Gandhi Jayanti: Refleksi Untuk Kampret yang Suka Bengak-Bengok di Pertigaan UIN SUKIJO

0

tubanjogja.org – Mahatma Gandhi

gandhi
Ilustrasi diambil dari internet

Sekilas

Adalah seorang India yang pemalu, rendah hati, tetapi aktifismenya luar biasa. Ayahnya adalah seorang tokoh masyarakat di desa kelahirannya. Sedangkan ibunya lebih bisa dikatakan sebagai sosok yang intelek. Gandhi menikah di umurnya yang ke—13 berbarengan dengan pernikahan kakaknya.

Dalam pendidikannya, Gandhi pernah mengenyam kuliah di Inggris. Di sini, dia bisa mempelajari banyak hal yang sama sekali baru bagi dia. Dari banyak pengalamannya, Gandhi berani menyimpulkan bahwa tindakan yang paling luar biasa adalah tindakan pasif, bukan aktif. Dia belajar Hukum di Ingris.

Selepas pulang dari Inggris, dia menjadi pengacara di India. Namun, itu sama sekali tidak memperbaiki kehidupan Gandhi. Dengan lain ucapan, dia tidak begitu diminati sebagai pengacara. Sebab sebagaimana disebut di awal, Gandi memang adalah sosok yang sangat pemalu dan itu kurang cocok untuk dimiliki seorang pengacara yang baik.

Selang beberapa lama, Gandhi mendapat tugas untuk menyelesaikan konflik di Afrika Selatan. Di sana, Gandhi ditugaskan untuk menyelesaikan konflik deskriminasi. Dan di sinilah, kegemilangan Gandhi mulai nampak ke permukaan. Pendek kata, Gandhi berhasil menyelesaikan konflik tersebut dengan luar biasa. Adalah dengan aktifisme pasifnya yang populer dengan ahimsa.

Di masa selanjutnya, dengan aktifisme yang sama, Gandhi berhasil membebaskan India dari cengkraman Inggris. Gerakan pasif ala Gandhi benar-benar berhasil membuat Inggris gerah dan enyah dari India. Dia berhasil mengerahkan dan memprovokasi seluruh warga India untuk secara cerdas menolak dan mengusir Inggris. Dan berkat ini, masyarakat India memberinya gelar “mahatma” atau guru.

Adapun hal-hal menarik lainnya tentang Gandhi adalah dua peristiwa yang paling dia sesali. Yaitu kegagalannya dalam mengupgrade kecerdasan istrinya. Dia ingin sekali istrinya bisa mengimbanginya, tetapi itu tidak terwujud. Dan yang kedua adalah ketidakhadirannya Gandhi di saat ayahnya meninggal dunia. Gandhi tidak berada di samping ayahnya saat meninggal karena dia tengah asyik bercinta dengan istrinya. Kira-kira itulah dua hal yang paling disesali Gandhi.

Gandhi meninggal ditembak oleh salah satu temannya sendiri. Dia menembak Gandhi karena kecewa atas kebijakan atau keputusan Gandhi untuk menyamakan semua agama. Pendek kata, temannya menembak Gandhi karena tidak menolak pemikirannya berikut kebijakannya tentang pluralisme agama. Dan satu hal yang belum berhasil diwujudkan Gandhi sebelum meninggal dunia adalah menyelesaikan konflik perbedaan agama, antara Islam dan Hindu, dalam tubuh India—yang saat ini usai pecah menjadi India dan Pakistan.

Baca juga: KIU (Kawasan Industri UIN

Pemikiran

Sebenarnya, untuk menyebut Gandhi sebagai pemikir yang hebat, itu juga kuranglah tepat. Mengetahui apa-apa yang berhasil diinternalisasi olehnya tidak lain adalah nilai-nilai dalam Hindu. Akan tetapi, di wilayah lain, melihat pengaruhnya yang luar biasa terhadap masyarakat India dengan aktifisme pasifnya, dia tidak bisa tidak memiliki pandangan dasar yang menarik untuk dibahas. Terkait itu, ada beberapa hal yang penting untuk didiskusikan dalam hal ini, yaitu satygraha, ahimsa, swadesi, dan hartal.

  1. Satyagraha

Secara bahasa, satya adalah kebenaran, sedangkan graha adalah jalan atau pencarian. Jika ditarik pada pengertian secara istilah, maka satyagraha adalah pencarian kebenaran dengan tidak mengenal kata lelah. Dengan lain ucapan, itu bisa benar-benar terjadi karena mereka memiliki kepercayaan penuh terhadap Tuhan yang akan selalu menyelematkan jiwa mereka dari segala gangguan. Pada prinsipnya, satyagraha memanglah demikian, yaitu kepercayaan pada jiwa yang akan selalu selamat dari segala kejahatan karena jiwa tersebut adalah bagian dari Tuhan.

  1. Ahimsa

Pendeknya, ahimsa adalah “tidak menyakiti”. Artinya, dengan ahimsa, seseorang dituntut untuk menolak segala keinginan untuk melukai, baik itu fisik maupun hati. Selain itu, dia juga tidak diperbolehkan untuk sekedar membenci, membuat orang lain marah, dan tidak mencari keuntungan apapun dari orang lain demi dirinya sendiri.

Adapun konsep ahimsa sendiri berasal dari Upanishad. Terkait itu, di dalamnya juga dijelaskan terkait enam godaan yang berpotensi menimbulkan  konflik. Adalah nafsu, keserakahan, amarah, kemabukan, kebimbangan, dan iri hati. Dengan lain ucapan, ketika seseorang tidak bisa mengontrol enam hal tersebut, maka konflik akan selalu muncul. Dan ahimsa tidak bukan merupakan satu konsep penting untuk mengontrol hal-hal itu. Jadi, dengan ahimsa, seseorang berpeluang besar untuk terhindar dari konflik.

Bagi Gandhi—jika dikaitkan dengan konsep satya atau kebenaran—ahimsa dan satya adalah dua mata koin dalam satu koin yang sama. Dua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Dalam artian, kebenaran hanyalah sebuah omong kosong tanpa adanya ahimsa, begitu juga sebaliknya. Bagi dia, satu-satunya jalan untuk menjalani satyagraha adalah dengan ahimsa. Sehingga, berbasis kesimpulan ini, bisa dikatakan bahwa berangkat dari satya-lah, Gandhi berani untuk membumikan ahimsa, yaitu dengan mengusir Inggris tanpa perlawanan sama sekali.

Lebih jauh lagi, dari sudut pandang lain, ahimsa merupakan hasil hasil evolusi manusia. Dalam artian, manusia itu berevolusi dari himsa menuju ahimsa, yaitu dari budaya mudah marah, mudah menyakiti, dan semcamnya menjadi budaya yang tidak mudah marah dan tidak mudah menyakiti orang lain. Dengan demikian, idealnya, manusia di masa ini adalah mereka yang tidak mudah marah dan tidak mudah menyakiti.

Baca juga: Paul Ricouer; Teks is The Discourse

Adapun dasar berpikirnya, posisi ahimsa adalah di titik tengah antara ketundukan dan konfrontasi. Ahimsa bukanlah gerakan ketundukan yang lemah dan selalu kalah, tetapi bukan juga gerakan konfrontasi yang brutal. Dengan demikian, itu merupakan gerakan yang luar biasa dan sangat direkomendasikan demi terciptanya perdamaian.

Dan berbicara tentang posisi ahimsa, ada lima aksioma menarik terkait ahimsa, antara lain:

  • Ahimsa tidak mengenal kalah. Sebab dengan ahimsa, seseorang tidak lagi membutuhkan kemenangan dan tidak juga membutuhkan musuh. Sehingga, ketika usai demikian, maka kekalahan pun tidak ada.
  • Andai istilah “menang” diberlakukan di sini, maka ahimsa pasti akan menang.
  • Ahimsa mampu mengungguli sekeras-kerasnya kekerasan.
  • Ahimsa tidak saja membutuhkan kemauan, tetapi juga kerelaan dan kemampuan.
  • Ahimsa mensyaratkan pensucian diri sesempurna mungkin yang dapat diraih secara manusiawi. Sekali lagi: secara manusiawi.
  1. Swadesi

Satu lagi konsep yang menarik dari Gandhi adalah swadesi. Tidak lain, itu merupakan gerakan cinta tanah air. Bagi Gandhi, hidup adalah pengabdian yang diperuntukkan pada alam semesta. Akan tetapi, tidak bisa tidak, itu harus dimulai dari keluarga. Dalam artian, seseorang harus mencintai keluarga dan mengabdikan dirinya dulu pada keluarga, baru ke daerah, kabupaten, negara, dan lebih luas lagi. Dengan lain kata, itu juga bisa disebut sebagai gerakan mencintai atau bangga pada produk sendiri.

  1. Hartal

Adalah pemogokan nasional yang dilakukan masyarakat India sebagai aksi protesnya terhadap Inggris. Mereka menyalurkan protesnya dengan menutup toko-toko mereka serentak demi kemerdekaan India dari cengkraman Inggris. Dan yang menarik, mereka menggati kegiatan sehari-harinya dengan aktifitas-aktifitas keagamaan. Mereka mau, rela, dan berani melakukan itu semua atas provokasi yang dilakukan Gandhi.

Hartal juga bisa disebut sebagai puncak dari aktifisme Gandhi dalam mengusir Inggris dari India. Awalnya, dengan keyakinan yang penuh untuk tidak melawan Inggris dengan kekerasan, selanjutnya dengan kesadaran penuh untuk tidak membeli produk Inggris, dan pada akhirnya, itu berujung pada gerakan masal untuk menutup toko-toko mereka sebagai perwujudan akhir atas tiga hal di atas. Dan diterima atau tidak, atas instruksi Gandhi, mereka berhasil mengusir Inggris dengan tanpa perlawanan—dalam bentuk kekerasan—sama sekali.

Sudut Wacana

      Selain poin-poin di atas, Gandhi juga merumuskan beberapa hal terkait masyarakat, agama, dan Tuhan. Pertama, itu terkait tujuh hal yang dengannya suatu negara tidak akan pernah nyaman, yaitu:

  • Politik tanpa prinsip
  • Bisnis tanpa moralitas
  • Pengetahuan tanpa karakter
  • Sains tanpa kemanusiaan
  • Kekayaan tanpa kerja
  • Kenikmatan tanpa nurani
  • Ketakwaan tanpa instropeksi. Ini bisa dicontohkan—misalnya—dengan laku seorang kiyai yang selalu merasa paling benar sehingga tidak pernah instropeksi.

Selama tujuh hal yang disebut Gandhi sebagai tujuh dosa masyarakat itu masih melekat pada suatu kelompok masyarakat, maka di dalamnya tidak akan pernah ada kenyamanan.

Adapun yang kedua adalah tentang Tuhan dan agama. Bagi Gandhi, adanya perbedaan agama itu sama halnya dengan adanya perbedaan ras. Dengan lain ucapan, dua hal tersebut merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Oleh karenanya, ya sudahlah, itu tidak perlu dibahas karena memang Tuhan sengaja menyeragamkan hal tersebut.

Baca juga: Bercumbu Lebih Baik dari Bertengkar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here