PELUK AKU, MA

3
Peluk Aku
Gembili sedang merenung. Menghayati hidupnya yang entah...

Tubanjogja.org, Peluk Aku

Peluk Aku
Gembili sedang merenung. Menghayati hidupnya yang entah…

Oleh: Gembili*

Di sebuah desa terdapat seorang pemuda yang cukup tampan. Dia tinggal di sebuah rumah bersama seorang nenek yang cukup tua. Pemuda yang terlahir pada tahun 1987 ini selama hidupnya diasuh oleh seorang nenek dan sampai sekarang pun tak tau siapa dan di mana orang tuanya berada. Dia memang pemuda yang pandai, sejak SMP selalu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Kini dia sedang menduduki semester akhir  salah satu perguruan tinggi di Jogja. Bukan karena Abdul kaya dan neneknya mampu, melainkan karena prestasi dan kegigihannya

Setiap malam, di sela-sela keheningan dia selalu terbayang orang tuanya. Berkali-kali ia tanyakan tentang kegelisahan itu pada neneknya, dan jawaban yang sama selalu dia dapatkan. Neneknya pernah bercerita tentang orang tuanya. Waktu itu Abdul menginjak usia 3 bulan, bapak dan ibunya bercerai karena bapaknya tergoda oleh wanita cantik anak seorang pengusaha yang masyhur.  Semenjak itu ibunya memutuskan untuk pergi ke Surabaya untuk bekerja. Setiap satu bulan sekali ibunya selalu mengirimkan uang untuk keperluan Abdul dan neneknya. Namun, setelah Abdul menginjak usia dua tahun tiba-tiba tak ada kabar lagi dari ibunya dan tak pernah lagi mengirimkan uang. Semenjak itulah nenek usaha berdagang Dumbek, jajanan khas Tuban untuk menghidupi dan menyekolahkan Abdul.

Abdul memang anak yang pandai dan kritis. Dia bercita-cita ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun kini neneknya pun sudah tidak bisa berjualan keliling karena faktor usia.Sebab itu, sedikit demi sedikit Abdul mencoba menabung. Dia ingin mendirikan usaha kecil-kecilan di rumah dan ingin mendirikan sebuah toko. Kebetulan ada tanah yang cukup luas dan cukup untuk mendirikan toko. Dia  ingin supaya neneknya yang menjaga toko agar neneknya tak lagi berdagang keliling.

Beternak adalah sebagian dari hobi Abdul dan kini dia mempunyai empat ekor kambing. Suatu hari keinginannya dicerita kepada neneknya kalo dia ingin mendirikan toko dan meminta izin kepada neneknya untuk menjual kambing-kambingnya sebagai modal. Dia memang anak yang gigih dan akhirnya toko yang diinginkan terwujud dan sekarang neneknya tak perlu berjualan keliling. Singkat cerita akhirnya Abdul telah menyelesaikan kuliahnya dan dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke S2. Kebetulan dia melanjutkan S2 di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Dua minggu sekali dia pulang, sebab keadaan neneknya sudah tua. Dia agak ragu meninggalkan neneknya untuk jangka waktu yang lama.

Setelah berbincang bincang dengan neneknya dia pun diberi izin. Dia lega karena kata neneknya dia akan ditemani seorang gadis cantik tetangga sebelah yang bernama Ima. Memang, Ima sosok wanita yang polos, cantik dan baik hati. Dia juga menyukai Abdul dan Abdul pun menyukainya. Namun, karena Abdul ingin mewujudkan keinginannya Ima pun harus bersabar dan menunggu sampai saatnya Abdul siap.

Dua minggu sekali Abdul pulang untuk menjenguk neneknya dan melihat-lihat keperluan tokonya. Terkadang dia juga menanyakan kondisi neneknya lewat Ima. Sesaat di rumah saat-saat heningnya malam Abdul dan nenek sedang bersantai sambil menikmati kopi buatan neneknya, ia teringat tentang orangtuanya. Abdul pun kembali menanyakan soal ibunya, “Nek, mungkinkah ibu masih ada? Mungkinkah aku masih bisa bertemu dengan ibu nek?”

Sambil tersenyum menaruh kopi yang telah diminumnya, nenek mengambil sebuah foto kecil yang terletak di dinding tak lain adalah foto masa kecil Abdul. “Cucuku, di dunia ini tak ada yang tidak mungkin selagi kita masih berusaha, berdoa dan yakin. Tidak ada yang tidak mungkin bersamaNya,” tutur nenek.

Tepat pukul 04:15 Abdul  bersiap-siap berangkat ke Surabaya untuk kuliah. Ketika akan berangkat dan berpamitan dengan neneknya, nenek teringat ciri-ciri atau tanda lahir yang dimiliki ibunya. Nenek pun menjelaskan soal ciri-ciri itu, siapa Abdul menemukan orang yang seperti itu. Itulah ibunya.

Kuliah Abdul memang tidak penuh, hanya tiga kali pertemuan dalam satu minggu. Tak terlalu jauh pula jarak antara kos dengan kampusnya. Setiap ke kampus, Abdul harus jalan kaki dan harus melewati sebuah pasar karena itulah satu-satunya jalan terdekat menuju kampus. Setiap mendekati pasar, Abdul selalu menjumpai orang gila yang kata orang di sekitar, orang gila itu suka ngamuk dan melukai orang sehingga kini terdapat sebuah rantai yang mengikat kakinya dengan sebuah pohon besar di dekat pasar. Abdul cukup prihatin dan dia juga takut kalau tiba-tiba orang itu rantainya lepas dan mengejarnya. Setiap melewati pasar atau pun di keramaian Abdul selalu memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Dia berharap bisa menemukan ibunya.

Suatu hari ketika dia sedang pulang kuliah terdapat kericuhan di pasar dan ternyata orang gila itu yang menyebabkan kericuhan. Orang gila itu merebut boneka kecil milik seorang anak yang sedang bermain di dekat ia terikat. Semakin lama Abdul semakin prihatin melihat orang gila itu. Akhirnya Abdul mendatangi salah satu pejabat desa di dekat pasar. Dia ingin memusyawarahkan sebaiknya orang itu ditempatkan di tempat yang selayaknya, yaitu di rumah sakit jiwa. Karena di sana orang itu akan mendapatkan perawatan yang seharusnya ia dapatkan, bukan seperti ini yang diikat seakan dia anjing yang diberi makan di atas mangkuk dan minum di dalam bathok. “Manusia bukan hewan dan hewan bukan manusia. Jadi apa salahnya kalau kita perlakukan dia semestinya orang yang sakit dan kita bawa ke rumah sakit?” ujar Abdul kepada salah satu pejabat desa. Tapi sayangnya pejabat itu tidak menanggapi.

Dua minggu Abdul belum pulang dan dia merasa kangen dengan nenek. Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Ima supaya bisa bicara dengan neneknya. Setelah saling menanyakan kabar neneknya. Neneknya teringat kalau ibunya dulu berpamitan ingin bekerja di salah satu toko di Surabaya. Seketika itu Abdul  langsung mencari toko yang disebutkan neneknya. Akhirnya Abdul menemukannya dan menanyakan salah satu pegawai yang cukup lama bekerja di situ. Kata seorang yang bekerja di situ memang pernah ada orang yang bekerja di situ dengan ciri-ciri seperti yang di jelaskan Abdul dan telah lama ibu itu meninggalkan toko dengan alasan ingin bekerja di sebuah pabrik perhiasan yang gajinya cukup besar. Lama berbincang akhirnya Abdul menanyakan alamat pabrik itu dan mencarinya. Setelah berjam-jam akhirnya dia temukan sebuah pabrik yang alamatnya persis dengan yang dibawa. Tapi setelah dia masuk ternyata pabrik itu kosong dan tak terpakai. Abdul sangat bingung, harus bertanya kepada siapa lagi sedangkan pabrik itu telah lama tak dipakai. Akhirnya Abdul kembali pulang dengan rasa hati yang tak karuan. Setiap malam dia slalu berdoa supaya dapat menemukan ibunya.

Di halaman kos, memang sering ada anak kecil yang bermain dan dia sering menghampiri Abdul untuk minta diajari PR. Anak itu berusia tujuh tahun dan menginjak kelas dua SD. Dia berani main ke situ karena memang dia anaknya ibu kost yang di tempatinya. Hampir setiap malam anak itu membawakan makanan untuk Abdul. Anak itu memang cerdas dan keluarganya pun juga baik dengan Abdul.

Tiga minggu ia belum pulang dan akhirnya nenek meminta Ima untuk menelpon Abdul supaya dia segera pulang. Karena  keperluan di toko juga mau habis, jadi Abdul harus pulang. Ketika dia sampai di rumah dia menceritakan tentang pencarian ibunya. Dia bercerita kalau ibu juga pernah bekerja di sebuah pabrik perhiasan dan sekarang pabrik itu telah kosong lama tak terpakai. Nenek pun  mendengarkan apa yang di ceritakan dan memberi semangat untuk Abdul. ‘’Seorang pemuda yang berusaha keras untuk mencari dimana keberadaan ibunya itu adalah perbuatan yang mulia,” kata nenek.

Tiga hari Abdul di rumah dan  jam empat pagi dia harus siap-siap kembali  ke Surabaya. Ketika ingin berangkat, ia teringat kepada anak kecil yang selalu mengirim dia nasi dan minta diajari PR, dan dia ingin memberikan sesuatu kepada anak itu, dia ingin membelikan sebuah boneka yang lucu dan menarik. Sesampai di Surabaya Abdul ingin sekali segera memberikan boneka itu. Jarak antara terminal dengan kosnya memang tidak terlalu jauh dan dia memutuskan untuk jalan kaki supaya bisa mampir ke pasar karena ada keperluan yang dia lupa jadi dia harus membelinya di pasar. Setelah menyelesaikan belanjanya, ia segera bergegas pulang. Namun ketika  bersimpangan dengan orang gila itu, tiba-tiba hujan datang dan sangat lebat. Dia pun mencari tempat berteduh dan beristirahat di emperan toko.

Hujan memang lebat dan dia sangat kasihan melihat orang gila itu yang kehujanan. Dia ingin menghampiri untuk meneduhkannya tapi dia ragu ragu dia takut kalau dia diamuk. Orang gila itu memandangi boneka itu. Dia teringat waktu kericuhan di pasar yang disebabkan orang gila karena ingin merebut boneka milik anak-anak. Seketika itu Abdul membulatkan tekat ingin meneduhkannya dengan cara memberikan bonekanya supaya dia tak ngamuk. Perlahan Abdul mendekatinya sedikit demi sedikit dia menghampirinya dengan diajukan boneka ke depannya. Akhirnya orang itu tersenyum dan memainkan boneka itu di tengah derasnya hujan. Abdul mulai berpaling ke belakang orang itu untuk melepas rantainya. Perlahan dia melepasnya. Memang sulit karena telah lama rantai itu tak di lepas. Terdiam sejenak, Abdul memikirkan bagaimana cara melepas rantai yang telah lama itu. Sambil matanya mengarah ke leher orang gila itu, tiba-tiba mata Abdul mengeluarkan air mata di tengah derasnya hujan yang menerpa dan seketika  langsung memeluk orang itu. Apa yang dikatakan neneknya memang persis apa yang dilihat di depan matanya dan dia yakin orang gila itu adalah ibunya yang bertahun-tahun menghilang.

Baca Juga Hal Menarik Lainnya : Di Fanspage Kami

*Penulis kelahiran Tuban, berdarah Mawot, alumni Asshomadiyah. Sekarang sedang menggeluti dunia sastra, sekaligus kuliah di Jurusan Siyasah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2016. Penulis anggota aktif di KPMRT Yogyakarta. Selain itu, penulis juga dijuluki Master of Sambel di kos Griya Hana barat.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here