KPMRT, Bedah Film “Broto Laras”

1

kpmrt-bedah

Yogyakarta, Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta, adakan bedah film berjudul “Broto Laras” produksi Get Pictures dan Sekawan Film. Bertempat di Pendopo LKiS, Senin, 2 Februari 2015, malam. Hadir sebagai pembedah adalah Edward Bot, Buyung Ispramadi dan Arif Kurniarrahman aliyas Jeky, selaku produduser eksekutif Sekawan Film. Selain dihadiri mahasiswa asal Tuban, diskusi ini juga dihadiri oleh mahasiswa Jogja asal daerah lain. Mahasiswa asal Bangka, Jawa barat, Jawa Tengah, Lamongan, Aceh, Medan dan Padang.

Film “Broto Laras” merupakan film indie peraih juara 2 katagori umum dalam Festival Film Pendek yang diadakan oleh Kompas TV di Bandung, November 2014. Film berdurasi 9 menit 54 detik ini, bercerita tentang keluarga dari pimpinan group jatilan “Broto Laras”.

Jatilan sebagai kesenian tradisonal masyarakat Indonesia, pernah mengalami kejayaan pada masanya. Namun seiring perkembangan zaman—dalam arus globalisasi—kini kesenian jatilan mulai ditinggalkan dan tidak mendapatkan tempat. Panggung-panggung kesenian dan hiburan lebih banyak dikuasai oleh kesenian pop dari luar, semisal Girl/Boy Band yang lebih menarik bagi generasi muda, sebagaimana yang diangkat dalam cerita film tersebut.

Edward Bot, salah satu dari pemateri dalam diskusi tersebut, menjelaskan maksud tujuan dibuatnya film ini. Ia mengakui bahwa film ini merupakan kritik kebudayaan dan autokritik bagi pegiat seni tradisional.

“Film yang kami angkat dari cerpen karya teman ini, merupakan kisah nyata dari group jatilan di Magelang. Kisah Ini harus kita akui sebagai realitas yang terjadi pada kesenian kita hari ini. Kita berharap, film ini bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk peka terhadap perubahan. Di satu sisi, kita dihadapkan pada tantngan global yang menghegemoni. Di sisi yang lain, seniman tradisional cenderung kaku, kukuh pada tradisi lama dan acuh terhadap perubahan zaman ”, tutur Edward.

Film yang menghadirkan konflik kebudayaan ini, dikemas secara apik, padat dan sangat serat makna. Sebagaimana yang disampaiakan oleh Eko, mahasiswa UIN Suan Kalijaga, asal Pangandaran Jawa Barat.

“Cerita ini, mengingatkan kepada saya. Tentang nasib keseniaan daerah di Indonesia yang semakin hari kian ditinggalkan oleh genearasi muda. Walaupun kita sadar, tapi ternyata kita tidak cukup kuat dalam menjaga dan melestarikan kekayaan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Akibat gempuran kesenian pop yang mendominasi panggung hiburan nasional. Toh gerakan dalam tarian gangnam style yang pernah menggoncang dunia, sebenarnya sudah ada lebih dulu pada gerakan tarian jatilan (sebagaimana yang digambarkan dalam film),” ungkap Eko.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here