Awal Sebuah Akhir (Bagian I)

Oleh: Mbah Takrib*

Terdengar kabar, kadipaten Tuban sedang mengalami gonjang-ganjing, lantaran Adipati sedang sakit keras. Adipati mengalami tekanan pikir. Putra kesayangan yang digadang-gadang melanjutkan kepemimpinan di kadipaten Tuban, telah menghilang. Sedang sang putri sampai saat ini masih emoh bersuami. Sementara diluar kadipaten, negeri Majapahit sedang menggila dengan menaikkan upeti dari kadipaten-kadipaten bawahannya, akibat krisis perang melawan Demak.

Raja Majapahit murka, Tuban tidak bisa memenuhi target penyetoran upeti yang di minta kerajaan. Tuban justru masuk katagori kadipaten urutan terbawah diantara kadipaten lain. Sedang, selama ini Tuban dikenal sebagai salah satu kadipaten terkaya di Majapahit. Banyak potensi yang dimiliki Tuban, mulai dari pertanian, kelautan dan pelabuhan, serta pertambangan. Sehingga, mustahil menurut sang Raja, Tuban tidak bisa memenuhi permintaan penambahan upeti tersebut.

Mengenai nasib keberadaan Putranya, simpang siur kabar yang diterima Adipati bermacam-macam. Ada yang melaporkan Putra Adipati telah meninggal dan mayatnya dibuang ke laut oleh para bajaklaut dari negeri Tiongkok. Ada yang melaporkan Putra Adipati sudah masuk Islam, sekarang sedang mengabdikan diri di negeri Demak, musuh dari Majapahit. Sampai saat ini, Adipati masih gelisah mengenai nasib dan keberadaan putranya.

Harapan selanjutnya, untuk menjalankan roda pemerintahan kadipaten Tuban adalah Putri Juwita. Namun, sang Putri sekarang sedang dirundung pilu. Kekasih yang ia cintai telah meninggal dalam perang melawan Demak. Dan sampai saat ini, sang putri, belum bisa pindah ke lain hati, sebab cintanya yang mendalam. Sebenarnya sepeninggal calon suami, telah banyak yang melamar putri yang terkenal cantik dan cerdas itu, mulai dari para putra adipati diluar Tuban sampai pangeran Majapahit.

Di Majapahit, Raja mulai waspada terhadap Adipati. Tuban dicurigai akan membangkang. Kabar sakitnya sang Adipati, dianggap kepalsuan untuk menghindari kenaikan upeti yang ditetapkan. Kecurigaan tersebut beralasan menurut sang Raja, sebab, dulu Tuban di bawah kepemimpinan Ronggolawe pernah memberontak terhadap Majapahit. Apalagi, dengan tersebar kabar Putra Adipati berada di Demak, tentu menguatkan kecurigaan sang Raja. Bahwa, Tuban akan bersekutu dengan Demak untuk melawan Majapahit.

***

Demikian tadi keadaan Tuban, ya kanjeng Sunan, Tuban sedang dalam kondisi rapuh. Sangat tepat untuk kita kuasai selanjutnya. Mengingat, Tuban juga merupakan wilayah paling strategis di Majapahit. Pelabuhannya adalah pusat perdagangan barang dengan negeri Asing. Pasokan meriam dari Portugis juga masuk melalui pelabuhan ini.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apakah Tuban harus kita serang, atau kita menggunakan jalan diplomasi agar Tuban mau bersekutu dengan Demak?”

Kalo kita menyerang Tuban secara langsung, akan sangat beresiko, Sunan. Sebab, Tuban masih memiliki kekutan pasukan yang besar, armada lautnya siap siaga di sekitar Rembang. Mengetahui kita menyerang Tuban, pasti Majapahit juga akan membantu dengan mengirim pasukannya ke Tuban. Ini jelas sangat beresiko. Selain itu, akan menghilangkan kewibawan Demak, karena dianggap mengkhianati perjanjian genjatan senjata ulan suci selama tiga bulan untuk menghormati bulan Ramadhan dan Nyepi.

Untuk saat ini, belum ada alasan Tuban mau bersekutu dengan Demak. Dendam kematian calon suami putri Juwita dan loyalitas Adipati terhadap Majapahit, masih menjadi menjadi penghalang jalan diplomasi.

“Iya, tapi jika kita menyia-nyiakan keadaan ini, bisa jadi dalam kurun waktu tiga bulan kedepan, Tuban berhasil pulih dan kembali menjadi kekuatan utama bagi Majapahit”

Betul Sunan, kita harus menggunakan jalan lain. Salah satu caranya adalah membuat Tuban berperang melawan Majapahit. Selanjutnya, dengan kondisi tersebut Tuban secara sukarela akan meminta bantuan dan perlindungan kepada Demak. Penguasaan terhadap Tuban, akan mempermudah jalan kita untuk menyebarkan Islam ke daerah sekitar dan memperlemah posisi Majapahit.

“Lalu bagaimana?”

Kuncinya adalah ada pada Putra Adipati, Putri Juwita dan Putra Raja Majapahit.

***

Aku dengar, Putra Adipati sedang menjalani pertapaan di tepi sungai untuk menyerap ajaran Sunan Bonang. Jika kita menyebar kabar kedekatan Putra Adipati dengan Bonang ke Majapahit, akan menguatkan isu kedekatan Tuban dengan Demak.

Putra Adipati, juga tidak suka dengan kenaikan upeti yang ditetapkan Majapahit. Kenaikan tersebut sangat membebani rakyat miskin di Tuban. Sementara setiap kali perang, Tuban selalu jadi lumbung persediaan logistik bagi armada laut Majapahit.

Aku juga dengar, seringkali upeti yang akan diserahkan ke Majapahit, selalu disabotase oleh Putra Adipati. Inilah, yang menjadikan sebab Tuban tidak mampu memenuhi target setoran upeti. Karena kekacauan di internal Tuban yang disebabkan oleh Putra Adipati.

Jika kita mampu mengislamkan Putra Adipati, lalu memintanya berdakwah kepada keluarganya, tertutama sang Adipati dan Putri Juwita, tentu akan meredam dendam dan permusuhan Tuban dengan Demak. Serta yang terpenting, adalah menguatkan kebencian Majapahit kepada Tuban. Dan kini Majapahit sedang memantau Tuban dengan memasang mata-mata di sekitar kadipaten.

Selanjutnya adalah meminta Putra Adipati menjodohkan adiknya, Putri Juwita, dengan Putra adipati Jepara yang terlebih dahulu telah bersekutu dengan Demak dan masuk Islam. Biarpun memiliki kepribadian dan pendirian kuat, putri Juwita sangat sayang dan nurut kepada kakak yang ia kenal sangat cerdas dan idealis.

Perjodohan ini akan membuat Putra Raja tidak terima dan sakit hati, lantaran ia sangat menginginkan putri Juwita yang telah menolak lamarannya. Sedang selama ini, pengeran yang disiapkan untuk menjadi raja Majapahit tersebut, sudah dipercaya menangani urusan penting pemerintahan sebagai tangan kanan Raja.

Kondisi demikian, akan dimanfaatkan adipati lain disekitar Tuban untuk memprovokosi Raja Majapahit agar menyerang Tuban. Sebab, Tuban dianggap sebagai kadepaten pesaing, terutama pelabuhannya, banyak adipati yang ingin berkuasa di Tuban.

***

“Baiklah, aku setuju pendapatmu, segera utus ….”

 

*Cerpenis asal Tuban.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.