Cerita dari Pinggiran Tuban

2
Cerita Pinggiran Tuban

Tubanjogja.org, Cerita Pinggiran

Cerita Pinggiran

Oleh: Daruz Armedian*

Sejauh mata memandang, hanyalah kosong. Dari tepian aspal yang panas dan rusak parah, ia harus menepi di rerumputan kering berdebu. Dengan mata buram penuh sesak oleh air mata kesedihan yang menyesaki setiap sudut-sudutnya. Sedangkan hatinya sudah dari dulu penuh dengan amarah. Berhenti di antara jembatan yang berada di dekat gapura. Menatap langit sepi, tanpa mendung dan memandang negeri ini yang usang. Ia berfikir, begitu banyak penghianat di negeri ini. Begitu banyak singa berbulu domba. Tak ada yang tahu, tak ada yang mengerti. Tentang hatinya yang tergores api oleh orang-orang di negeri ini.

***

Suasana semakin gaduh, ketika Amir memasuki gerombolan manusia pembawa spanduk warna hijau. Saat itu ia masih MTS, badannya masih kecil dan ramping. Membuatnya mudah memasuki setiap sela-sela manusia. Ia ingin berada di depan, dekat dengan panggung kampanye. Tapi ia terpental di belakang, membuatnya kecewa karena tak mendengar apa-apa dari yang diocehkan bapak calon pemerintah daerah Tuban itu. Lelah menyelimuti tubuh yang mungil itu dan membuatnya putus asa. Ia melangkah pergi di dekat speaker TOA dan sound pengeras suara di belakang. Dari pada di tengah-tengah manusia yang riuh. Jadi tak terdengar apa-apa, pikirnya.
Kupingnya berdiri mendengar penegasan yang amat tegas.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu yang hadir di sini, pilih kami, dari golongan NU, nomor urut 4, jangan lupa, nomor urut 4. Kami akan menggratiskan biaya SPP di tingkat SLTA di seluruh daerah Tuban…” terdengar berkoar-koar suara bapak calon Bupati itu.

Membuat hati Amir girang tak kepalang. Apalagi ia dari golongan tak mampu, menjadikan ini sebuah momen untuk terus melanjutkan sekolahnya di Madrasah Aliyah.

Memang, partai ini diprediksi akan benar-benar mempunyai banyak suara. Karena itu Amir yakin, pastilah bapak ini yang akan jadi ketua Pemda Tuban di masa yang akan datang. Maka, di setiap kampanyenya, Amir ‘kan setia. Ia berbikir, bapak calon ketua ini tak perlu menggratiskan pengobatan dan SPP di tingkat SLTP. Karena bapak presiden sudah menggratiskan dari dulu.
Merasa Pemda dulu kurang berkenan di hati para rakyat. Merasa banyak rakyat yang kecewa dengan politiknya. Merasa di rugikan oleh semua embel-embelnya. Akhirnya, banyak yang pindah dukungan dari Pemda dulu. Beralih ke bapak berpartai hijau ini. Pun terlihat lebih Islami.

***

Benar apa yang ada dalam keyakinan Amir, bapak berpartai hijau itu benar-benar memenangkan pemilihan suara. Dan sebentar lagi akan dilantik, bersamaan lulusnya ia dari kelas 3 MTS. Menuju Madrasah Aliyah. Hati yang riang, senang terus membekam dalam hatinya, di dalam sanubari yang terdalam.

Tapi, detik berganti menjadi menit. Menit berganti menjadi jam. Jam berganti menjadi hari. Hari pun berganti jadi minggu. Dan minggu berubah berganti jadi bulan. Tak ada kabar yang pasti tentang perjanjian itu. Sampai berganti tahun pun tak terjadi kenyataan ceplas-ceplosnya bapak kepala Pemda. Menjadikannya kecewa.

Hingga saat ini pun tak terjadi penggratisan SPP. Omong kosong belaka.

“Dengarlah para wakil-wakil yang duduk di singgasana, dengarlah suara dari kami, dengarlah keluh kesah dari kami. Apakah kalian tidak sadar akan kebohongan kalian? Apakah kalian tidak tahu betapa hati kami sangat kecewa. Kalian tak pernah memikirkan kami, para orang-orang yang telah memilih kalian? Kami tersiksa.”

Suatu hari dan seterusnya, Amir hanya terus menyesali. Tapi sesalnya tak pernah ada yang mendengar. Pun kini setiap mendapatkan Bantuan Siswa Miskin (BSM) dari pemerintah. Selalu di bagi oleh sekolahan. Dibagikan ke seluruh siswa, baik yang miskin maupun yang kaya. Tak pernah memperdulikan keadaan yang miskin itu lebih memerlukan.

Katanya, itu keadilan. Agar semua orang dapat merasakan bantuan dari kepemerintahan. Katanya, itu sebuah pemerataan agar setiap manusia puas. Katanya, itu adalah rahmat yang perlu diberikan ke semua orang tanpa terkecuali. Tak peduli yang miskin tersiksa. Merasa terdeskriminasi dari keadilan.

Apakah itu yang dinamakan keadilan? Memberikan sesuatu yang hampir sama pada orang yang mempunyai kekayaan berbeda-beda?

***

Amir pun jelas-jelas marah pada yang di sana. Tapi apa daya, kemarahannya sama sekali tak terdengar oleh telinga mereka. Ia menelusuri hidupnya dengan apa adanya. Tak mengerti siapa yang patut disalahkan. Oknum pemerintahan atau oknum-oknum yang lain. Sehingga ia terdeskriminasi dari keadilan seperti ini. Dan mungkin, sampai kapan pun ia tak mengerti siapa yang salah. Karena ia hanya manusia kurang mampu. Yang hidup di pelosok daerah Tuban. Dan jeritnya takkan mungkin terdengar.

Dari tepian aspal yang panas dan rusak parah, ia harus menepi di rerumputan kering berdebu. Dengan mata buram penuh sesak oleh air mata kesedihan yang menyesaki setiap sudut-sudutnya. Sedangkan hatinya sudah dari dulu penuh dengan amarah. Berhenti di antara jembatan yang berada di dekat gapura. Menatap langit sepi, tanpa mendung dan memandang negeri ini yang usang. Ia berfikir, begitu banyak penghianat di negeri ini. Begitu banyak singa berbulu domba. Tak ada yang tahu, tak ada yang mengerti. Tentang hatinya yang tergores api oleh orang-orang di negeri ini.
Sabar ya, Amir. Mungkin suatu saat Tuhan kan membalasnya.

Baca Juga Hal Menarik Lainnya : Di Fanspage Kami

Tuban, 9/2/2013

*Daruz Armedian, Lahir di Tuban. Alumnus MA Islamiyah Senori.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here