Telaga Kemanusiaan dalam Budaya Jawa

0
Ilustrasi adalah lukisan karya Budiyana.

tubanjogja.org Budaya Jawa

Budaya Jawa
Ilustrasi adalah lukisan karya Budiyana.

Oleh: Lev Widodo*

Wong Jawa Nggone Semu (Mangkunegara IV, dalam Serat Wedhatama)

Sesepuh Jawa, tulis Iman Budhi Santosa dalam Spiritualisme Jawa: Sejarah, Laku, dan Intisari Ajaran (Memayu Publishing, 2012), punya ibarat yang imajinatif untuk menggambarkan kebudayaan Jawa dalam perjumpaannya dengan beragam kebudayaan lain. Di mata mereka, kebudayaan Jawa itu bagai telaga.

Telaga menampung, mengayomi, mengemong, dan memayu berbagai unsur: ikan, ganggang, batu, dedaunan, ranting, dan lain-lain. Kalau diamati dengan teliti, secara alami dalam diam dan heningnya telaga menata letak berbagai unsur tersebut sehingga terbangun hubungan yang harmonis. Unsur yang satu tidak menegasikan unsur yang lain, tapi saling menegaskan eksistensi yang lain. Saling membangun. Saling asah, asih, dan asuh. Hidup, tumbuh, dan berkembang dalam kebersamaan.

Kalau pun secara natural harus ada konflik yang berujung pada kematian sejumlah unsur, konflik itu dipahami sebagai mekanisme rantai makanan demi kesinambungan ekosistem. Hukum alamnya, kematian sebagian untuk kehidupan keseluruhan. Selanjutnya, kehidupan keseluruhan untuk kehidupan sebagian. Satu untuk semua, semua untuk satu. Dari sudut pandang tertentu terkesan kejam memang. Tapi, harus ada yang rela berkorban untuk mewujudkan harapan bersama. Harus pula ada yang mengalah untuk mempertahankan persatuan dan melanggengkan perdamaian.

Saya kira, metafora telaga inilah jawaban dari tanda tanya besar yang tersirat dalam karyatama Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya. Dalam buku tersebut, seolah-olah Lombard bertanya, mengapa kebudayaan Jawa berhasil tampil gemilang sebagai lokus persilangan antarbudaya? Sepanjang aliran sungai sejarah, kebudayaan Jawa menyerap masuk sejumlah tradisi agung dunia yang semula asing baginya: Hindu, Buddha, Islam, kemudian modernisme.

Lebih dari sekadar menyerap, kebudayaan Jawa bahkan mensistesiskan dan mengintegrasikan tradisi-tradisi yang tampak saling bertolak belakang tersebut. Sayangnya, oleh kebanyakan sarjana luar, sintesis dan integrasi yang dilandasi rasa kemanusiaan ini lebih dipandang sebagai sinkretisme dan heretisme, bukan sebagai strategi kebudayaan untuk mengatasi merosotnya nilai kemanusiaan. Bila nilai kemanusiaan merosot, konflik sosial yang ditunggangi kepentingan ekonomi politik dan dilekati simbol-simbol keagamaan tumbuh bagai cendawan pada musim hujan.

Pada zaman Majapahit, Mpu Tantular menggubah kitab mistiko-teologis Kakawin Sutasoma. Dia berusaha mensistesikan dan mengintegrasikan dua tradisi agung, yaitu Hindu dan Buddha. Kita ingat, di tanah asalnya, agama Buddha lahir sebagai kritik internal terhadap penyimpangan implementasi ajaran Hindu. Maka, kedua agama ini tampak berlawanan. Tapi, demi membangun kembali rasa kemanusiaan yang secara hipotesis pada masanya sedang merosot di Majapahit, Mpu Tantular berkisah bahwa Hindu (Siwa) dan Buddha tidak berlawanan. Siwa dan Buddha adalah dua jalan untuk menuju tujuan yang tunggal: The One, Sang Hyang Tunggal, Sang Maha Esa. Bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa. Berbeda jalan tapi tunggal tujuan, tak ada darma yang mendua.

Pada zaman Demak, teladan Mpu Tantular diteruskan oleh Wali Sanga, persarikatan alim-ulama tanah Jawa, khususnya Sunan Kalijaga. Dia mensistesiskan dan mengintegrasikan agama Majapahit—perpaduan sedemikian rupa agama Siwa-Buddha dan tradisi warisan leluhur Jawa—dengan agama Islam, tanpa tergelincir jatuh dalam penyimpangan teologis. Asas sintesis dan integrasi itu adalah anglaras ilining banyu, ngeli ning ora keli; melangkah seirama aliran air, mengalir tapi tak hanyut. Kejawaan sekali lagi difungsikan sebagai telaga yang menampung, mengayomi, mengemong, dan memayu tradisi-tradisi agung dari luar.

Sunan Kalijaga berupaya mensistesiskan dan mengintegrasikan tradisi Siwa-Buddha dan tradisi Islam. Tujuannya, membangun kembali nilai kemanusiaan yang secara hipotesis jatuh pada zamannya. Babad Tanah Jawi merekam konflik sosial berdarah yang melibatkan sisa-sisa kekuatan Majapahit dan golongan politik Islam yang sedang tumbuh kala itu.

Dalam tembang dolanan Ilir-Ilir, Sunan Kalijaga menyebut sintesis dan integrasi antar-tradisi ini sebagai penganten anyar, pengantin baru. Gerakan sosial penganten anyar dijalankan oleh para budayawan yang dilambangkan sebagai bocah angon, anak gembala, berlandaskan prinsip among. Instrumen gerakan sosial tersebut terutama adalah kesenian. Sebagai contoh, Sunan Kalijaga dan gurunya, Sunan Bonang, mengisi simbolisme wayang—yang merupakan warisan kultural Majapahit—dengan falsafah tasawuf.

Pada zaman Mataram Islam permulaan, selaku kader Sunan Kalijaga, Sultan Agung melanjutkan gerakan kebudayaan yang telah dirintis gurunya. Bocah angon ini menciptakan kalender Jawa Islam, sebuah sintesis dan integrasi penanggalan warisan Majapahit dan penanggalan Islam.

Pada zaman mataram Islam selanjutnya, Hamengkubawana I mendesain baju takwa, pakaian tradisional Islam Jawa. Dia juga merancang arsitektur keraton dan tata ruang kota dengan landasan kosmologi tasawuf. Pakubawana IV memimpin penulisan Serat Centhini, ensiklopedi keilmuan Islam Jawa. Pujangga Yasadipura II, yang tergabung dalam tim penulisan tersebut, mengarang kitab lain, yaitu Serat Sasanasunu, yang bagi saya merupakan Ihya Ulumiddin versi Islam Jawa.

Pada puncaknya, Ranggawarsita III menggubah Wirid Hidayat Jati. Sosrokartono mengajarkan bahwa kejawaan dan keislaman tidak berlawanan, justru keduanya adalah kesatuan yang bulat dan tak terpisahkan. “Ingkang tansah kula mantepi,” ujarnya “setunggal, agami kula, lan kalih, kejawen kula. Inggih bab kalih punika ingkang kula luhuraken.” Yang selalu saya hayati dengan teguh adalah pertama, agama saya (Islam) dan kedua, kebudayaan Jawa saya. Dua hal inilah yang senantiasa saya junjung tinggi.

Berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, pada generasi pasca-Ranggawarsita III semangat kemanusiaan yang melandasi gerakan integrasi dan sintesis antar-tradisi dalam kebudayaan Jawa tampil secara tersurat dan benar-benar gamblang. Paling tampak sejak permulaan abad ke-20, di samping tradisi Hindu, Buddha, dan Islam, telaga kebudayaan Jawa pun menampung kebudayaan luar lain yang masuk ke Indonesia serempak dengan masuknya kolonoliasme, yaitu modernisme.

Sosrokartono sendiri mengajarkan, “Sinau melu susah, melu sakit. Tegesipun sinau ngudi raos lan batos. Sinau ngudi kamanungsan. Ganjarane ayu lan arume sesami.” Belajar ikut susah, ikut sakit. Maknanya, belajar mengolah rasa dan batin. Belajar mengolah rasa kemanusiaan. Upahnya adalah keselamatan dan keharuman sesama.

Ki Ageng Suryomentaram, yang secara modern membangun ilmu psikologi Jawa, berpesan: hamemayu hayuning salira (menjaga keindahan kodrati diriku sendiri dan orang lain). Ki Hadjar Dewantara, tokoh kejawaan yang menjembatani perjumpaan gagasan dan gerakan Sosrokartono dan Ki Ageng Suryomentaram, mendirikan perguruan Tamansiswa, sebuah lembaga pendidikan alternatif dan pascakolonial yang menempatkan kemanusiaan sebagai salah satu pilar dalam filsafat pendidikannya.

Soekarno, murid ketiga guru tersebut, berjuang mengintegrasikan dan mensistesikan ideologi tiga golongan pergerakan kebangsaan antikolonial, yaitu nasionalisme, Islam, dan marxisme, yang kemudian dia bakukan dan (sayangnya) bekukan dalam ungkapan nasakom. Bagi Soekarno, tujuan jangka pendek dari integrasi dan sintesis tersebut adalah kemerdekaan Indonesia dari belenggu penjajah(an). Tujuan jangka panjangnya adalah membangun kemanusiaan: membebaskan manusia yang lemah dari penindasan, kezaliman, dan eksploitasi manusia yang kuat.

Maka jelaslah, integrasi dan sintesis antar-tradisi dalam kebudayaan Jawa—yang secara tergesa-gesa disimpulkan sebagai sinkretisme dan heretisme oleh sarjana luar, juga oleh agamawan yang sok purifikatif—dilatarbelakangi dan dilatardepani oleh rasa kemanusiaan. Ada cinta dalam telaga kemanusiaan kebudayaan Jawa. Leluhur Jawa berpesan kepada anak cucunya untuk menghayati sikap tepa selira (empati) dan andhap asor (rendah hati), juga untuk menjauhi perilaku dumeh (mentang-mentang) dan adigang adigung adiguna (sewenang-wenang).

Hanya saja, sesuai dengan wataknya yang suka merendah dan mengalah, orang Jawa menyembunyikan getaran rasa kemanusiaan dan merahasiakan nyala cinta itu, justru untuk mempertahankan dan melestarikan keduanya. Orang Jawa, yang sudah dan masih Jawa, memilih tidak menonjol demi mengayomi, mengemong, dan memayu berbagai kelompok kebudayaan yang lain.

Kebudayaan Jawa, dalam rangka mewujudkan tugasnya untuk hamemayu hayuning bawana (menjaga keindahan kodrati alam semesta), cukup mengambil peran sebagai panggung, lokus, dan telaga. Dalam keheningan, kebeningan, dan ketenangannya, kebudayaan Jawa menata komposisi kidung yang ditembangkan secara bersama-sama oleh berbagai kebudayaan lain. Untuk mencapai maksud itu, orang Jawa tidak mengacung-acungkan keris telanjangnya di depan umum. Dia menyarungkan keris pusakanya, lalu menyelipkannya di belakang punggung. Dalam diam, dia berjalan merunduk secara hati-hati, anggun, dan pelan, selaras dengan irama alam.

Pertanyaannya, apakah saat ini kebudayaan Jawa masih melampahi peran sebagai telaga kemanusiaan?

Bumi Mataram, Sapar 1438 H

NB: Keinginan untuk menulis artikel ini datang setelah saya membaca buku Spiritualisme Jawa: Sejarah, Laku, dan Intisari Ajaran. Terima kasih kepada Cak Mas’ud MJS yang meminjami saya buku penting tersebut. Terima kasih pula kepada Mas Iman yang telah membagikan pengalaman dan ilmunya antara lain melalui buku tersebut.

*Peulis adalah Pelaku Budaya asal Jambi, Sumatera. Sekarang sedang menempuh pedidikan tinggi di Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here