TUHAN SELALU ADIL

0
Tuhan Selalu Adil
Ilustrasi di ambil dari pixabay.com
Tubanjogja.org, Tuhan Selalu Adil
 Oleh: Siti Afiah*
Tuhan Selalu Adil
Ilustrasi Diambil Dari pixabay.com
Jalanan ini bagiku begitu memukau. Banyak anak-anak manusia yang mengorbankan dirinya dari keramaian kota, berhura-hura, dan kemudian berproses menjadi manusia mulia. Sungguh, ini pemandangan yang sebelumnya tak pernah kutemukan di kampung halaman. Gumamku dalam hati. “Coklat?” kata Ana sambil menyodorkan sebatang coklat yang kusuka. “Terimakasih, An.” Kuterima coklat itu lalu kumakan sembari duduk di latar menikmati alunan merdu Al-Qur’an. “Semenjak kehadiranku di desa ini sebagai mahasiswa magang, aku semakin yakin bahwa masih banyak hal yang luar biasa di dunia ini. Aku memang terlahir dari keluarga non muslim. Ayahku memiliki gereja terbesar di Yogyakarta sedangkan mamaku adalah seorang bisnis women. Sejak kecil aku tak pernah mendengar lantunan merdu seperti yang dilantunkan anak-anak kecil ini, An. Aku sangat menikmatinya. Sungguh.” Panjang lebar kuceritakan siapa diriku sesungguhnya kepada Ana. Ana adalah warga kampung Sidohasri yang belum lama kami kenal, namun begitu akrab. Sungguh, kehadirannya membuatku semakin semangat menjadi manusia yang lebih baik lagi.
“Aku tak terlalu mengenal agama-agama lain, Pris. Sejak kecil aku hanya diajarkan mengenal satu agama dan satu Tuhan. Agama Islam dan Allah sebagai penguasa jagad raya nan agung. Di sini memang banyak sekali ritual keagamaan, termasuk pengajian rutin setiap malam, Pris. Maaf kalau memang aktivitas kami mengganggumu.” Ucap Ana sambil memegang pundakku. Matanya ingin sekali mengatakan bahwa ia benar-benar minta maaf jika semua warga di desa ini tidak begitu klik dengan kehadiran Priska. “No problem, An. Aku sungguh benar-benar bangga bisa bertemu denganmu, dengan warga di kampung ini, dengan alunan merdu yang sungguh aku tak akan mampu melukiskannya dengan kata-kata. Bagiku, ini adalah anugerah Tuhan yang terindah. Its oke. Aku menikmatinya.” Berkali-kali aku meyakinkan Ana agar membuang seluruh rasa sungkan dan tidak enak hati kepadaku.
Persimpangan jalan, Sidohasri. Malam itu, aku menemukan wajah yang teduh. Wajah yang memancar indah di balik malam yang pekat. Wajah yang begitu mengagumkan. Entah seperti apa rasanya, yang jelas hati ini berdebar kencang. Berjuta rasanya. “Assalamualaikum, Ana. Hendak pergi kemana malam-malam begini?” pria berwajah teduh itu menyapa Ana dengan ucapan santun dan senyum yang menyejukkan. Begitulah kiranya aku mendiskripsikan dirinya, orang asing yang kukenal di persimpangan jalan. “Waalaikumsalam, kang Fatih. Ini mau mengantar tamu ke rumah pak kades. Ada keperluan wawancara.” Ucap Ana dengan senyuman yang tersungging di bibirnya. Waktu itu kami hanya sempat bertatap muka dan sedikit senyum tanpa berkenalan satu sama lain. namun aku yakin, bahwa pria berwajah teduh itu, Fatih adalah pria yang baik dan santun. Hanya insting saja sih. hehe “Masih jauh An, rumah pak Kades?” aku memulai berbincang ringan dengan Ana. “Sebentar lagi, Pris. Memang jalannya seperti ini, agak jelek, bolong-bolong juga. Hehe” Ucap Ana sedikit bergurau. “Hehe. Iya,An. Mungkin pemerintah sedang tertidur, makanya tidak terlalu tahu jalan yang seharusnya diperbaiki dan tidak.” Celetukku. “Hahaha..” sejenak, kami pun tertawa renyah bersama.
***
Aku mulai merasakan kenyamanan yang luar biasa di desa ini, bersama Ana, kang Fatih dan warga yang lain. meski tak selamanya lurus dengan apa yang sebelumnya kugambarkan. Banyak hal-hal di luar dugaan dan berbanding jauh dalam kenyataan. “Selamat pagi, mbak Ana Fatmia..” sapaku di pagi hari dengan sedikit mengganggunya. “Pagi cah ayu.. sudah bangun kamu, Pris?” “Sudah dong.. agenda hari ini kamu engga lupa kan?” kataku sembari mengingatkan Ana. “Iya, cah ayu. Ndak lupa kok. Nanti kita ke rumah orang tuanya kang Fatih aja, mereka tokoh masyarakat yang paling disegani di kampung ini.”
“Siap komandan.” Kamipun mengakhiri percakapan pagi itu dengan tertawa bersama. Ada rasa yang kurang wajar saat Ana mengatakan akan berkunjung ke rumah kang Fatih pagi ini. Itu berarti, aku akan melakukan wawancara dengan orangtuanya. Orangtua dari seorang yang diam-diam kukagumi. Sungguh, ini belumlah saatnya. Aku harus bisa menahan rasa yang belum pasti namun selalu mengukir dan menggerogoti hati. Rumah kang Fatih “Loh, nak Ana.. ada perlu apa singgah kesini?” Dengan antusias, seorang wanita paruh baya yang diduga adalah ibu kang Fatih itu bertanya. Wajahnya sangat teduh, tidak heran jika melahirkan tunas bangsa berwajah teduh pula. “Oh, iya buk. Ini saya mengantar teman saya. Ingin sedikit berwawancara dengan ibuk dan bapak. Kalau sekiranya hari ini ada waktu, kami mohon kesediaannya ya buk.” Ana dengan sangat sopan mengutarakan maksud kedatangan kami. Itu adalah salah satu ciri khas Ana. Lembut dan sopan. Jarang sekali wanita seperti Ana kutemui di Semarang. Keluarga kang Fatih dengan senang hati menerima dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang kulontarkan. Mereka juga sangat menghormatiku sebagai kristiani.
Selain itu, mereka juga bertanya tentang keseharianku di Semarang. Tentu sebagai pribadi yang berbeda keyakinan, aku agak merasa sungkan. Apalagi kalau sampai bapak ibuk kang Fatih tahu keluargaku mempunyai gereja terbesar di Semarang. Sungguh, bukan apa-apa. Aku hanya belum siap saja. lebih tepatnya karena memang tidak ingin ada yang tahu tentang kehidupanku sebenarnya. Aku menemukan senyum indah di bibir pemuda penuh taat itu. dengan penutup kepala yang digunakan sehari-hari, kang Fatih nampak lebih gagah. Seperti yang dikatakan oleh Ana beberapa hari yang lalu, bahwa kang Fatih tidak pernah melepas penutup kepala itu. mereka menyebutnya sebagai songkok/kopiah. Aku banyak belajar tentang Islam. Semenjak kedekatanku dengan Ana, aku diam-diam mulai mengagumi keyakinan yang sebelumnya tak pernah aku bayangkan seindah ini. “Selamat pagi, Priska.” Sapaan hangat itu mulai terlontar dari bibir kang Fatih. Membuyarkan lamunanku tentang apa-apa yang hendak kurancang sempurna. Hampir sempurna, karena pada hakikatnya tak ada sesuatu apapun di muka bumi ini yang sempurna.
“Eh.. Pagi, kang.” Jawabku dengan gugup. Dari situ, kami mulai berbicara banyak, ngobrol ringan tentang kegiatan kuliahku, dan sedikit bercanda lewat ucapan-ucapan nyleneh dari kang Fatih. Dan, saat itu pula aku mulai peka dengan tatapan mata yang seolah-olah membuatku jatuh pingsan tak berdaya. Tatapan mata yang seolah-olah menghancurkan denyut nadi dan menyumbat aliran darahku. Ya, tatapan mata itu (?)
***
Tuhan, salahkah aku mencintainya seperti mencintai hujan? Mencintai rinai angin Mencintai balutan semilir angin Mencintai rumput-rumput liar sepanjang jalan Mencintai samudra luas dengan gelombang ombak mendamaikan Salahkah? Yang kutahu, mereka sama-sama ciptaan-Mu Lantas, apakah salah dengan rasa ini? [MF] Tak sengaja aku membaca buku yang terserak di meja belajar Ana. Ada sedikit keganjalan saat menemukan kata terakhir yang terselip diantara tanda kurung. MF? Apa maksud dari MF? Seribu pertanyaan muncul di kepalaku. Merasa ingin tahu siapa dan apa maksud inisial itu. namun, kulangkahkan kakiku menjauh dari meja belajarnya. Rasanya lancang jika harus membacanya tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku cukup tahu tentang hal yang milikku dan bukan. Entahlah.
***
Jauh hari setelah membaca tulisan Ana yang terserak di meja belajarnya, aku mulai faham sedikit demi sedikit. Aku mulai faham siapa inisial itu. MF adalah inisial dari nama seorang lelaki yang kukagumi. Bahkan sepertinya, bukan hanya aku saja yang mengaguminya, semua gadis pun akan terlena bahagia dengan senyum simpul, berdebar hatinya. Aku yakin. Benar-benar yakin. Malam itu, sebelum mendengar ulang hasil wawancaraku dengan pak Hadi, bapak kang Fatih, telingaku tanpa sadar telah banyak mendengar perbincangan dua keluarga besar terkait perjodohan yang katanya, telah lama disetujui. Sontak tubuh, batin, dan semua rongga pernafasanku dipenuhi asap yang begitu mengepul. Susah bernafas. Rasanya seperti tidak ada lagi kehidupan baru yang penuh warna. Semuanya pekat, gelap, hitam tak ada lagi senyuman.
“Pris, sore-sore ngelamun. Ada apa cah ayu?” Ana menghampiriku dengan menyodorkan teh hangat buatannya sendiri. Andai kau tahu perasaanku saat ini, An. Aku sangat tersiksa dengan perasaan ini. “Kenapa apanya, wong lagi menyusun strategi buat penelitian lagi kok.” Aku berusaha menetralkan seluruh perasaan ini di hadapan Ana. Kuambil segelas teh dan kuteguk perlahan. Seperti layaknya wanita lain, aku sangat pintar dalam urusan menyembunyikan perasaan. Memang begitulah wanita, ia selalu saja bertikai dengan hati dan perasaannya sendiri. Menyembunyikan sama saja dengan menganggap semuanya aman. Padahal, semakin lama disembunyikan, ia semakin tak karuan. Dua hari sebelum kepulanganku ke Semarang, Ana sempat memberitahuku tentang hubungannya dengan kang Fatih. Hubungan yang kemudian akan berlangsung ke akad pernikahan. Hubungan dua keluarga dengan satu agama yang mendamaikan. Biarlah hanya perasaan ini yang tahu bahwa hati ini juga menyimpan rasa yang begitu dalam kepada kang Fatih. Biarlah, Tuhan maha Adil. Malam terakhir di Sidohasri Aku semakin tergerak untuk segera meninggalkan desa ini. Desa dengan adat dan suasana yang menenangkan.
Meski aku harus rela berpisah dan meninggalkan lara ini kepada sahabat terbaikku selama di Sidohasri. Ana, maukah kau memaafkan hati ini? Satu hal yang kuyakini dalam hidup ini, bahwa setiap ada pertemuan pasti akan menyisakan kenangan. Kenangan yang bahkan telah mampu menghapus kenangan-kenangan lain yang telah lama bersemayam di memori hati ini. Kenangan yang kemudian menyisakan tangisan perih. Tangisan yang tak bisa terelakkan. Malam ini, aku menulis sedikit ucapan terimakasih dan maaf kepada Ana. Sengaja aku menyampaikannya lewat tulisan meski pada akhirnya aku juga akan berpamitan dengan semuanya. akan ada banyak kenangan yang tersisa di sini. ya, di desa ini. Malam, Ana. Dengan datangnya surat ini, semoga kau bersama keluarga senantiasa sehat. Selamat ya, atas pertunanganmu dengan kang Fatih. Aku turut bahagia. Sungguh, tak bisa kulukiskan kebahagiaan ini. Apakah harus dengan tersenyum? Tertawa? Atau malah menangis? Entahlah An. Nanti di baris selanjutnya kau akan tahu sendiri bagaimana aku melukiskan kebahagiaan ini.  An, aku bingung mau memulainya dari mana. Yang jelas, aku sangat berterimakasih karena kamu telah memperkenalkan aku dengan lelaki yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Sosoknya mampu menginspirasi setiap detik dan desah nafasku. Terimakasih, An. Kau adalah Muslimah terbaik yang pernah ku kenal, An. Dulu, aku pernah berkenalan dengan orang Islam.
Namanya Raiyya. Orangnya baik sih, tapi agak kaku dalam urusan yang lain. hehe.. tak perlu kuucapkan mungkin ya. Aku mengenalmu lebih dari teman, An. Aku bahkan telah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri. Tapi, bagaimana mungkin kau menerima aku sebagai saudaramu? Bukankah kau hanya menganggap saudara mereka yang berkeyakinan sama denganmu? Entahlah, An. Meski begitu, aku akan selalu menganggapmu saudaraku. An, aku mencintai kang Fatih. Mungkin ini menyakitkan bagimu. Tapi apakah kau juga tahu apa yang kini kurasakan? Mendengar berita pertunanganmu kemaren, hati dan pikirku tak bisa lagi pulih seperti biasa, An. Ia lumpuh seketika. Tersambar petir dan terguyur hujan begitu lama. Ia terluka An. Tapi, kau tak perlu khawatir. Aku sudah merelakannya untukmu, An. (berterimakasih dong, hehe) Bukan apa-apa aku memberitahumu tentang semua ini,An. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kita sempat punya perasaan yang sama. Namun, endingnya akan tetap berbeda. Jalani semuanya dengan baik, An. Semoga kalian bahagia. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Priska. Segera kuletakkan surat itu di atas meja belajar Ana. Ini menjadi hari yang begitu spesial dalam hidupku. Menikmati indahnya cinta dari Tuhan tanpa harus memiliki seutuhnya. Aku hanya butuh cara agar aku bisa menemukan sesosok lelaki seperti kang Fatih. Dan sekali lagi, aku cukup bahagia bisa mengenal Islam. Seperti yang sering kudengar dari Ana, Tuhan memang selalu Adil.
*Penulis adalah Mahasiswa aktif STAI Al-Anwar, Sarang, Rembang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here