Berhenti Berspekulasi: Jadilah Batman

3
Jadilah Batman
Jadilah Batman

Tubanjogja.org, Jadilah Batman

Jadilah Batman
Jadilah Batman

(Saatnya Menjadi Gua)

Dalam bahasa cerpen, mungkin pagi begitu kesal terhadap siang dan sore selalu jengkel pada malam. Bagaimana tidak, kebanyakan bangsa manusia hanya menganggap pergantian hari Cuma melibatkan siang dan malam. Lantas pagi dan sore dianggap apakah mereka. Namun, akhirnya, setelah banyak membaca buku-buku posmo Lyotard, mereka maklum.

“Sekarang ini, manusia banyak yang yang terpenjara dengan yang namanya Grand Narrative. Grand Narrative menjadikan mereka buta akan kenyataan yang sepenuhnya”. Jelas pagi.

“maksudnya apa itu mbah?” tanya sore, belum paham.

“Gini le, Kita itu adalah bagian dari hari. Akan tetapi berhubung Grand Narrative yang berkembang di bangsa manusia, hari itu Cuma siang dan malam, makanya kita tersingkirkan. Seakan kita itu bukan kebenaran dan satu-satunya yang benar adalah yang ada dalam Grand Narrative itu”. Gitu le.

“walah mbah, la kok kados ngoten?”.

“Iya le, oleh karenanyo, kita juga tidak boleh termakan oleh yang namanya Grand Narrative, paham yo le!”.

Iya, dan sepertinya bukan hanya bangsa manusia yang terperangkap dengan narasi besar itu. Bangsa kelelawar juga. Selama mereka masih memegang teguh narasi bahwa unsur potoreseptor mereka tidak tahan dengan kilau mentari, selamanya mereka hanya akan menjadi makhluk malam. Padahal tidaklah demikian, banyak kelelawar di luar sana, di luar gua lebih tepatnya, yang sudah menghabiskan buah-buah hutan di siang hari dengan bentuk potoreseptor yang berbeda. Kampret tidak cukup hanya berdiam di gua merenungi kebijaksanaan lewat bayangannya sendiri sambil berlagak seperti plato yang melahirkan idealisme sesat. Pun, kampret juga tidak cukup hanya menjadi kelelawar ngerong yang hanya keluar di malam hari dan hanya menjadi tontonan di siang hari. Kampret harus lebih dari itu, jadilah seperti kelelawar-kelelawar lain yang sudah berkeliaran di siang hari. Kampret harus memiliki bentuk potoreseptor seperti kelelawar buah. Oleh karena itu, sudah saatnya kampret menepis semua narasi besar yang selama ini membelenggu.

***

Seiring makin tidak dianggapnya pagi dan sore sebagai bagian dari hari, mereka berdua memutuskan untuk memperkenalkan filsafat yang selama ini mereka baca kepada manusia. Banyak usaha usai mereka lakukan, tetapi tetap saja manusia sulit untuk bisa menerima filsafat baru yang ditawarkan oleh keduanya.

Walhasil, setelah beberapa kajian, pagi dan sore akhirnya tahu apa penyebabnya sampai mereka angel menerima filsafat baru itu. Itu adalah filsafat kampretisme. Kampretisme memperkenalkan dirinya sebagai satu cabang dari filsafat, akan tetapi hakikat dari dirinya sendiri tidak diketahui. Padahal salah satu sarat wajib berdirinya filsafat adalah adanya hakikat diri. “Mau jadi apa mereka, kalau dirinya sendiri aja tidak tahu, ini adalah kesesatan”, tegur sore berlagak paham. Secara formal, mereka melounching keberadaannya secara linguis atau dari sudut pandang linguistik. Akan tetapi, saya kira kampret bukanlah Saussuran, jadi ini bukanlah filsafat bahasa. Dan kalau itu bukan filsafat bahasa, ontologi semacam itu tidak lah sah. Keadaan Filsafat kampretisme yang absurd semacam itu telah mengkonstruk para bangsa manusia sampai mereka menjadi sulit untuk menerima model filsafat baru yang dikenalkan pagi dan sore.

Oke, dari pada bingung mencari celah untuk menikam, lebih baik sekarang kita mencari celah untuk mencium. Dalam dunia filsafat, meskipun toh ontologi semacam itu benar secara pragmatis, akan tetapi sepertinya kita perlu satu gerakan perombakan. Satu gerakan baru perlu diciptakan. “Post-Kampretisme harus dilahirkan!!!”. Teriak sore dengan semangat yang bulat. Iya post-kampretisme. Berlagak seperti Toynbee: dulu kampret tertarik dengan istilah isme-isme, lantas lahirlah kampretsime dan sekarang isme sudah hanyut, tergantikan oleh istilah post-post. Oleh karena itu, dalam satu wilayah ini, hal itu ra po po. “Iya tidak masalah le”, tambah pagi kepada sore. Post-Kampretisme harus dilahirkan.

Secara hakikat, post-kampretisme bukan lagi kata kampret yang sporadis. Akan tetapi, kelelawar yang berjiwa performatif. Kelelawar yang tidak hanya mencari kebijaksaan di gua, kelelawar yang tidak hanya sadar lantas keluar dari gua hanya di malam hari, dan kelelawar yang tidak hanya sadar kalau di siang hari masih banyak maling yang bertopeng. Namun, kelelawar di sini adalah hewan noktural yang juga keluar di siang hari, menakut-nakuti para maling yang mencuri buah-buahan para tukang kebun, dan menjadi simbol terhapusnya Grand Narrative yang sangat menipu. Anak-anak Tuban menyebutnya BETMEN. “Jelas kan le, hakikat filsafat post-kampretisme ini adalah . . .”, tanya pagi. “BETMEN mbah”, suara sore. “Bagus . . .”.

***

Sehingga, yang dikerjakan oleh para kampretian sekarang ini, bukan hanya menilai perbuatan Semen Indonesia yang eksploitatif terhadap Ihsan Khalid dan rekan-rekan petaninya saja, tidak. Kampretian, di samping harus menyadarkan warga Kerek lebih-lebih saudara Urip selaku aktifis daerah tersebut—melalui diskusi, seminar gratis, perilaku yang bisa dicontoh, dsb.—mereka juga harus sadar terlebih dahulu. Iya, saya ulangi sekali lagi: harus sadar terlebih dahulu. Anggap saja semua itu hanyalah postulasi, dan selanjutnya beberapa dari Kampretian—biasanya yang rebel karena itu yang jarang ngopi—harus belajar yang sungguh-sungguh guna bisa masuk dalam Semen Indonesia, lalu mengaturnya supaya seefektif mungkin membela kepentingan rakyat Kerek. Atau, sebab banyak dari kampretian lebih suka bengak-bengok, mari kita gerakkan massa dan membentuk partai secara aktif tur ofensif, sebagaimana Lenin yang telah menggerakkan para pejuang PKI kita. Hoho.

Baca Juga Hal Menarik Lainnya : Di Fanspage Kami

Kerawak, 14 Januari 2015

*Penulis adalah Kampretian I, musuh Mbah Takrib, dan tukang parkir di masjidnya Joko Dalem. 

Tulisan diatas adalah tanggapan atas Kampretisme I ( http://www.tubanjogja.org/2015/01/06/kampretisme/ ) dan Kampretisme II ( http://www.tubanjogja.org/2015/01/06/kampretisme-ii-meninjau-manusia-goa/ ).

 

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here