Pledoi dari Kerek

16

tubanjogja.orgKerek

surat-dari-kerek

Kepada

Bapak Haji Huda

tercinta

Salam Bahagia,

Apa kabar bapak? Semoga selalu ditenangkan hatinya, amin. Sudah cukup lama ya kita tidak ketemu. Seingatku, terakhir bapak mengunjungi kami di Kerek itu lima bulan lalu, atau mungkin tujuh bulan silam ya, ah aku lupa! Pokoknya waktu itu, gegara bapak, jalan utama di kecamatan kami hiruk oleh mobil-mobil mewah dan ayah-ayah berseragam hijau yang ke sana kemari. Pemandangan yang cukup membosankan sih sebenarnya, tapi berhubung karena itu demi menghormati bapak, ya apa boleh buat.

Oh iya bapak, tau ndak kalau sekarang kecamatan kami punya brand baru. Secara pasti, aku ndak tau siapa yang berjasa atas ini. Yang ku tau, ini beredar luas semenjak kita punya media-media berita yang berseliweran liar di dunia maya. Media-media tersebut bak gurita yang lepas dari sarangnya, menyebar, tanpa undang-undang, tanpa pemilik, tanpa batasan, dan sejenisnya. Jadi, sudah ada gambaran toh, mengapa brand tersebut cepat sekli melekat pada kecamatan kami.

Baca juga: Ilusi Masa Kecil Anak yang Dibesarkan di Sekitar Pabrik Semen

Mengenai brand ini, sejujurnya saya resah nan prihatin. Tapi, kadang-kadang juga senang sih. Senangnya ya gara-gara brand kami lebih lekas diakui saja oleh segenap teman-teman Tuban dibanding brand kota Tuban sendiri yang sampai hari ini belum menemukan  fans-nya. Ups, maaf bapak! “Saya harap, bapak ndak keburu tersinggung ya. Kami butuh sosok ayah yang mau mendengar segala keluh-kesah kami. Terima kasih bapak!”

Untuk hal ihwal resah, mungkin kapan-kapan bapak main ke sini lagi aja deh. Ya, kalau meminjam bahasa teman-teman kuliahan, biar pendekatan bapak itu “empatik” terhadap kami, anak-anakmu di Kerek!

Bagaimana ndak resah ya? Di kecamatan kami itu ada 17 desa. Setiap desa punya geo-psikis masing-masing. Desa ini modelnya tertutup, desa ini rada sentimen, desa itu ramah, desa itu galak, dan sebagainya. Bapak sudah tau kan? Lha itu masalahnya, mengapa saat ada satu saja desa mencoba untuk menciptakan anomali, yang kena getahnya harus keseluruhan desa?

Halo bapak! Masihkah kau di sana? Maksudku brand di atas adalah brand “bacok” bapak. Beberapa bulan ini, kami di Kerek sering mendengar cletukan kalau Kerek itu “kota bacok” dan bacok itu “Kerek”. “Ngeri toh?” Ya begitulah, salah satu yang ku resahkan. “Semoga panjenengan selalu update berita-berita tentang ini di sana! Semoga pula smartphone yang selalu menemani itu berfungsi efektif di tangan penjenengan!”

Poinnya begitu saja sih bapak. Aku pribadi, hari-hari ini mulai ndak nyaman dengan brand tersebut. Apalagi saat bertemu dengan teman-teman montong yang sekarang jalanannya mulus bak paha Wantikah (Sinden populer di Kerek) itu, bertemu dengan Jenu yang punya wisata pasir putih (Meski tak terurus sih), dengan teman-teman Jatirogo yang perkembangan ekonominya melambung gegara kabupaten-kabupaten tetangga, dengan teman-teman Senori yang kaya minyak, teman Parengan yang multi-bengkoang (Meski perputarannya pun di Bojonegoro, bukan Tuban), dan teman-teman lainnya. Hampir setiap hari mereka melempar bully padaku, pada Kerek tercintaku. Lebih-lebih saat mereka ingat kalau di Kerek ada pabrik-pabrik semen yang sebelum ayam di belakang rumahku berkokok pun sudah melepaskan asap terindahnya. Sakit toh?

Bahkan kabar terakhir yang ku dengar, katanya di Kerek sudah kedatangan tamu dari tiga semen lagi. Benarkah itu bapak? Kalau pun iya, apakah dua semen yang selama ini mengganggu tidur kami di Kerek kurang mampu mengetuk hati panjenengan bapak hingga butuh tiga semen lagi?

Baca Juga : Pledoi; Curahan Hati Si Anak Malang

Wahai Bapak Bupati yang kami cintai, taukah njenengan bahwa di Kerek ada satu desa terpencil yang namanya “Mliwang”? Semoga tau! Mliwang saat ini terhimpit di antara dua raksasa asap, Holcim dan Semen Indonesia. Pun, konon tanah di sekelilingnya sudah sold out. Adakah gambaran di benak njenengan bapak? Bagaimana perasaan njenengan saat melihat anak-anak yang tak lagi bisa menikmati haknya untuk menghirup udara bersih? Bagaimana juga hati bapak saat menjumpai adigium “Gemah Ripah Lohjinawe” hanya tinggal cerita belaka? Ah entahlah. Rasanya mentok! Seakan kita membutuhkan “agama” baru untuk ini.

Zzz, tampaknya bapak lelah. Mungkin itu saja sih. Terima kasih atas kelebaran telinganya… Oh iya, nembe ingat! Ada satu pertanyaan lagi bapak. “Mengapa ya yang beredar di media-media itu tentang bacokan-nya? Kenapa tidak mengenai semen-semennya itu? Eh ndak tau deh…Peace!”

Salam,

Ur beloved,

Ipung di Margomulyo-Kerek

16 KOMENTAR

  1. nggeh mas, sebenarnya banyak potensi daerah kita yang jika dikembang punya nilai ekonomis tinggi dan bisa menjadi mensejahterakan rakyat. apalagi dengan adanya undang-undang desa harusnya potensi ekonomi di setiap daerah bisa dikembangkan termasuk batik. agar kita tidak bergantung pada industrialisasi ekstraktif yang dampak dan resikonya cukup besar dalam keberlangsungan hidup.

  2. makasih mas wahyu, nggeh sangat boleh, kalau mas wahyu punya tulisan yang bisa dibagi soal tuban maupun yang lain mongggo dikirim di admin kami., untuk kita diskusikan bersama. alamat emailnya tubanjogja@gmail.com 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here