Sebuah Omong Kosong tentang Seni Menulis  

2
tubanjogja.org – Seni Menulis
Seni Menulis
Indonesia Raya

Oleh: Lev Widodo*

Seni beda dengan teknik. Belajar seni tak kenal kata final, rampung, khatam, dan sejenisnya. Belajar teknik ada

finalnya. Saya sudah selesai belajar teknik naik sepeda kalau saya bisa naik sepeda sesuai dengan, minimal mendekati, teori naik sepeda.

Sementara itu, ukuran ketuntasan dan keberhasilan belajar seni bersepeda tidak sebatas bisa naik sepeda berdasarkan teknik bersepeda yang telah pakem. Belajar seni bersepeda adalah menghayati aktivitas bersepeda. Mencari makna bersepeda. Kalau makna itu tak juga ditemukan, kitalah yang memberikan makna. Dengan demikian, bersepeda jadi hal yang berharga dalam kehidupan kita. Kita pun akhirnya berujar tegas: bersepeda adalah kita.

Menulis, sebagai seni, pun demikian. Seni menulis melupakan kata final dan membuang kalimat aku sudah bisa. Menulis adalah proses entah sepanjang apa yang pangkalnya jelas tapi ujungnya tak kunjung tampak, bagai ujung cakrawala yang tak pernah benar-benar bisa dijangkau pandangan mata kita.

Menulis itu seperti beragama. Seperti mencari ilmu. Sebagai seni, menulis itu kelakone kanthi laku. Menulis adalah lelaku yang dibangun dengan penghayatan. Perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit. Menulis bukan sulap. Pun bukan sihir. Dalam seni menulis, tak ada mantra simsalabim atawa abakadabra. Tak ada metode instan untuk menguasai seni menulis.

Belajar (teknik) menulis sebulan dua bulan, memang bisa. Dalam jangka waktu sekilat itu, jika belajar sungguh-sungguh, Anda memang akan menghasilkan karya. Bahkan, boleh jadi jumlahnya tak sedikit. Tapi kita tak bisa yakin tentang kualitas karya cepat saji semacam itu. Adakah rasa dalam karya itu? Apakah tulisan itu mengandung ruh? Apakah menyentuh hati?

Hati, ya hati. Memang seni tak pernah, juga tak mau, bercerai dari hati. Di mana ada seni, di situ ada hati. “Teknik” menulis tak mau ambil pusing dengan hati. Di lain pihak, seni menulis bertumpu pada hati. Tanpa hati, seni bukan seni. Tanpa hati, menulis bukan seni, bukan pula lelaku.

Maka sebagai seni, menulis itu memang baper. Tapi ekspresi, bentuk, atau pun wujudnya tak mesti dan tak selalu alay. Bisa jadi, di balik sebuah tulisan yang dingin, kaku, formal, dan berat, ada proses kreatif dramatis yang menyentuh rasa. Contohnya, Das Kapital-nya Marx, Can The Subaltern Speak?-nya Spivak, The Second Sex-nya de Beauvoir, Dialektik der Aufklaerung-nya Adorno & Horkheimer, History of God-nya Amstrong, Indonesia Merdeka-nya Hatta….

Baca juga : Utopia Seorang Penulis Pemula

Dalam tulisan-tulisan itu, ada manusia yang tengah berjuang mempertahankan kemanusiaannya dalam kepungan penderitaan dan serangan kesedihan. Tulisan-tulisan itu jadi terasa menarik karena bermula dari hati. Hati yang terkoyak. Hati yang terluka. Hati yang remuk. Hati yang diam-diam mengalirkan air mata dalam kesunyian batin. Hati yang ingin menghadiahkan senyum dan tawa kepada orang lain. Hati yang mau tetap terjaga ketika kebanyakan manusia memilih tidur dalam liang kubur yang digali sendiri.

Itu artinya, tulisan-tulisan dingin lagi berat yang berangkat dari rasa itu pun, yang di dalamnya terbayang wajah manusia, dan yang pada hakikatnya bernilai seni, tergolong sebagai sastra juga. Puncak sastra adalah puisi, sedangkan puisi diperas dari pengalaman penderitaan. “Tak ada sajak,” tulis penyair Sitor Situmorang “yang tidak dari duka.” Penyair Sapardi malah terang-terangan menjuduli salah satu antologi puisinya dengan kalimat DukaMu Abadi. Simaklah sajak-sajak Rumi yang bergelimang nada sedih campur rindu itu.

Duka dan luka manusia yang bersembunyi di belakang rangkaian kata dalam puisi, dalam novel menampakkan kehadirannya secara terus-terang. Anda pasti ingat dengan duka luka Annelis, Nyai Ontosoroh, dan Minke dalam Bumi Manusia. Anda pun tentu tak lupa dengan tangisan sesal Kartini dalam Atheis. Dan jangan hapus memori Anda tentang sebuah adegan dramatis di ujung Ronggeng Dukuh Paruk. Lihatlah, Rasus membisu saat menyaksikan Srintil yang dekil melemparkan tatapan kosong dalam kondisi terpasung. Karena berangkat dari hati, semua tulisan itu menyentuh hati. Hadir sebagai seni, sebagai laku yang tak mau sejalan dengan keinstanan, juga dengan kedangkalan refleksi.

Lebih dari sekadar teknik, semua tulisan itu menjadi seni. Memang, menulis itu seni. Dalam seni, sering dipakai kata-kata ini: perspektif, komposisi, harmoni, gaya. Seperangkat leksikon ini pun hadir dalam seni menulis.

Seperti fotografer dan pelukis, seniman aksara, yang biasa Anda sebut penulis itu, juga perlu mencari perspektif sebelum mengaransemen sebuah tulisan. Dan “mencari”—tak sebatas “memilih” dan “menentukan” apalagi hanya “meniru”—perspektif tak segampang membalik telapak tangan. Tak pula secepat mengerjapkan mata. Lebih tak gampang lagi jika ternyata objek yang mau ditulis sudah pernah ditulis sekian banyak orang dengan sekian banyak varian perspektif. Perlu berpikir ekstra keras untuk mencari perspektif baru yang unik dan istimewa.

Seperti musik, seni menulis bermain-main dengan komposisi dan harmoni. Seniman aksara mengandalkan kerja sama rasa dan rasionya untuk meletakkan kata, kalimat, alinea pada tempatnya yang pas. Karena itu, tidak hanya kehidupan sosial, sebuah tulisan pun, sebagaimana sebuah lagu dan lukisan, dibangun dengan asas keadilan. Jadi, menulis memang lelaku. Dengan pengendalian diri yang ketat seniman aksara menumpahkan segenap jiwanya dalam bentuk tulisan.

Seperti arsitektur, menulis pun mengenal gaya. Jika ada istilah gaya arsitektur, dalam seni menulis ada istilah gaya menulis. Ada gaya register, misalnya gaya ilmiah, gaya jurnalistik, dan gaya sastra. Ada gaya ideosinkretis, misalnya gaya Mochtar Lubis yang menampar dengan keterus-terangannya, gaya Umar Kayam yang ada-ada saja dengan krativitas diksi dan metaforanya, gaya Goenawan Mohamad yang ragu-ragu dengan barangkali-nya, gaya Cak Nun yang menusuk dengan satirenya.

Berdasarkan gaya ideosinkretis tersebut, kita bisa menerka-nerka siapa yang menulis artikel tertentu dengan hanya membaca artikel tersebut, tanpa memperhatikan nama penulis yang menyertainya. Dalam hal ini berlakulah ungkapan: tulisanku adalah aku. Dalam tulisanku, tercermin bayangan wajahku. Ada potret penulis dalam tulisannya. Artinya, tulisan memang karya seni. Menulis tak sekadar teknik. Menulis adalah seni.

Tak terasa, tulisan ini, yang juga termasuk karya seni, sudah panjang. Atau malah, sebagai catatan kecil sudah keterlaluan panjangnya . Sebenarnya, saya masih bernafsu untuk bertutur lebih banyak. Masih ada dimensi-dimensi lain dalam seni menulis yang bagi saya perlu—tapi barangkali bagi Anda tak perlu—dibicarakan.

Namun, kalau saya memaksa Anda menyimak kata-kata saya tentang hal itu, tulisan ini akan jadi panjang sekali. Anda pun akan semakin bosan membacanya (sudah berapa kali Anda menguap sejak membaca kalimat pertama tulisan ini?). Maka, demi mengakhiri penderitaan Anda (dan kesenangan saya), lebih baik omong kosong ini disudahi saja. Menulis tentang seni menulis memang hanya omong kosong kok. Sebab, dalam seni menulis, yang penting adalah lelaku, penghayatan, pengamalan dengan segenap jiwa. Bagi saya, juga bagi Anda, yang penting adalah menjawab pertanyaan apakah aku sudah menulis? Menjawab dengan tindakan, bukan dengan pikiran dan lidah.

Sementara itu, sebagai omong kosong, tulisan yang sok penting ini sesungguhnya tak penting. Jadi, setelah dibaca, saya mohon lupakanlah tulisan ini. Anda orang baik. Karena itu, Anda tentu berkenan mengabulkan permohonan saya. Bumi Mataram, Dulkangidah 1437 H

NB: Usut punya usut, benih gagasan tulisan ini rupanya sudah tumbuh cukup lama. Persisnya sejak saya bertukar pikiran tentang tulis-menulis dengan Cak Mas’ud MJS di “kantor”-nya pada malam Lebaran Haji lalu. Maka, kepada Beliau saya ucapkan terima kasih karena telah menanam sejumlah tanda tanya dalam kepala saya sehingga saya terpaksa mencari jawaban. Tanpa diskusi itu, tulisan ini barangkali tak pernah lahir dari rahim kata-kata.

*Penulis adalah pegiat literasi, asal Jambi. Kini masih menjalani proses belajar di Yogyakarta. Tulisan ini pernah dimuat di FB pribadi Lev Widodo dan dimuat kembali demi tujuan pendidikan.

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here