Pemikiran Soekarno: Merombak Dunia

0
Ir. Soekarno

Ir. Soekarno

pemikiran Ir. Soekarno
pemikiran Ir. Soekarno

Oleh: Muttaqin Bin Muslimin*

Tulisan ini adalah review dari buku “Marilah Kita Merombak Dunia” yang disampaikan Soekarno dalam Konferensi Wartawan Asia Afrika. Dibukukan oleh Departemen Penerangan RI, tahun 1963.

SALAH satu pergolakan bangsa Indonesia pasca kemerdekaan adalah munculnya KTT AA (Asia-Afria). Apa itu KTT AA? KTT AA adalah konferensi negara-negara Asia Afrika. KTT itu dihadiri oleh 29 negara. Sebagai penyelenggara adalah Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Srilanka, India dan Pakistan, dan di koordinasi oleh Sunario (Menlu Indonesia). KTT AA tersebut dilaksanakan di Gedung Merdeka antara 18 April-24 April dengan tujuan untuk melawan neokolonialisme-imperialisme.

Konferensi ini berlangsung untuk membentengi negara-negara dunia ketiga dari gempuran perang dingin antara blok barat dengan blok timur yang memiliki dua ideologi besar. Persamaan nasib sebagai bangsa yang baru merdeka, menjadi pendorong bagi bangsa-bangsa Asia-Afrika untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih. Persatuan antar bangsa ini, diharapkan menjadi poros kekuatan baru dunia. Walaupun sempat terjadi perselisihan karena berbeda pandangan, KTT AA tetap menghasilkan 10 kesepakatan yang biasa disebut Dasasila Bandung.

Baca Juga : Menyoal Sejarah Gerakan Mahasiswa: Sebuah Gugatan

Dasasila itu meliputi :

1. Menghormati hak hak dasar manusia dan tujuan tujuan serta asas asas yang termuat dalam piagam PBB;
2. Menghormati Kedaulatan dan intregritas teritorial wilayah semua bangsa;
3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar dan kecil;
4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soal soal dalam negara lain;
5. Menghormati hak hak tiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan piagam PBB;
6. Tidak menggunakan peraturan peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukan terhadap negara lain;
7. Tidak melakukan tindakan tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap intregritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara;
8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, Arbitrasi (penyelesaian masalah hukum), ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB;
9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama;
10. Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional.

Selang delapan tahun kemudian, menindaklanjuti hasil KTT AA, indonesia dibawah kepemimpinan Soekarno menyelenggarakan Konferensi Wartawan sedunia. Untuk melaporkan capaian-capaian perjuangan KTT AA dan juga melakukan konsolidasi jurnalis dunia agar turut berpartisipasi memperjuangkan kemerdekaan secara penuh bagi bangsa Asia-Afrika.

Ir. Soekarno mengemukakan pendapatnya melalui Amanat Pembukaan pada Konferensi Wartawan Asia Afrika. KT AA berada dalam pihak menentang kolonialisme dan imperalisme, KT AA bekerja untuk kepentingan kemerdekaan nasional dan berhasil melahirkan sikap solidaritas dan tujuan bersama yang lebih kuat bagi bangsa bangsa Asia Afrika. Dengan adanya kelompok negara Asia Afrika di PBB, mereka berhasil ikut serta menentukan penerimaan Resolusi 1514 (XV).

Resolusi tersebut juga dikenal sebagai “Deklarasi Pemberian Kemerdekaan kepada Negara-negara dan Bangsa-bangsa yang terjajah”. Dimana setiap manusia dalam sebuah bangsa berkeinginan mendapatkan keadilan sosial dan perdamaian abadi. Perjuangan itu sekarang telah mencapai taraf lebih tinggi yang disebut sebagai Revolusi Umat Manusia, untuk meluaskan perjuangan dan menciptakan kemerdekaan Nasional bagi semua bangsa diseluruh dunia.

Baca Juga : Refleksi Sejarah Ideologi Bangsa

Dengan adanya kekuatan pers, semua bentuk ketidak adilan terhadap bangsa Asia-Afrika dapat terekspos. Melalui pers, kebebasan berpendapat menjadi suatu senjata ampuh untuk meningkatkan semangat dalam menggenggam kemerdekaan yang selama ini dikuasai para kolonialis dan imperialis. Sebagaimana yang kita lihat di Benua Asia, Afrika dan Amerika Latin, disana terjadi keterlambatan pergolakan. Masih terlihat kerusuhan dan keributan, tapi semua itu adalah proses dari perjuangan untuk merebut kemerdekaan yang sekian lama telah direnggut.

Dimana para penjajah, masih membelenggu dan membatasi gerak mereka di negaranya sendiri. Perjuangan melepaskan belenggu jasmani dan rohani, serta meningkatkan potensi diri, merupakan inti hidup berbangsa dan bernegara. Mewujudkan kemerdekaan penuh adalah cita cita besar bagi berjuta-juta rakyat Asia Afrika, yang masih tertindas di dalam negaranya sendiri.

Bung Karno beranggapan bahwa perjuangan itu masih harus kita lanjutkan, seperti pidatonya dalam buku itu:

“For a fighting nation there is no jurney’s end!” Djangan mengira bahwa kita bisa tinggal duduk dan menikmati hasil –hasil pekerdjaan kita sesudah kita dapat menjusun suatu pemeritahan jang terdiri dari orang-orang bangsa kita sendiri! Djangan mengira bahwa kita begitu sadja dapat mengambil alih kedudukan –kedudukan dalam putjuk pimpinan perusahaan-perusahaan kolonial dan terus mendjalankan pompa-isap terhadap kekajaan bangsa untuk kepentingan golingan elite kita seperti jang dilakukan oleh kaum pendjajah! Oh,tidak! Revolusi Umat Manusia tidak mengidzinkan hal itu.”

Dari kutipan di atas, perjuangan yang gigih akan menghasilkan sesuatu yang kita harapkan. Jika kita berdiam diri, jangan sekali-kali berpikir penindasan akan berakhir. Kita harus mampu berpikir, itu merupakan awal kita sebagai generasi masa depan yang terlahir untuk membawa negara dan bangsa ini menjadi lebih bermartabat, bebas dari segala bentuk penjajahan.

Namun, upaya mempertahankan kemerdekaan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Haruslah melalui perjuangan bersama dan kebebasan berfikir, barulah akan mampu meraihnya.
Dalam konteks hari ini, sebagai generasi muda, tentu peran kita sangat dibutuhkan. Sebab, pemuda sekarang adalah pemimpin masa depan. Kalau tidak kita siapa yang akan menjadi agen perubahan masa depan. Jadi marilah kita tegakkan badan dengan niat suci untuk merubah dan membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan baru-neoliberalisme-. Sebagaimana yang diamanahkan bungkarno dalam pidatonya di Konferensi Wartawan Asia-Afrika tersebut.

Buku hasil pemikiran pendiri bangsa yang disampaiakan dalam Amanat Pembukaan Konferensi Asia Afrika ini, sangat penting untuk dibaca kaum muda sekarang. Sebab, Konsep pembangunan bangsa yang bermartabat, bebas dari segala bentuk penindasan dan penjajahan bagi seluruh bangsa di dunia tertuang dalam buku tersubut. Dari buku ini, kita juga bisa menggali semangat dan jati diri bangsa indonesia di tengah konstalisi politik internasional, serta bagaimana Indonesia mampu mengambil peran di dalamnya.

Baca Juga Hal Menarik Lainnya : Di Fanspage Kami

Bantul, 17 Januari 2015

*Penulis adalah mahasiswa Jogja asal Jatirogo. Alumni MA Salafiyah Asy-Syafi’iyyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here