Teori Ketergantungan dan Upaya Membongkar Mitos Modernisasi

3

tubanjogja.org – Teori Ketergantungan

Teori Ketergantungan

Oleh; Mbah Takrib*

Teori ketergantungan atau dependency teory adalah salah satu teori yang melihat permasalahan pembangunan dari sudut Negara Dunia Ketiga. Menurut Theotonio Dos Santos, Dependensi (ketergantungan) adalah keadaan dimana kehidupan ekonomi negara-negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan ekspansi ekonomi negara lain. Dimana negara tersebut lebih banyak mendapat dampak dan sedikit menerima hasil (obyek).

Melihat hubungan yang timpang, teori ketergantungan mengambil peran pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara pinggiran. Maka dapat dikatan bahwa teori ketergantungan mewakili “suara negara pinggiran” untuk menentang hegemoni ekonomi, politik dan budaya (termasuk intelektualitas) negara induk.

Baca juga: Kejatuhan Uni Soviet dan Ekspansi Rusia di Tuban

  1. Awal Mula

Teori ketergantungan pertama kali muncul di Amerika latin. Pada mulanya, teori ini lebih merupakan jawaban atas kegagalan program yang dijalankan oleh ECLA (United Nation Economic Commission For Latin America) pada masa awal tahun 1960-an.[1] Lembaga tersebut dibentuk dibentuk dengan tujuan untuk mampu menggerakkan perekonomian di negara-negara Amerika Latin dengan membawa percontohan teori medernisasi yeng telah terbukti di Eropa.

Namun teori modernisasi yang dikembangkan itu, tidak mampu membawa Amerika Latin pada taraf kesejahteraan. Ini sebagaimana disampaikan oleh Raul Presibich selaku direktu ECLA. Ia dan kawan-kawannya memberikan kritik terhadap teori modernisasi, bahwa perkembangan yang terjadi pada negara maju tidak berbanding lurus dengan negara-negara berkembang. Dalam analisisnya,aktivitas ekonomi di negara-negara yang lebih kaya justru sering kali membawa kepada masalah-masalah ekonomi di negara-negara miskin.[2]

Teori ketergantungan juga lahir atas respon ilmiah terhadap pendapat kaum Marxis Klasik di Amerika Latin. Menurutnya, Amerika Latin harus melihat tahap revolusi industri “borjuis” sebelum melampaui revolusi sosialisasi proletar. Namum demikian revolusi Republik Rakyat Tiongkok tahun 1949 dan Revolusi Kuba pada akhir tahun1950-an menperlihatkan bahwa negara dunia ketiga tidak harus selalu mengikuti tahap-tahap perkembangan tersebut. Tertarik pada model pembangunan RRC dan Kuba, banyak intelektual radikal di Amerika latin berpendapat bahwa negara-negara di Amerika Latin dapat saja langsung menuju dan berada pada tahapan revolusi sosialis.

Caranya adalah dengan keluar dari jerat ketergantungan terhadap negara induk. untuk itulah, kemudian teori ketergantungan lahir sebagai pisau analisis situasi dan kondisi di negara dunia ketiga. Tetapi sesungguhnya, teori ini berangkat dari analisis kelas yang dikembangkan oleh Marx, sehingga teori ketergantungan disebut juga kelanjutan dari teori Marxis.

Walaupun kenyataannya, teori ketergantungan merupakan kelanjutan teori Marxis (Neo Marxist). Oleh karena teori ketergantungan banyak ditopang oleh kelompok neo marxisme. Hal ini tercermin sebagaiaman yang mereka  nyatakan; sejumlah negara inti mengeksploitasi beberapa negara yang lebih lemah demi kemakmuran mereka. Berbagai versi teori ini menyebutkan bahwa hal ini bisa bersifat tidak terhindarkan. Untuk itu, perlunya teori ini bagi kelompak neo Marxis adalah sebagai instrumen perubahan.

  1. Kritik Atas Teori Modersnisasi

Teori ketergantungan merupakan teori yang mengkhususkan penelitiannya pada hubungan antara negara Dunia Pertama dan Dunia Ketiga. Teori yang pada awalnya memusatkan perhatian pada negara-negara Amerika Selatan telah membuka mata terhadap akibat dominasi ekonomi. Dengan dampaknya, membumbungnyahutang kesenjangan sosial-ekonomi dari pembangunan di banyak negara Dunia Ketiga.[3]

Kesenjangan tersebut disebabkan oleh dua hal dari hubungan yang tidak sehat. Pertama Negara bekas jajahan (negara ketiga) dapat menyediakan sumber daya manusia dan sumber daya alam, semua hal itu menjadi investasi yang menguntungkan bagi negara pertama (penjajah atau negara maju). Kedua, negara kurang maju (negara ketiga) dapat menjadi pasar untuk hasil produksi negara maju dan hal ini adalah kegiatan eksploitasi yang menyebabkan negara-negara kurang maju mengalami kemiskinan terus-menerus. Sehingga, nilai lebih dari kekayaan selalu lari ke negara maju.

Hal sebagai kritik atas asumsi teori modernisasi yang menganggap bahwa pembangunan itu seharusnya berkiblat dan mencontoh negara negara barat yang terlebih dahulu maju. Serta menganggap penyebab tidak berkembangnya sebuah negara dikarena faktor-faktor dalam negara tersebut yang menghambat gerak pembangunan. Oleh karena itu, segala faktor internal tersebut harus dihapus dengan mencontoh negara-negara barat.

Negara-negara dunia ketiga yang mengikuti hal tersebut ternyata justru menghadapi masalah dalam perekonomian. Mereka terikat pada tingginya angka hutang piutang dan angka inflansi yang tinggi. Hal ini dialami oleh beberapa negara yang terletak di wilayah Amerika Latin. Dalam hubungan negara maju dan negara tertinggal terjadi hubungan yang tidak seimbang. Ketimpangan hubungan yang tidak sejajar ini menyebabkan negara tertinggal tidak dapat berkembang kearah maju.

Sedangkan menurut teori ketergantungan, penyebab masalah pembangunan di beberapa negara dunia ketiga adalah faktor eksternal, yakni hubungan yang tidak sejajar diantara negara maju dan negara tertinggal ataupun intervensi dari negara maju terhadap negara tertinggal.

Theotonio Dos Santos mendefinisikan bahwa ketergantungan adalah hubungan relasional yang tidak imbang antara negara maju dan negara miskin dalam pembangunan di kedua kelompok negara tersebut [Theotonio Dos Santos, review, vol. 60, 231]. Dia menjelaskan bahwa kemajuan negara Dunia Ketiga hanyalah akibat dari ekspansi ekonomi negara maju dengan kapitalismenya. Jika terjadi sesuatu negatif di negara maju, maka negara berkembang akan mendapat dampak negatifnya pula. Sedangkan jika hal negatif terjadi di negara berkembang, maka belum tentu negara maju akan menerima dampak tersebut. Sebuah hubungan yang tidak imbang. Artinya, dampak positif dan negatif berkembangnya pembangunan di negara maju akan dapat membawa dampak pada negara miskin.

Teori ketergantungan menekankan bahwa aspek eksternal dari pembangunan menjadi penting. Negara-negara yang ekonominya lebih kuat, bukan saja menghambat karena menang dalam bersaing, tetapi juga ikut campur dalam mengubah struktur sosial, politik, dan ekonomi Negara yang lebih lemah.

2. Warisan Pemikiran

  1. Raul Prebisch

Prebisch mengkritik keusangan konsep pembagian kerja secara internasional yaitu Internasional Division of Labor (IDL).IDL lah menurut Presbich yang menjadi sebab utama munculnya masalah pembangunan di Amerika Latin.Adanya teori pembagian kerja secara internasional (IDL), yang didasarkan pada teori keunggulan komparatif, membuat negara-negara di dunia melakukan spesialisasi produksinya. Oleh karena itu, negara-negara di dunia terbagi menjadi dua kelompok, yaitu negara-negara center/pusat yang menghasilkan barang industri dan negara-negara pheriphery/pinggiran yang memproduksi hasil-hasil pertanian. Keduanya saling melakukan perdagangan, dan menurut teori ini, seharusnya menunjukan hal yang sebaliknya. Negara-negara center yang melakukan spesilisasi pada industri menjadi kaya, sedangkan negara pengirian (pheriphery) tetap saja miskin. Padahal seharusnya kedua negara sama kaya karena perdagangannya saling menguntungkan.[4]

Analisis Raul Prebisch terhadap kemiskinan negara pingiran

  1. Terjadi penurunan nilai tukar komoditi pertanian terhadap komoditi barang industri. Barang industri semakin mahal dibanding hasil pertanian, akibatnya terjadi defisit pada neraca perdagangan negara pertanian bila berdagang dengan negara industri.
  2. Negara-negara industri sering melakukan proteksi terhadap hasil pertanianmereka sendiri, sehingga sulit bagi negara pertanian untuk mengekspor ke sana (memperkecil jumlah ekspor negara pinggiran ke pusat).
  3. Kebutuhan akan bahan mentah dapat dikurangi dengan penemuan teknologilama yang bisa membuat bahan mentah sintetis, akibatnya memperkecil jumlah ekspor negara pinggiran ke negara pusat.
  4. Kemakmuran meningkat di negara industri menyebabkan kuatnya politik kaum buruh. Sehingga upah buruh meningkat dan akan menaikan harga jual barang industri, sementara harga barang hasil pertanian relatif tetap.

Solusi yang ditawarkan Raul Prebisch

Presbich berpendapat negara-negara yang terbelakang harus melakukan industrialisasi, bila mau membangun dirinya, industrialisasi ini dimulai dengan Industri Substitusi Impor (ISI).ISI dilakukan dengan cara memproduksi sendiri kebutuhan barang-barang industri yang tadinya di impor untuk mengurangi bahkan menghilangkan penyedian devisa negara untuk membayar impor barang tersebut. Pemerintah berperan untuk memberikan proteksi terhadap industri baru. Ekspor bahan mentah tetap dilakukan untuk membeli barang-barang modal (mesin-mesin industri), yang diharapkan dapat mempercepat indrustrialisasi dan pertumbuhan ekonomi. Bagi Presbich campur tangan pemerintah merupakan sesuatu yang sangat penting untuk membebaskan negara-negara pinggiran dari rantai keterbelakangannya.

  1. Andre Gunder Frank

Andre Gunder Frank merupakan seorang ekonomi berkebangsaan Amerika-Jerman sekaligus seorang sejarawan ekonom dan sosiologis. Salah satu pemikirannya yang terkenal yaitu teori ketergantungan, Frank sangat menyoroti adanya ketergantungan ekonomi khususnya bagi negara dunia ketiga. [5]

Dalam teori ketergantungan, Frank mengkritik teori modernisasi. Salah satu asumsi teori modernisasi ialah bahwa dominasi negara maju membawa dampak positif berupa menularkan nilai-nilai modern terutama penyebaran teknologi (Moeis, 2009: 5). Kemajuan di negara-negara majulah yang menyebabkan keterbelakangan di negara dunia ketiga. Menurut Frank keterbelakangan merupakan hasil kontak yang diadakan oleh negara berkembang dengan negara maju (Moeis, 2009: 6 dalam Budiman, 2005).

Frank menganggap teori modernisasi hanya memandang dari sisi negara maju sehingga mengenyampingkan sejarah lahirnya negara dunia ketiga yaitu kolonialisasi. Menurut teori ketergantungan pemerintahan kolonial dibentuk dengan tujuan untuk menjaga stabilitas negara koloninya bukan untuk membangun negara koloninya (Moeis, 2009: 7 dalam Suwarsono, 1991). Sehingga menurut Frank nilai-nilai tradisional yang dijunjung tinggi negara dunai ketiga bukanlah suatu keterbelakangan, karena sebelum adanya kolonialisasi beberapa negara berkembang seperti Cina dan India merupakan pusat perdaban terbesar dunia. Sehingga keterbelakangan negara dunia ketiga tidak terjadi secara alami namun dipengaruhi oleh sejarah sosial ekonomi kolonialisme.

Frank pada intinya menyebutkan Teori Dependensia merupakan sebuah pembangunan keterbelakangan, dalam bukunya yang sangat berpengaruh, Capitalism and Underdevelopment in Latin America, Frank mengatakan: “Saya percaya, bersama Paul Baran, bahwa kapitalisme, baik yang global maupun yang nasional, adalah faktor yang telah menghasilkan keterbelakangan dimasa lalu dan yang terus mengembangkan keterbelakangan dimasa sekarang”.

Andre Gunder Frank dalam bukunya: “Capitalism and Underdevelopment in Latin America”, menggunakan konsep yang mirip dengan Prebisch dengan istilah negara-negara metropolis dan negara-negara satelit. Kaum borjuis di negara-negara metropolis bekerjasama dengan pejabat pemerintah dan kaum bojuis di negara-negara satelit. Fungsi kaum borjuis dan pemerintah negara satelit adalah sebagai payung politik serta memberi kemudahan bagi beroperasinya borjuis negara metropolis. Karena itu kemakmuran rakyat jelata jadi dinomor-duakan.

Tiga komponen utama teori Frank:

  1. Modal asing.
  2. Pemerintah lokal di negara-negara satelit.
  3. Kaum borjuis di negara-negara satelit. Pembangunan hanya terjadi dikalangan mereka. Sedangkan rakyat banyak, yang menjadi tenaga upahan, dirugikan.

Ciri-ciri dari perkembangan kapitalisme satelit:

  1. Kehidupan ekonomi yang tergantung.
  2. Terjadinya kerjasama antara modal asing dengan kelas tuan tanah (pemerintah) dengan para pedagang (borjuis lokal).
  3. Terjadinya ketimpangan antara yang kaya (kelas yang dominan yang melakukan eksploitasi) dan yang miskin (rakyat jelata yang dieksploitir) di negara-negara satelit.

Akhirnya Frank menyatakan keterbelakangan di suatu negara hanya bisa diatasi melalui revolusi yang melahirkan sistem sosialis, tanpa melalui sistem kapitalis terlebih dahulu.

  1. Paul Baran

Menurut Paul baran adalah seorang pemikir Marxisme yang menolak pandangan Marx tentang pembangunan dinegara-negara dunia ketiga. Bila Marx mengatakan bahwa sentuhan negara-negara kapitalis maju kepada negara-negara pra-kapitalis yang terbelakang akan membangunkan negara-negara yang terakhir ini untuk berkembang, seperti negara-negara kapitalis di Eropa. Baran berpendapat lain, baginya, sentuhan ini akan mengakibatkan negara-negara kapitalis tersebut terhambat kemajuannya dan akan terus hidup dalam keterbelakangan.

Dengan pendapatnya yang berbeda dengan Marx, Baran menyatakan bahwa perkembangan kapitalisme di negara-negara pinggiran, berbeda dengan perkembangan kapitalisme di negara-negara pusat. Di negara pinggiran sistem kapitalisme seperti terkena penyakit kretinisme. Orang yang dihinggapi penyakit ini tetap kerdil dan tidak bisa besar. Menurut baran kapitalisme di negara-negara pusat bisa berkembang karena adanya tiga prasyarat:

Meningkatnya produksi diikuti dengan tercabutnya masarakat petani di pedesaan.

  1. Meningkatnya produksi komoditi da terjadinya pembagian kerja mengakibatkan sebagian orang menjadi buruh yang menjual tenaga kerjanya sehingga sulit menjadi kaya, dan sebagian lagi menjadi majikan yang bisa mengumpulkan harta.
  2. Mengumpulnya harta di tangan para pedagang dan tuan tanah.
  1. Neo Marxis

Teori depedensi juga memiliki warisan pemikiran dari Neo-Marxisme keberhasilan dari revolusi Cina dan Kuba ketika itu telah mebantu tersebarnya perpaduan baru pemikiran-pemikiran Marxisme di universitas-universitas di Amerika latin yang menyebabkan generasi baru dan dengan lantang menyebut dirinya sebagai Neo-Marxisme.

Beberapa pendapat Neo-Marxisme:

  1. Neo-Marxisme melihat imprealisme dari sudut pandangan negara pinggiran. Dengan lebih memberikan perhatian pada akibat imperialisme pada negara-negara dunia ketiga.
  2. Neo-Marxisme percaya, bahwa negara dunia ketiga telah matang untuk melakukan revolusi sosialis.
  3. Neo-Marxisme lebih tertarik pada arah revolusi Cina dan Kuba, ia berharap banyak pada kekuatan revolusioner potensial dari para petani pedesaan dan perang gerilya tentara rakyat.[6]

*Penulis adalah pengikut madzhab pemikiran kampretian di KPMRT

 

[1]. Fakih Mansour. 2009.Teori Pembangunan dan GlobalisasiINSISTPress Jakarta., hlm. 34.

[2]. Suwasono dan so. 2000. Perubahan social dan pembangunan LP3ES Jakarta. hal 90

[3]http://demokrasistyle.blogspot.co.id/2015/10/teori-ketergantungan-dependency-theory.html

[4]http://demokrasistyle.blogspot.co.id/2015/10/teori-ketergantungan-dependency-theory.html

[5]http://www.feqrastafara.com/2010/05/teori-dependensi.html

[6]http://vaniamonicaaa.blogspot.co.id/2015/03/teori-ketergantungan.html

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here