Tiga Soal Fundamental Pendidikan Kita

4
Tiga Soal Fundamental Pendidikan
Poster Pendidikan Hak Semua Orang

Tubanjogja.org, Fundamental Pendidikan

Fundamental Pendidikan
Poster Pendidikan Hak Semua Orang

Oleh: Joko Dalem*

Seluruh persoalan pendidikan kita, pada intinya berpusar pada tiga persoalan fundamental: akses, kualitas dan arah. Akses adalah soal kesetaraan dalam memperoleh pendidikan. Kualitas adalah soal bagaimana pendidikan kita mambekali peserta didiknya untuk menghadapi masa depan. Sementara arah adalah soal landasan, paradigma, atau untuk apa pendidikan kita diadakan.

Pendidikan di negara kita, dalam ketiga hal diatas, semuanya bermasalah. Soal akses, masih banyak di antara kita yang tidak mendapatkan pendidikan. Misalnya karena biaya, atau karena difabel. Soal kualitas, masih banyak tergantung biaya, atau berlakunya logika pasar: ono rego, ono rupo, maksudnya kualitas menyesuaikan harga. Dan disini orang miskin hanya akan dapat kualitas pendidikan yang rendah. Sementara soal arah, pendidikan kita masih mengarahkan peserta didiknya untuk jadi budak terdidik yang menghamba pada sistem yang menindas. Lewat pendidikan pulalah struktur sosial yang menindas itu dilanggengkan.

Baca Juga Artikel Terkait : Aku Di PHP KIU ( Kawasan Industri UIN )

Tidak perlu bicara statistik atau data-data gombal lainnya, sudah cukup gamblang bahwa ketiga persoalan diatas menyebabkan sekian persoalan yang ada kian hari kian ruwet. Sementara keruwetan itu terus terpelihara sebegitu rupa seolah-olah tanpa jalan keluar. Seperti orang miskin pasti bodoh dan orang bodoh menyebabkan ia miskin, dan seterusnya. Orang berpendidikan rendah pasti bodoh, dan karenanya jadi miskin, dan sebaliknya. Orang berpendidikan tinggi akan sangat berpeluang menjadi penindas, dan para penindas akan dengan mudah berpendidikan tinggi dan berkualitas, dan seterusnya. Daftar itu bisa dilanjutkan, tapi intinya akan berputar-putar bagaikan sekian ular yang saling berbelit dan menggigit ekor temannya, atau (ternyata) ekor sendiri.

Namun, tentu kita tak bisa terus-menerus membiarkan lilitan ular itu hingga melilit leher bangsa kita hingga korban terus berjatuhan. Harus ada upaya radikal dalam membongkarnya.

Baca Juga Artikel Terkait : Duh, KIU: Kesadaran Itu Dari Mana?

Pertama, bubarkan seluruh institusi pendidikan formal yang ada. Pendidikan formal, yang digadang-gadang bakal mampu menjadi solusi atas sekian persoalan masyarakat, ternyata malah memperumit persoalan yang ada.

Pendidikan formal yang ada saat ini sudah jelas-jelas memproduksi kasta, sekaligus melanggengkan pengkastaan yang sudah ada. Produksi dan reproduksi kasta itu, di dalamnya sudah memuat tiga kesalahan fundamental diatas. Akses yang tak merata. Kualitas yang tergantung harga. Lalu arah yang melanggengkan penindasan.

Kedua, kembali ke sistem pendidikan ala padepokan. Sistem ala padepokan yang saya maksud adalah sistem pendidikan dimana tiap murid, berhak memilih berguru pada siapa dan hendak mempelajari jenis ilmu apa. Guru bisa siapa saja, tanpa harus ada legalitas dari penguasa. Ijazah dihapus. Nilai ditentukan dengan hasil karya, dan biarkan masyarakat sendiri yang menilai.

Baca Juga Artikel Terkait : Dialektika Angka Nol Dan Bilanga Asli: Masih Membincangkan Pendidikan

Ketiga, berangkat dari pertanyaan “lalu dimana peran pemerintah?” Pemerintah bisa menyediakan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan. Semisal menyediakan perpustakaan dan laboratorium yang bebas diakses siapa saya, dan pengeleloaannya diserahkan pada rakyat. Hingga tidak ada istilah ketidaksetaraan dalam mengaksesnya.

Tindakan-tindakan diatas, akan menciptakan kultur baru, dimana tiap orang adalah guru. Tiap rumah adalah sekolah. Dan negara adalah universitas terbuka itu sendiri. Sehingga, jargon “belajar, belajar, belajar,” bisa diturunkan ke bumi tanpa mengkastakan manusia, tanpa menindas satu sama lain.

Baca Juga Hal Menarik Lainnya : Di Fanspage Kami

Goa Kampret, 12 Januari 2015

 

*Penulis adalah anggota Majlis Kantin Revolusi. Gagasan diatas dipungut dan diramu dari mana-mana, dan penulis merasa tak perlu mencantumkan referensi. Kehidupan manusia adalah samudera referensi itu sendiri.

 

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here