Langit Eden (Bagian II)

1
Ilustrasi diambil dari http://childrenschapel.org/biblestories/firstman.html

tubanjogja.org – Adam

Adam
Ilustrasi diambil dari http://childrenschapel.org/biblestories/firstman.html

Baca cerita sebelumnya: Lengit Eden I; Hawa Digoda Iblis

Oleh: Joko Dalem*

Adam sampai di rumah. Ia kaget. Pintu rumahnya terbuka, tak seperti biasanya. Dan tak ditemui kekasihnya, Hawa, yang biasa menyambutnya saat ia pulang dari berkelana. Dipanggil-panggilnya Hawa berkali-kali, tak ada jawaban. Dicarinya kesana-kemari, ke sumur, ke kasur, ke dapur. Hanya sunyi yang meluncur.

Ia bingung. Termenung. Padahal ia bawakan sesuatu yang spesial untuknya. Kado ulang tahun. Dan ia tak tahu harus mencarinya kemana.

Tiba-tiba, dilihatnya Iblis sekelebat dari pintu belakang rumah. Ia curiga Iblis telah merayunya, menculiknya, memperkosanya. Ia tahu selama ini Iblis diam-diam menguntiti Hawa. Mungkin ia naksir. Ah, ia jadi khawatir.

Buru-buru ia keluar, mencari makhluk licik itu. Dan benar, Iblis muncul dari balik pohon.

“Kau apakan Hawa? Kemana dia sekarang?” Adam bertanya, membentak.

Iblis tertawa. Dan dengan santai, Iblis cerita tentang apa yang terjadi. Juga tentang kekecewaan Hawa pada Adam.

“Kalau kau memang mencintai Hawa, susullah dia. Di pohon buah terlarang itu! Hahaha…”

***

Adam sampai pada pohon buah terlarang itu. Pasti Hawa telah memakan buah itu, pikirnya. Ia tahu, Hawa orangnya nekat. Kadang kehilangan kendali saat emosi.

Ia hendak memetiknya, tapi ragu. Selama ini belum pernah ia menerjang larangan Tuhan. Apalagi diantara makluk lain, ia adalah makhluk paling mulia. Apa kata dunia jika makhluk paling mulia mendapat murka. Alangkah jatuh derajatnya.

Tapi cintanya pada Hawa terlanjur mendalam. Ia tak mungkin membiarkan Hawa sendiri mendapat hukuman Tuhan. Apalagi pelanggaran Hawa adalah akibat dari ulahnya. Maka, dipetiklah buah itu. Dan dimakannya sambil mengucap sumpah.

“Tuhan, jika memang hanya dengan ini aku menemukan kembali kekasihku, aku minta maaf sebab telah melanggar laranganmu. Hukum aku, renggut saja aku dari surgamu. Tapi pertemukan aku dengan kekasihku. Sebab aku sudah menemukan surga lain dari diri kekasihku. Bagiku, tinggal di luar surga dengan cinta itu lebih baik daripada tinggal di surga tanpa cinta,” sumpahnya menggoncang jagad surga.

Dan Adam pun terlempar.

***

Adam menemukan dirinya tergeletak di hutan. Ia sadari sekelilingnya. Segalanya nampak berbeda dengan apa-apa yang di surga. Ah, apakah ini yang namanya bumi? Ya ya, ini pasti bumi.

Ia bangkit, tapi tak tahu kemana harus berjalan. Hawa, engkau dimana? Dimana Hawa? Begitu raungnya di hatinya. Rindunya menggelora.

Ia langkahkan kakinya. Tapi harus kemana? Ia tak punya peta, tak punya kompas penunjuk arah, tak punya panduan kemana mencari kekasihnya. Satu-satunya pegangan yang ia punya hanya cinta.

Hari terus berganti. Puluhan gunung ia daki. Beragam lautan ia seberangi. Dan ia tak putus asa. Tak pernah putus asa. Dan ia tahu, hanya asa yang membuat ia terus bertahan. Hanya asa bahwa cinta itu ada.

***

Di tempat terpencil, Iblis kembali menyusun strategi, memperjuangkan cintanya yang tak sampai.

Baca juga: Perahu Kan’an

Blandongan, 10 Januari 2015

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here