Ilusi Masa Kecil

4
masa kecil
Ilustrasi gambar diambil dari beritabojonegoro.com

tubanjogja.org – Masa Kecil

masa kecil
Ilustrasi gambar diambil dari beritabojonegoro.com

Sekitar 15 tahun silam, di saat saya masih suka mencari jangrik di salah satu bukit indah di Kerek, ngipeng, saya selalu terkesima dengan pemandangan malam kota Kerek. Iya, Kerek sering saya sebut kota karena sepertinya hanya kereklah yang memiliki keindahan lampu yang memukau, tidak seperti Montong, Merakurak ataupun Senori. Pemandangan lampu itu tidak lain berasal dari gemerlap pabrik Semen Gresik. Dulu, bagi kami, itulah satu-satunya alasan mengapa saya suka ngipeng di malam hari dan selalu mengusahakannya untuk mengunjunginya. Semen Gresik telah memberikan keindahan tersendiri di benak saya.

Baca juga: Pledoi dari Kerek

Bagi anak kecil yang masih duduk di kelas 4 MI, hal itu sangatlah wajar. Keterbatasan pengetahuan mereka akan bukit-bukit indah lainnya menjadi satu alasan mengapa mereka merasakan itu. Pengetahuan mereka terbentuk oleh keadaan tempat mereka hidup atau sering disebut sebagai habitus. Kerek adalah suatu kota kecil yang jumlah sawahnya lebih banyak dari jumlah perumahan penduduknya. Ketika dilihat dari atas, hanya sedikit lampulah yang bisa terlihat sebab tertutupi oleh kerindangan sawah. Sedangkan Semen Gresik memiliki infrastruktur yang tinggi, berlampu kuning menawan, dan berpotensi untuk menghiasi kota Kerek tanpa takut tertutupi oleh kerindangan sawah. Oleh karenanya tidak mengherankan jika kami terkesima sekaligus berbangga memiliki Semen gresik yang setiap malamnya. Keadaan seperti itulah yang membentuk pengetahuan kami dan membatasi kesadaran kami dulu.

Selang beberapa tahun, setelah saya diperkenalkan dengan bukit bintang di Jogja, bukit indah di Pacitan, dan tempat-tempat indah lainnya di jawa, ada beberapa hal yang terbantahkan dalam benak saya. Saat saya naik colt, sebutan untuk angkutan umum jurusan Tuban—Kerek, dan melewati pabrik Semen Gresik yang dulu pernah dibanggakan, saya merasa begitu resah. Keindahan yang dulu selalu saya perjuangkan sudahlah lenyap. Hingga akhirnya saya sadar, ada beberapa hal yang mejadikan keindahan itu lenyap. Pertama, di luar sana masih ada banyak keindahan lain dan bahkan lebih indah. Keindahan itu telah membentuk suatu pengetahuan baru yang secara tidak langsung telah mendominasi keindahan yang dulu ada dan itulah yang sering saya sebut sabagai kesadaran. Sehingga, disebabkan oleh adanya keindahan-keindahan lain tersebut, lenyaplah pupuslah Semen Gresik yang dulu menjadi keindahan tunggal bagi saya.

Baca juga: Apakah al-Quran Meridai Produksi Baprik Semen

Kedua, kesadaran. Iya, kesadaran. Kesadaran telah menjadikan saya lebih bisa memandang Semen Gresik tidak hanya dengan kaca mata kuda, tetapi dengan kacamata pelangi. Melalui kacamata itu bisa diketahui kalau dibalik gemerlap lampu Semen Gresik banyak petani di sekitarnya tidak lagi mendapatkan panen yang semelimpah dulu. Banyak masyarakat yang terganggu aktifitasnya oleh debu yang seakan tiada berakhir, Banyak tanaman yang tidak lagi berdaun hijau cerah secerah dulu, dan satu lagi: banyak masyarakat yang terbohongi, entah itu oleh kebodohannya sendiri atau oleh Semen Gresik. Itulah, itulah beberapa hal yang mungkin memantik keresahan saya. Kesadaran telah menjadikan yang indah menjadi resah.

Adapun tentang masyarakat yang terbohongi, sebagaimana saya dulu yang tertipu oleh keindahan gemerlap lampu Semen Gresik, tidak seharusnya mereka terbiarkan. Apalagi mereka bukan lagi anak kelas 4 MI. Mereka adalah satu-satunya yang paling bertanggung jawab atas apa yang mereka miliki di Kerek. Ketika ada apapun terkait hak mereka, seperti Industri Semen Gresik yang merusak, mereka harus tahu apa yang menjadi hak mereka. Minimal, mereka harus mengerti dan sadar; tidak hanya taklid buta semata dan mudah dibodohi. Toh nantinya meskipun mereka masih belum memiliki kekuatan untuk bangkit, mereka sudah mengerti dan sadar kalau hal semacam itu bukanlah keindahan. Oleh karena itu, pengetahuan yang lebih dan kesadaran yang baik harus mereka dapatkan. Sudah saatnya kita sadar.

Baca juga: Menunggu Pangeran Berkuda Semen

Hari ini, tidak saatnya untuk sendiko dawuh dengan perkataan kiyahi-kiyahi yang berceramah tentang pentingnya berlaku sabar: bersabar di saat tanah kita dieksploitasi, bersabar saat CSR tidak sampai pada rakyat, dan lain sebagainya. Sebelum sabar diterapkan minimal kita harus tahu apa yang ada dibalik kesabaran itu. Kita tidak boleh selalu menjadi anak kelas 4 MI yang bisa mudah terbohongi oleh gemerlap lampu kuning Semen Gresik di malam hari. Itu semua hanyalah ilusi masa kecil. Pengetahuan, kesadaran, baru tindakan. — Masa Kecil —

Baca juga: Mitos Kesejahteraan Rezim Ramah Bisnis

Pengetahuan mampu menembus tembok, Ilmu mampu menembus ruang dan waktu

Kampretian I

 

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here