Pikun

0
Pikun

Tubanjogja.org, Pikun

Pikun
Pikun

Oleh: Mbah Takrib*

/I/

Hari sudah pagi, seperti biasanya, bubur dan segelas air hangat sudah ada di meja. Aku lupa tepatnya, sejak kapan kebiasaan seperti ini dimulai setiap pagi. Tapi yang jelas, sejak sepeninggal Zulaihah beberapa tahun silam, anak-anak menjadi lebih perhatian, mereka bergantian mengantar sarapan. Apalagi kini tubuhku tak sekuat dulu, usiaku semakin menua, dengan berbagai penyakit manusia usia lanjut pada umumnya. Sel-sel di tubuh perlahan mulai mati, keriput, nyeri tulang, pandangan semakin kabur dan pendengaran sudah tidak jelas.

Bahkan, aku seringkali lupa, aktivitas yang kulakukan setiap harinya. Hingga aku tersadar ketika Aminah menegurku, mengingatkan bahwa ini dan itu adalah hal-hal yang sudah kulalukan beberapa jam sebelumnya. Aminah sempat marah, ketika ku ambil sapu dan ku sapu rumahnya. Katanya, aku justru mengotori lantai yang berlapis keramik tersebut, sebab lupa melepas sandalku. Hari itu, ia bilang aku sudah lebih tiga kali menyapu dan ia capek setiap kali aku menyapu ia harus menyapu ulang untuk membersihkan sisa kotoran sapuanku.

Sejak Istriku Zulihah meninggal, hari-hari terasa sepi, waktu berlalu lebih lama. Herman, teman yang biasanya datang ke rumah untuk bercukur atau bercerita kenangan semasa kami sekolah dulu, seminggu lalu telah di kebumikan di usia 87 tahun. Sekarang, tidak banyak yang bisa kulakukan, selain berusaha melakukan aktivitas semampuku, di rumah Aminah, anak bungsu yang mengasuhku. Aktivitas-aktivitas itu, hanya untuk membunuh kebosanan, karena seringkali aku hanya berdiam diri, duduk termenung di kursi atau menulis catatan.

/II/

Baca Juga : Awal Sebuah Akhir (Bagian I)

Pagi ini, setalah kuhabiskan sarapan yang dihidangkan Aminah, aku merasa lebih bersemangat. Tidak semestinya aku hanya duduk berdiam diri, di hari-hari terahir sisa hidupku. Mungkin, aku perlu berolahraga ringan, sekedar membendung percepatan kematian sel-sel tubuh-pikirku. Ah, sudah kuputuskan, pagi ini, aku harus beranjak dari kursi dan tempat makanku. Aku akan berkeliling rumah, mencabut rumput liar dan bersih-bersih rumah Aminah.

Seperti biasa, hari ini aku sendirian, rumah sudah sepi sejak pukul 8 pagi tadi. Setiap hari, Aminah pergi ke pasar membantu suaminya di toko, anak-anaknya berangkat sekolah. Walaupun, kadang Aminah menegurku, atas kesalahan-kesalahanku, sebenarnya ia adalah anak yang baik dan berbakti. Ia tak pernah lupa menyediakan makan, merawat dan menjagaku.

Aku sadar, sebab kondisi tubuh, tak banyak aktivitas yang bisa kuperbuat untuk membantu kegiatan rumah tangga di keluarga Aminah. Tapi aktivitas pagi ini cukup membuatku lelah. Hah, mungkin sudah saatnya istirahat. Rumput di halaman sudat kucabut, rumahpun sudah bersih kusapu. Selanjutnya, aku kembali ketempat tidurku dan merebahkan badan, ku ucap syukur atas nikamat Tuhan.

 /III/

Hari menjelang sore, rumah sudah rame, Aminah dan anak-anaknya sudah pulang. Mungkin karena itu, aku terbangun, perut juga terasa lapar. Aku, menuju kursi dan meja makanku, kulihat bungkusan soto lontong seperti biasanya, oleh-oleh Aminah dari pasar.

Di sela kulahap makan siangku, Aminah datang menghapiriku. Ia duduk di sampingku, menunggu dan melihatku makan, hal yang tak asing bagiku. Terasa Aminah begini setiap hari. Setelah kuhabiskan makanku, dengan nada pelan aminah berkata kepadaku.

“Bapak, Bapak istirahat saja di rumah, tidak usah mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Bapak tidak usah nyapu, sebab, setiap Bapak menyapu, bapak selalu lupa melepas sandal, lantai yang Aminah sapu tadi pagi, menjadi kotor dan Aminah harus nyapu lagi setelah pulang dari pasar, seperti tadi.”

Baca Juga : Kematian Yang Tertunda

Mendengar perkataan Aminah, aku merasa bersalah, aku ceroboh. Harusnya aku tidak lupa melepas sandal, aku menyesal ternyata apa yang kulakukan menjadi sia-sia bagi Aminah. Justru aku menambah bebannnya seusai bekerja dari pasar. Kusampaikan pada Aminah: “maafkan bapak Aminah, esok tak akan bapak ulangi, akan kucatat kejadian hari ini dan esok ku baca, agar bapak tidak lupa”. Harusnya tadi pagi aku tidak lupa membaca buku harianku yang kutulis kemaren.

Setelah kejadian itu, ku ambil buku catatan harianku. Kutulis cerita hari ini, tentang kejadian konyol dan penyakit manula yang melandaku, lemah ingatan. Kuingat-ingat dan kutulis, mulai dari bagun pagi, tentang sarapan, anak-anak yang perhatian, kenanganku tentang hari kemaren, hari-hari yang sepi, tentang Aminah yang kesal setiap hari, si Herman kawan baik yang baru saja meninggal minggu lalu, dan tentu, juga tentang kenanganku mengingatmu di setiap pagi, Zulaihah.

Lengkap sudah, catatakan hari ini. Terasa hari semakin petang saat selesai kutilis paragraf terahir. Kusimpan bukuku di samping bantal. Aku duduk sejenak dan merenung. Semoga besok aku tak seceroboh hari ini, semoga besok aku ingat untuk membaca buku harianku. Supaya, aku tak mengulang kejadian yang sama setiap harinya. Hah..mataku terasa lelah, sepertinya aku mulai mengantuk, sudah saatnya tidur, ku ucap syukur pada Tuhan untuk hari ini dan kusandarkan harapan untuk besok. Amiin.

/IV/

Aku bagun, hari telah berganti pagi, semangkuk bubur dan segelas air hangat mengawali pagi ini. Selalu ada hal yang aneh setiap aku bangun pagi. Mimpi-mimpi semalam, terasa sangat rumit, Zulihah hadir dalam mimpiku, juga kenangan masa kecil. Rasanya sudah cukup lama Zuliahah meninggalkanku, aku lupa kapan tepatnya. Sejak saat itu, hari-hari menjadi sepi, apalagi Herman kawan baik yang biasanya berkunjung untuk bercukur atau sekedar bercerita tentang masa kecil kami, telah di kebumikan seminggu yang lalu di usia 87 tahun.

Ah, sudahlah, rasanya capek aku mengingat tentang mimpi malam tadi. Di sisa usiaku ini, seharusnya aku melakukan aktivitas yang menyehatkan dan bermanfaat. Berolahraga keliling rumah, mencabut rumput dan menyapu, mungkin akan menghilangkan kebosananku. Aminah juga pasti akan senang ketika pulang nanti, rumahnya nampak lebih bersih. (Pikun)

Baca Juga Hal Menarik Lainnya : Di Fanspage Kami

*Penulis ”Pikun” adalah cerpenis yang sedang dalam masa pertumbuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here