Kemiskinan dan Penanggulangannya, Perspektif Alqur’an (I)

0
Kemiskinan
Ilustrasi Kemiskinan

Tubanjogja.org, Kemiskinan

Kemiskinan
Ilustrasi Kemiskinan

Oleh Purwanto*

Kemiskinan sebagai salah satu masalah sosial terjadi hampir di seluruh belahan dunia dan menjadi pekerjaan rumah bagi masing-masing negara. Kondisi bagaimana sengsaranya masyarakat miskin terlihat sangat jelas di berbagai media massa baik cetak maupun elektronik. Kelaparan, penyebaran penyakit, dan ketiadaan tempat tinggal merupakan sedikit dari akibat yang ditimbulkan oleh kemiskinan. Karena sifatnya yang global, tidak heran jika hal itu menjadi perhatian banyak orang dan merupakan salah satu problematika kemanusiaan.

Begitu juga di Indonesia kemiskinan telah menjadi permasalahan serius dengan bermacam sebab dan latar belakang semenjak teori dan konsepsi tentang kemiskinan dimunculkan. Rezim berganti namun kemiskinan seakan telah menjadi wajah lain dari manusia Indonesia, hasil dari proyek pembangunan yang selalu menjadi slogan yang dibanggakan oleh pengambil kebijakan, kemiskinan adalah suatu keadaan ketika seseorang kehilangan harga diri, terbentur pada ketergantungan, terpaksa menerima perlakuan kasar dan hinaan, serta tak dipedulikan ketika sedang mencari pertolongan. Permasalahan yang menyertai kemiskinan ini sangatlah kompleks sehingga keberadaanya memang sulit untuk hilangkan.

Memasuki era yang serba modern seperti saat ini tidak serta merta menularkan seluruh kecanggihan dan kemodernan kepada seluruh umat manusia. Hingga saat ini dari 5,4 miliar populasi dunia, sekitar 1,3 miliar manusia masih hidup dibawah garis kemiskinan dengan penghasilan dibawah 1 USD per hari.( Edi Suharto, 2009)

Orang miskin dilarang sakit, dilarang sekolah begitulah kira-kira penyederhanaan realitas betapa menderitanya orang-orang miskin dinegeri ini. (eko prasetyo, 2009). Ditengah penghasilan yang terbatas mereka harus memenuhi kebutuhan dasarnya supaya bisa tetap menyambung nyawa. Kondisi ini juga diperparah dengan ketidak mampuan Negara untu mengontrol harga bahan kebutuhan dasar yang menyangkut hajat hidup orang banyak, penetapan harga pangan diserahkan pada mekanisme pasar yang sangat rentan dengan kecurangan demi keuntungan segelintir elit pemegang kuasa dan kroninya.

Secara eksplisit para founding father telah menyadari betapa pentingnya upaya memerangi hal tersebut di negeri ini, hal tersebut jelas termaktub dalam pembukaan uud 1945 ” Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Kemiskinan adalah sebuah ironi yang terjadi di negeri zamrud khatulistiwa ini. Sebuah negara yang seharusnya dengan kekayaan yang ada sudah bisa mencukupi kebutuhan dasar warganya, perlahan tetapi pasti berubah menjadi pasar super besar yang menampung dan memperdagangkan produk-produk luar negeri.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan 28,55 juta penduduk Indonesia yang masuk kategori miskin. Data BPS menunjukkan jumlah penduduk miskin pada September 2013 bertambah 0,48 juta orang dibandingkan posisi Maret 2013 sebanyak 28,07 juta.(Berita Resmi Statistik No. 47/07/Th.XVI, 2013). Kemiskinan bukanlah sesuatu yang turun dari langit tetapi mengudara lewat struktur yang membatu dibumi, untuk itulah kita sebagai bagian dari manusia yang terlahir dan dibesarkan dalam buaian dan semilir angin tumpah darah Indonesia mempunyai kewajiban moral dan sosial ikut serta dalam rangka upaya penanganan kemiskinan ini. (Ahmad Erani Yustika, 2003)

Untuk itu kita tidak boleh terjebak dengan romantisme masa lalu dengan slogan yang indah” Kepiye Kabarmu Le, Iseh Penak Jamanku To” ataupun membanggakan program-program terbaru pemerintah yang memang belum dirasakan manfaatnya secara signifikan. Koreksi dan evaluasi harus terus kita lakukan agar niat baik pemerintah terealisasi dengan program yang baik pula. Memelihara tradisi yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik dalam upaya penanggulangan kemiskinan.

Apakah konsepsi mengenai kemiskinan dan penanggulangannya selama ini sudah sesuai dengan nilai-nilai yang di kandung dalam alqur’an, yang merupakan kitab suci dari mayoritas warga Negara Indonesia, atau mungkin ada permasalahan lain perlu kita kaji bersama secara mendalam dan konperhensif, sehingga upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menanggulangi hal tersebut akan berhasil lahir dan batin. Sebagai perwujudan amanat dari lagu kebangsaan kita yaitu membangun jiwa dan raga.

Baca Juga Hal Menarik Lainnya : Di Fanspage Kami

*Mahasisawa Pascasarjana UIN Suka, pegiat kajian sosial keagamaan di sanggar LKiS.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here