“Apa Ibu jahat, Mak?”

0
Ilustrasi adalah potho kondisi banjir yang melanda Tuban beberapa waktu terahir.

tubanjogja.org – Ibu

Apa Ibu Jahat
Ilustrasi adalah potho kondisi banjir yang melanda Tuban beberapa waktu terahir.

Air meluap, Mak. Bengawan solo kembali memuntahkan isinya ke desa kita. Mula-mula memenuhi selokan-selokan, kemudian sawah-sawah dengan isi padi yang mulai menguning, jalan-jalan desa, dan akhirnya merendam rumah-rumah kita.

“Aku harus bagaimana, Mak?” tanya seorang anak.

Biarlah Nak, orang tua memang sedang ingin menyapa kita. Memenuhi rongga-rongga kosong dengan tubuhnya. Melintasi beton-beton yang semakin hari semakin kita puja. Kita mulai lupa pada orang tua kita, Nak.

“Tapi bengawan solo itu merusak hidup kita Mak,”

Bocah itu melanjutkan: sapi dan kambing kita sudah mulai terkena penyakit kudis, kitapun akan tertular merasakan kudis juga. Biji padi yang sebentar lagi bisa kita makan sekarang mulai membusuk. Belum lagi rumah kita dan tetangga yang ikut-ikutan berlumut. Kotor.

“Kenapa sungai itu jahat dengan kita, Mak?” tanyanya mendesak.

Sesudah banjir itu surut, banyak waktu yang hilang percuma untuk membersihkan rumah. Setelah rumah bersih kita harus membersihkan jalan, membersihkan sekolah dan kantor balai desa. Juga memungut sisa tanaman padi yang semestinya sudah bisa kita makan dengan enak.

Emak mengusap rambut ikal anaknya, membersihkan bolot* yang menempel di tubuhnya.

“Betapa sayang bengawan solo dengan kita Nak,”

Pupil mata anaknya membesar. Menyimak:

Kelak jangan jadi generasi yang serakah. Hanya menggerutu ketika mendapat yang tidak enak-enak. Diam saja ketika mendapat manfaat. Perut juga jangan kau umpati ketika sakit, karena perut tidak pernah protes ketika kau jejali dengan nafsu perasamu.

Desa kita yang berada di dekat Ibu sudah cukup sekali mendapatkan rejeki dari isinya. Airnya memasuki pipa-pipa, mengisi gorong-gorong, dan membuat padi kita ijo royo-royo. Tidak ada kata kurang air ketika musim kemarau. Itu dari Ibu kita, Nak.

Lek Katro, yang biasa memberi  kita beras ketan itu. Mengambil lemah lempung* di dekat Ibu. Setelah ditabur dengan tanah dibentuknya periuk, guci, genthong, cobek, dan perabot rumah yang lain. Hasilny bisa dibuat makan, buat rumah, dan juga sekolah anak-anaknya.

Ketika Ibu sedang surut, Muhadi teman kau bermain, membantu bapaknya mengambil pasir di dasar sana. Isinya dia angkat ke darat dan berdatanglah orang-orang itu dengan mobil. Pasir itu bahan bangunan Nak, yang memakai lebih banyak orang-orang di kota sana. Bangunan megah itu, diambil dari serpihan-serpihan tubuh Ibu.

Terkadang serpihan tubuh Ibu yang diambil terus menerus membuat dia sakit. Luka menganga karena pacul dan sekrop. Kitalah yang mesti mengobatinya. Biarpun orang-orang sombong di kota itu terus bermewah ria memamerkan bagian tubuh Ibu kita.

Ibu kita dengan senang hati menyediakan punggungnya buat perahu tambangan*. Kita bisa datang ke desa seberang dengan lebih cepat. Ongkos murah. Mbah Kadri dan teman-temannya juga bisa menghidupi isti dan anak-anaknya.

“Lalu kenapa bengawan solo sekarang marah dengan kita Mak?” sangkalnya.

Bukan marah Nak, Ibu moyang kita memang ingin menyapa anak-anaknya. Seperti emak yang kelak akan selalu kangen ketika kamu sudah berkeluarga.

Mungkin cara Ibu menyapa itu di luar kebiasaan kita. Setelah air yang dibawa surut, ada humus-humus yang ditinggalkan untuk tanah kita sebagai oleh-oleh orang tua kepada anak. Ada lempung gratis yang bisa dibawa Lek Katro dengan mudah. Juga Ibu mengangkat pasirnya ke permukaan untuk dimanfaatkan saudara-saudara kita.

“Tapi banjir itu menyusahkan kita Mak?”

Emaknya tersenyum, membayangkan wajah anaknya dua puluh tahun kedepan. “Kalau kamu nakal diapakan sama Emak?”

Bocah itu mengingat: Emaknya pernah menjewer kupingnya sampai merah ketika dia berkelahi. Setelah dia menangis, Emak langsung menggendong dan membawanya ke warung Mbak Sur. Disana dia bisa memilih jajan sesuka hati.

 

Istilah:

*Bolot: tanah atau lumpur yang menempel di tubuh.

*lempung: tanah liat.

*perahu tambangan: jasa perahu penyeberangan di bengawan solo.

 

Oleh,  Edy Purnomo, asli cah Tuban.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here