Cerita dari Gang Ndasen

13
Cerita dari Gang Ndasen

tubanjogja.orgGang Ndasen

Oleh: Mbah Takrib

Memang susah jadi pelacur

Malam ini udara terasa dingin, seperti biasanya menjelang pergantian musim, cuaca menjadi tidak menentu. Kadang udara terasa sangat panas kadang menjadi dingin menyayat.  Apalagi di tempat tinggalku kini, yang berada di pesisir pantai. Selain bau asin yang pekat, lengket dan amis, setiap malam kami–warga penghuni Gang Ndasen– harus bercumbu rayu dengan angin laut yang datang mengabarkan rasa perih pada setiap gubuk penghuni gang ini.

Ah, malam yang membosankan, sudah lebih tiga jam aku berdiri di tepi jalan pantura. Dan tak ada seorangpun yang membelas lambaian tanganku. Tidak seperti 20 tahun yang lalu, ketika aku mulai menjajakan diri di jalan ini. Tidak sampai 10 menit aku datang dengan pakaian yang ketat, para pria langsung mengerumuniku dengan berlomba menawarkan harga. Mereka yang datang, dari berbagai kalangan, mulai supir truk sampai pejabat teras di pemerintahan. Aku tinggal pilih dengan siapa aku bercinta dan mengubur luka  di malam-malam itu.

Kadang bagiku, harga tidak menjadi penting. Asal bisa menghabiskan malam dengan Harmoko di penginapan langganan kami, dengan uang sukarelanya untuk makan dan belanjaku esok hari serta sedikit menabung untuk keluarga di kampung. Aku sudah bisa berdamai dengan keadaan. Sebab aku tahu, Harmoko hanya pegawai tingkat bawah di satpol PP pemerintahan di daerahku. Aku harus berbagi dengan keluarganya dari hasil gaji Harmoko tiap bulan.

Kini usiaku sudah melewati kepala empat, rasanya tubuhku mulai menua, kulit nampak kriput, otot-otot ku pun mengendor. Pelangganku juga semakin terbatas, pada tukang becak, nelayan dan para supir truk yang sedang kesepian. Cukup dengan uang 30-50rb saja sekali kencan. Harmoko, seorang lelaki yang kucintai dulu, juga sudah tidak pernah lagi datang padaku. Kabar yang ku dengar, kini dia sudah sukses, naik pangkat menjadi kepala satpol PP. Rasanya cukup senang mendengarnya, tandanya tuhan masih sayang padaku, dengan mengabulkan satu diantara doaku di setiap malam.

Cerita II: Sebrang Gang Ndasen

*

Petang yang semakin sepi, hari akan berganti dan pagi segera datang membawa harapan. Doaku malam ini, semoga  hari esok lebih baik.  Sebagai pelacur jalanan sepertiku, apalagi doa yang terpenting selain perbaikan nasib, nasibku juga keluargaku. Sekian lama aku menjalani hidup sebagai pelacur, dan tak ada yang kudapatkan selain bertahan hidup dan rasa sakit sepanjang hari. Hal yang bisa kubanggakan hanya menyekolahkan dua keponakan sampai lulus SMA dan membeli beberapa ekor kambing di kampung halaman.

Kadang aku merasa sudah saatnya pensiun dari pekerjaan ini, menghabiskan waktu di kampung dengan mengenang masa kecil yang menyenangkan. Kenangan yang selalu datang ketika malam terasa membosankan. Semasa kecil dulu, tidak seharusnya aku berada di pinggir jalan di tengah malam begini.

Semasa anak-anak, malam adalah waktu istirahat setelah capek dari sekolah, bermain, mengaji di langgar (mushola) dan membantu orang tua. Waktu kecil, aku berharap agar cepat tumbuh mejadi dewasa, sebagaimana kedua orang tuaku. Menikah, membangun keluarga, berladang, merawat dan membesarkan anak-anak yang lahir dari rahimku besama seorang lelaki yang bertanggung jawab.

Namun, mimpi itu hilang, ketika pak Bagyo, pejabat dari Pemda datang ke rumah. Bersama segerombolan orang berbadan tegap, ia membawa amplop berisi sejumlah uang dan surat-surat pernyataan. Orang tuaku dipaksa menjual ladang kami, karena kata pak Bagyo, ladang sebagai sumber mata pencarian keluarga kami itu, masuk dalam area eksploitasi perusahaan pabrik semen yang akan dibangun.

Pak Bagyo bilang “kita sedang dalam masa pembangunan dan mengejar percepatan pertumbuhan ekonomi, pembangunan pabrik semen adalah upaya membuka lapangan pekerjaan dan memulai era baru”.

Setelah mendengar penjelasan pak Bagyo, bapak bertanya.

“Lalu bagaimana nasib keluarga kami jika ladang itu kami jual?”

Pak Bagyo menjawab

“Nanti akan ada uang ganti rugi, selama menunggu pabrik dibangun dan menanti pekerjaan baru, bapak dan keluarga bisa hidup dengan uang tersebut. Anak-anak bapak bisa disekolahkan terlebih dahulu supaya bisa terserap sebagai pegawai di pabrik semen nantinya”.

Kata-kata yang penuh harapan dan manis menurut anak seusiaku yang baru lulus SD. Mendegar yang disampaikan pak Bagyo, aku membuang mimpi menjadi petani. Membanyangkan, desa kami menjadi desa yang ramai sebagaimana kota-kota besar seperti yang diceritakan bapak guru di sekolah. Kemudian aku berada di antara keramaian itu, bekerja di pabrik semen membantu menafkahi keluarga. Kedua orang tuaku tidak perlu berpanas-panas di ladang pada musim kemarau dan kedinginan di musim hujan.

‘Memang susah jadi petani’, fikirku sembari menyimak percakapan mereka.

Mengikuti keluarga yang lain, kedua orang tuakupun menjual semua ladangnya. Memang berat menjual tanah leluhur, tapi apa daya, sebab kata pak Bagyo, jika ladang bapak tidak dijual juga percuma, karena lahan di area eksploitasi akan di tutup aksesnya.

Cerita III: Telikungan Gang Ndasen

*

Aku menunggu mimpi yang dijanjikan pak Bagyo itu datang, sembari menempuh pendidikan setingkat SMP di desaku. Hari-hari kuhabiskan untuk belajar, mengejar prestasi di sekolah, supaya bisa diterima bekerja di pabrik semen. Sampai saat itu, aku merasa tidak ada perjuangan yang sia-sia, aku selalu mendapat nilai terbaik di kelas.

Hingga pada suatu ketika, saat lulus SMA aku memberanikan diri mendatangi pabrik yang baru saja selesai dibangun, untuk melamar pekerjaan. Namun, bukan pekerjaan yang kudapatkan, melainkan penjelasan-penjelasan yang akan mengubur mimpiku selama ini. Sesuatu yang tidak pernah terfikirkan oleh ku, bahwa untuk menjadi pegawai di pabrik semen minimal harus lulus sarjana. Mereka yang tidak berpendidikan tinggi hanya bisa diterima sebagai kuli, itupun harus laki-laki dengan tenaga yang kuat.

Sedang, sudah tidak mungkin lagi orangtuaku menyekolahkanku di jenjang berikutnya. Sebab, uang dari hasil menjual ladang sudah kian menipis, hanya cukup untuk makan di penutup tahun dan menyelesaikan sekolah adik perempuanku. Saat itu aku baru sadar, bahwa apa yang pernah disampaikan pak Bagyo sebagai perwakilan Pemda adalah kebohongan.

*

Hari-hari telah berganti dan tahun pertamaku sebagai pengangguran juga telah berlalu. Keluarga kami semakin tidak berdaya, ketika bapak mulai sakit-sakitan dengan batuk berdarah. Memang setelah kehilangan mata pencarian sebagai petani, bapak menyambung hidup keluarga kami dengan menjadi buruh panggul di pabrik semen, bergumul dengan asap dan debu.

Suatu hari, Asih teman sekolahku pulang dari kota. Ia terlihat cantik dan modis dengan perhiasan yang nampak mahal. Aku mulai tertarik dengan Asih untuk mendengar cerita seputar kehidupan dan pekerjaan di kota. Saat pertama melihatku ia langsung menyapa dan tersenyum ramah. Sebagaimana semasa di sekolah ternyata Asih tidak berubah, selain kehidupan baru yang nampak mapan.

Dengan nada pelan, Asih bercerita banyak kehidupannya di kota sebagai pelacur. Melihat kondisi keluargaku ia merasa perihatin dan mengajakku pergi ke kota untuk menjajakan diri. Setelah berfikir panjang, tanpa ada pilihan lain keluar dari kubangan kemiskinan dan penderitaan, akupun menerima tawaran itu.

Cerita IV: Tepi Gang Ndasen

*

Mungkin, sudah nasibku hidup malajang sebagai pelacur.  Semua ini, telah kuterima sebagai takdir dari yang maha kuasa. Semenjak menjajakan diri, akupun harus merubah nama dari Ningsih menjadi Ruslina, supaya tidak ada yang mengenaliku di kota, sebab pelacur adalah pekerjaan hina kata orang-orang.

Entahlah, mana sebenarnya yang lebih hina. Aku seorang pelacur jalanan? Mereka yang datang padaku setiap malam? Atau mereka yang melacur demi kekuasaaan dengan menipu dan membohongi rakyat? Ataukah ini hanya pembenaran atas pilihan hidup yang nista ini?

Hah, rasanya kelopak mata ini harus beristrahat, esok mungkin aku harus berhemat lagi. Sebab malam ini tak ada tamu yang datang.  Memang sudah saatnya aku berhenti menjual diri. Aku berharap sebelum pensiun di bulan ini, bisa bertemu Harmoko. Bernostalgia, mendengar cerita-ceritanya di sepanjang malam. Oh Tuhan inilah doaku malam ini.

*

Udara kian menusuk tulang, saat aku mulai beranjak pergi meninggalkan tepian jalan, tempat kami menyandarkan harapan. Tiba-tiba datang segerombolan orang berseragam coklat. Teriakan dan jeritan terdengar dimana-mana. Doaku terjawab, Harmoko berdiri tepat di hadapanku, Ia nampak lebih gagah dengan seragam berpangkat.

Cerita V: Surat untuk Harmoko

Blandongan, 7 Juni 2015

*Cucu dari Mbah Takrib.

13 KOMENTAR

  1. betul kang, dari lewat tuklisan kita jihad melawan pembodohan, mari ciptakan arus pemikiran kritis dengan literasi

  2. Setelah kita semua kembali ke Tuban, kita rebut hak kita. Hilangkan sifat hedonis dan juga kapitalis. Rakyat yang paling utama. Cukup di masa lalu dan masa sekarang, pipit tak lagi tersenyum. Ketika kita sudah punya masa nanti. Kita hidupkan budaya literasi di Tuban. Semangat mas. Nanti saya akan banyak belajar dari tulisan-tulisannya..

  3. Bagus critanya ☺☺☺☺…. andai pemerintahan lebih mmperhatikan rakyat kecil, mungkin semua itu tak perlu terjadi…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here