Filsafat sebagai Sokoguru yang Mendesak Didirikan

2

tubanjogja.orgSokoguru

Sokoguru

Oleh: Jabal Nawa*

Rasio memang terbatas, tapi membatasi rasio sejak dini adalah kezaliman.

Saya teringat cerita masa kecil, tentang pendirian masjid Demak. Untuk sokoguru (pilar utama) dibutuhkan empat, tapi sayangnya (entah kenapa) kayu yang tersedia cuma tiga. Lantas Sunan Kalijaga mengumpulkan tatal (serpihan-serpihan kayu) dengan susah-payah, diikatnya dengan rumput, dan jadilah tiang yang kemudian jadi salah satu sokoguru. Maka berdirilah masjid Demak hingga saat ini.

Dalam dunia pesantren, atau Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi yang banyak mewadahinya, saya membayangkan bahwa tiga sokoguru resminya adalah fiqih (empat madzhab), kalam (Asy’ari dan Maturidzi), lalu tasawwuf (Ghazali dan Junaidi). Sementara sokoguru yang satu, yang dari tatal adalah filsafat. Sayangnya filsafat dalam dunia pesantren masih cenderung dijauhi. Akibatnya bangunan peradaban kita masih pincang. Terseok-seok mengejar zaman.

Akarnya

Banyak definisi tentang filsafat, tapi hampir semua orang sepakat bahwa soal filsafat adalah soal optimalisasi pikiran. Maka, menolak filsafat, tentu saja berarti membatasi pikiran.

Dunia pesantren, adalah dunia yang hingga saat ini masih belum akrab dengan filsafat. Bahkan banyak yang masih mengharamkannya. Filsafat dianggap sebagai biangkeladi kesesatan. Dan pesantren ada salah satunya untuk menuntun umat keluar dari kesesatan.

Pengharaman filsafat, kalau dirunut muasalnya, salah satunya adalah efek dari ajaran-ajaran Al-Ghazali. Seperti termaktub dalam kitab populer bernama “tahafutul falasifah”. Sementara pesantren-pesantren di Nusantara mayoritas adalah pengikut Ghazali.

Memang, NU sendiri juga seolah tidak memberi tempat bagi filsafat. Lihat saja qanun asasinya, yang ada hanya mewadahi fiqih, kalam, lalu tasawwuf. Sementara ranah filsafat tidak terwadahi. Maka wajar jika ujungnya, di pesantren tidak dikenali ilmu-ilmu seperti kedokteran atau pengembangan teknologi. Pesantren menjadi tersibukkan urusan ubudiyah saja yang dominan.

Lompatan Epistemologis

Dunia pesantren yang mayoritas masih mengutuki filsafat, seiring berjalannya waktu, ternyata kini juga memakai teknologi. Mungkin agar jargon “memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik” bisa menemukan bentuknya. Kita bisa melihat geliat pesantren yang mulai menggunakan fasilitas internet untuk mendukung pengajaran. Kiyai-ustadz-santri yang gonta-ganti gadget, dan sebagainya.

Sekilas hal itu wajar-wajar saja. Namun, mejadi masalah ketika kita mulai menyadari bahwa ternyata pesantren turut andil dalam memproduksi masyarakat yang konsumtif dan tidak kreatif. Lihat saja, para santri nanti ketika terjun ke masyarakat hanya menjadi pengguna atas teknologi nan canggih, dan bukan yang mencipta. Jika begitu, arus selalu tak pernah datang dari “sini” tapi selalu dari “sana.” Dan pembiaran atas hal ini adalah sama dengan membiarkan kita dalam keterjajahan. Padahal itu yang ditentang Islam sendiri.

Peradaban Islam

Di masa silam, Islam pernah jadi pusat peradaban di muka bumi selama sekitar tujuh abad. Banyak sekali pemikiran, rintisan ilmu-ilmu dan teknologi, bersumber dari peradaban Islam. Suatu sumbangan yang tak bisa ditampik keberadaannya oleh dunia.

Hal yang paling menarik saat itu adalah fakta bahwa filsafat masih tumbuh subur di dalamnya. Namun, kemajuan peradaban itu sirna, seiring dicampakkannya filsafat dari dunia Islam. Dan kita jadi ummat yang terus berputar-putar pada teks, dogma, atau mistik yang lari dari dunia. Kemunduran peradaban itulah yang kemudian kita warisi di sini, di nusantara. Salah satu bentuknya adalah tradisi yang dilanjutkan oleh NU, yang menemukan bentuknya dalam dunia pesantren.

Penjajahan Kulit Putih

Di Nusantara, ketika Islam mulai tersebar, tiba-tiba datang orang kulit putih. Mereka datang membawa senjata baru, ilmu pengetahuan, dan kuasa. Dan kemudian kita dukuasai.

Sayangnya ternyata kita tak punya power untuk membendung penjajahan itu. Kita malah disibukkan dengan urusan-urusan yang membuat kita bertengkar sendiri.

Akhirnya, mau tidak mau, kita belajar dari penjajah. Tentang ilmu-pengetahuan, tentang teknologi, dan lain sebagainya. Dan kemudian kita sadar, kalau kita ketinggalan zaman.

Menerima Filsafat

Ilmu-ilmu pengetahuan, seperti Biologi, Astronomi, Psikologi, Sosiologi, Kedokteran, atau teknologi, hampir tidak ada yang lahir dari dunia pesantren. Ya ini wajar saja, sebab ilmu-ilmu modern itu lahir dari pergolakan yang cukup panjang nan berdarah di Eropa. Lahir dari renaissance yang mencoba menggali kembali filsafat Yunani Klasik. Andai kata Eropa waktu itu tetap menolak filsafat, maka sampai sekarang Eropa akan tetap dalam kegelapan.

Oleh karenanya maka, dalam bahasa kita, jika kita tidak segera mengumpulkan serpih-serpih kayu dan mengikatnya, lalu segera menjadikannya soko guru peradaban Islam kita, maka selamanya kita akan terseok-seok menjadi masyarakat yang paling tercecer di sepanjang peradaban zaman. Sungguh hina.

Lantas cacian Alqur’an menemukan gemanya disini: afalaa tatafakkaruun? Otakmu dimana cuk?!

Baca juga: Bukan Zaman Wahyu

Blandongan, 7 Juni 2015

*Penganut Kampretisme

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here