamakan komunis—dan tragedi sadis G/30/S/PKI di Indonesia yang telah membantai banyak nyawa merupakan beberapa sebab mengapa komunis dipandang sebagai gerakan anti Tuhan. Perilaku yang sama sekali tidak mencerminkan perikemanusiaan tersebut dipahami sebagai wujud dari ketidakpercayaan mereka akan Tuhan. Sehingga gerakan yang mengatasnamakan komunis selalu dinilai sebagai paham anti Tuhan.

Baca Juga Artikel Terkait : Hantu Itu Masih Bernama Komunisme

Akan tetapi, sedikit mengintip sejarah—dalam konsep Marx—komunisme bukanlah yang sedemikian itu. Komunisme dimasukkan dalam fase perkembangan masyarakat. Selain itu, komunisme juga kerap sebagai fase perkembangan masyarakat, itu juga kerap disebut sebagai sosialisme Marx. Menurut Karl Marx, sebelum masyarakat itu menjadi masyarakat yang sosialis—untuk tidak mengatakan komunis—mereka telah melewati beberapa tahapan, antara lain: Komunisme primitif, Perbudakan, Feodalisme, Kapitalisme, Sosialisme, dan Komunisme.

Adapun untuk yang pertama, komunisme primitif, adalah fase tempat manusia belum mengenal kepemilikan pribadi. Semua barang dan harta yang ada merupakan milik bersama. Ketika seseorang menginginkan beras, dia tinggal mengambil dari tetangganya yang memiliki beras dan seandainya si tetangga menginginkan sesuatu dari seseorang tadi, maka tinggal mengambil saja darinya. Secara praktek, masyarakat fase ini menggunakan sistem barter atau transaksi tukar menukar barang dalam menjalani kehidupannya. Fase masyarakat awal ini telah benar-benar ada di masa lalu ketika kepemilikan pribadi belum dikenal. Oleh karenanya, fase ini disebut sebagai komunisme primitif.

Selanjutnya, di fase kedua masyarakat sudah mengenal kepemilikan pribadi. Atau dengan ucapan lain, mereka sudah merasakan nikmatnya memiliki sesuatu. Di fase ini sudah muncul istilah budak sehingga sebagai konsekuensinya pasti ada pemilik budak. Dan oleh sebab itu, fase ini disebut sebagai fase perbudakan, fase tempat masyarakat sudah merasakan nikmatnya memiliki suatu barang, budak.

Baca Juga Artikel Terkait : Mengenang G30S

Ketiga, dari kesadaran kepemilikan yang telah ada sebelumnya, hal itu memicu lahirnya stratafikasi dalam masyarakat. Di fase ini sudah muncul katagori-katagori seperti priyayi, abangan, dan sebagainya. Disusul pula dengan semakin banyaknya kerajaan dan dinasti yang begitu mendominasi masyarakat. Seakan merekalah satu-satunya yang berhak mengatur masyarakat yang berada di bawahnya. Mereka menggunakan kewenangan yang dibuat-buat sendiri secara sewena-wena dan banyak merugikan masyarakat. Pada akhirnya, fase ini dibuang dan begitu dibenci masyarakat—karena dominasinya yang mencengkeram—hingga melahikan fase berikutnya. Fase ketiga ini disebut sebagai fase  feodalisme.

Keempat, fase kapitalis. Adalah fase tempat sebagian kecil dari masyarakat memonopoli hak milik. Suatu barang yang sebenarnya adalah milik bersama, diambil alih menjadi miliknya karena hanya dialah yang memiliki peralatan untuk mengolah dan memproduksi barang tadi. Di fase ini, masyarakat tidak memiliki daya untuk menolak, mereka tidak memiliki alat produksi. Masalah pegunungan kapur misalnya, sebenarnya pegunungan kapur beserta kandungan air dan keindahannya adalah milik bersama, namun karena ada segelentir orang yang memiliki peralatan untuk mengolahnya menjadi semen, sedangkan masyarakat lainnya tidak memiliki, maka seakan pegunungan kapur tadi hanyalah milik segelintir orang tadi. Selanjutnya, di atas pegunungan kapur tadi dibangun pabrik semen yang besar dan megah. Masyarakat berbondong-bondong mengirimkan lamaran ke pabrik tersebut dan menjadi karyawan atau bahkan pekerja kontrak kasaran. Mereka menjadi karyawan bukan pemilik. Pegunungan kapur yang sebelumnya tadi adalah milik semua masyarakat—disebabkan adanya praktek kapitalisme—sekarang menjadi milik segelintir orang saja, masyarakat hanya menjadi karyawan, karyawan di tanah sendiri.

Baca Juga Artikel Terkait : Hantu-Hantu Sepanjang Rezim Silih Berganti

Kelima, adalah fase tempat masyarakat hidup bersama. Mereka hidup bersama dibawah aturan-aturan pemerintahan yang dipandang bisa membantu mereka untuk hidup gotong royong. Mereka mulai sadar pentingnya kebersamaan dan menentang kapitalis. Akan tetapi, itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Meski sudah ada peraturan pemerintah, tetap saja praktek kapitalisme berkembang bahkan itu dibawah perlindungan pemerintahan yang terselebung. Wewenang pemerintahan banyak digunakan sewena-wena untuk membodohi masyarakat. Di fase ini marak hegemoni yang membius masyarakat pada umumnya, termasuk hegemoni agama. Sehingga, bagi Marx meski sudah mencapai fase masyarakat sosialis tempat masyarakat memiliki suara untuk turut mengtur negara, tetap saja ini belum cukup. Marx menginginkan fase masyarakat yang lebih dari ini, walapapun harus kembali pada fase primitif.

Dan akhirnya, muncul di benak Marx fase komunisme, fase keenam. Melalui konsep ini, Marx menginginkan masyarakat kembali pada fase komunisme primitif. Sebab hanya dengan fase tanpa kepemilikan, manusia bisa hidup damai, bersama-sama, tanpa rebutan, tanpa dominasi, tanpa melukai, dan sebagainya. Saat petani membutuhkan semen untuk membangun rumah, dia hanya butuh mengambil dari pemiliki semen dan saat pemilik semen lapar, dia tinggal mengambil beras di petani. Begitulah, masyarakat kembali hidup tanpa kenal kepemilikan. Namun, konsep terakhir Marx ini adalah konsep dunia utopis. Hal semacam itu tidak bisa terjadi dan tidak mungkin terjadi. Itu hanyalah mimpi Marx yang telah terbius dengan agama ciptaannya sendiri.  Kalaupun itu terjadi, sepertinya masyarakat tidak lagi membutuhkan surga. Dunia utopis itulah komunisme.

Itulah sedikit penjelasan tentang komunisme yang digagas Karl Marx. Dan sepertinya hal itu jauh berbeda dengan pemahaman atheisme. Apalagi pemahaman yang menyamakan keduanya. Komunisme hanyalah konsep dunia utopisnya Karl Mark.

Baca Juga Hal Menarik Lainnya : Di Fanspage Kami

BldOenk, 090115

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here