Membaca?

0
Tuban Jogja Membaca

 tubanjogja.org – Membaca

Sampai sore ini, salah satu kebiasaan burukku adalah membaca buku sambil makan gorengan. Bukan apa-apa sih. Cuma lucu aja saat tiba-tiba mendapati setiap bukuku ada cap jari yang terabadikan dengan minyak.

Ah, tapi itu tidak masalah. Bahkan sama sekali tidak masalah. Yang terpenting hari ini, aku kembali bernafsu untuk membuka halaman-halaman buku.

Sebenarnya, feel ini tertaut erat dengan omongan-omongan mereka mengenai buku dan membaca.  Selama ini, kalau boleh jujur, aku termasuk mereka yang lebih nyaman dengan kesimpulan bahwa membaca bukanlah ukuran pinter-tidaknya seseorang. Bahkan sama sekali tidak. Apalagi dengan diktum, “Membaca dan buku adalah ruh pelajar”. Ah, apa itu?

Baca juga: Buku yang Kubaca, dalam Delapan Pertanyaan

Tidak ada unsur politis di sini. Hanya saja, apakah mereka yang setiap Senin – Jumat sekolah dan Sabtu-Minggu mroyek (kerja) tidak layak kita sebut “tidak cukup pintar” hanya gegara jarang baca buku? Aku kira sangat mereduksi jika kita me-iya-kan itu!

Menurutku, membaca dan buku sama halnya dengan memetik dan gitar atau juga dengan melukis dan kanvas. Jemari yang biasa memetik gitar, kita tidak bisa memaksanya melukiskan tinta di atas kanvas. Sama halnya dengan membaca. Eh, apalagi gaya memaksanya dengan gembar-gembor, “Membaca adalah jendela dunia”. Huu . . .!

Di sini, aku tidak bermaksud mengumpat siapa pun yang mencintai buku. Tidak pula genit terhadap Bung Hatta yang konon mempersembahkan satu buku karyanya untuk sang pacar. Apalagi sampai me-ngece Napeleon B. yang jare-jare tiap sebelum bobok, dia meminta tolong temannya untuk membacakan buku sampai pulas, tidur. Percayalah, aku begini bukan demi semua itu. Tapi, ini hanya untuk me-“alarm” bahwa setiap dari kita memiliki bakat dan minatnya masing-masing. Sama sekali naif jika kita me-goblok-kan kucing gegara ia tidak bisa berenang!

Baca juga: Penjahat itu, Bernama Penjaga Perpustakaan

Kesimpulannya—biar kayak adek-adek kita yang masih di SD—kita penting untuk membiasakan dalam “pikir” bahwa setiap orang itu “pinter” di wilayahnya masing-masing. Dan supaya lebih mudah untuk menjadi begitu, mulailah terbiasa dengan melihat apa pun, bukan dari kacamata bidang kita. Tapi, dari kacamata bidang objek yang kita lihat. Huahaha!zav

Baca juga: Jogja dan Buku Bajakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here