Hukum Pasar dan Kemanusiaan: Renungan Kecil dari Angkringan

1
Ilustrasi diambil dari yayangcsrt.wordpress.com

tubanjogja.orgAngkringan Jogja

Angkringan
Ilustrasi diambil dari yayangcsrt.wordpress.com

Jalanan padat. Malam tambah terang oleh sorot lampu kendaraan yang hilir mudik. Para mobil meraung-raung. Para motor berteriak-teriak. Para pejalan malam lalu lalang, berlomba menyumbang bising dengan lidah mereka. Tapi, dalam hiruk-pikuk itu, bapak satu ini tertidur sambil duduk di angkringannya. Dia berjualan nasi kucing persis di selatan rel Jalan Timoho, Kota Yogya. Rel kereta api ini terletak di selatan kampus Universitas Negeri Islam (UIN) Yogyakarta.

Saya sudah selesai makan. Ingin segera pulang. Tapi saya tak tega membangunkannya untuk membayar sebungkus kacang sangan, tiga potong gorengan, dan segelas teh hangat yang baru saja saya ganyang. Saya pun menunggu hingga bapak itu terjaga dari tidurnya. Detik demi detik berlalu. Menit demi menit pun berlalu. Akhirnya, dia bangun.

Mumpung ada kesempatan, saya bersuara. “Berapa, Pak? Kacang satu, gorengan tiga, tambah teh hangat”. Dia pun menghitung. Total Rp. 5.500,00. Saya mengeluarkan uang, tapi tiba-tiba dia bilang, “Lima ribu saja, Mas.” Dia memang sudah kenal saya. Saya sering numpang makan dan duduk dan ngrokok di angkringannya. Kadang sendiri. Kadang bersama kawan. Kadang hanya belasan menit. Kadang hingga berjam-jam.

Meski begitu, ketika dia minta bayar lima ribu saja, saya tetap terkejut. Hati serasa tertohok. Bapak penjual angkringan ini hanya orang kecil. Jelas tidak masuk barisan kelas menengah. Penghidupannya pastilah susah. Hebatnya, dia masih punya kemauan berbagi. Dia tak saja berdagang dengan etika. Dia juga berdagang dengan belas kasih dan tepo seliro. Tentu tetap di bawah kendali manajemen dagang yang manusiawi.

Tuno satak bathi sanak, pesan para ulama Tanah Jawa. Tak apalah sedikit rugi, asalkan saudara bertambah. Dia tidak lupa, bahwa selain keuntungan dagang, bertambahnya saudara juga rezeki. Dengan minta bayar lima ribu saja, dia menyentuh hati saya. Saya barangkali akan jadi pelanggan setianya.

Suasana dan interaksi manusiawi seperti itulah yang jarang—atau malah tidak?—kita temukan dalam belantara pasar modern. Saat resesi ekonomi 1930-an, daya beli masyarakat global jatuh. Di satu sisi, bagai wabah mematikan, kelaparan menjalar begitu cepat, melintasi batas negara. Di sisi lain, terjadi produksi berlebih, over-production. Bahan makanan yang telah dipanen, diolah, lalu dikirim ke pasar, menumpuk di gudang-gudang. Sayuran pun menumpuk, termasuk tomat. Buah ikut menumpuk, termasuk apel.

Ada cerita, demi mengurangi kerugian dengan sedapat mungkin menjaga harga komoditas, entah berapa ratus atau berapa ribu ton apel dan tomat dibuang dan digilas lumat. Para pengusaha, para pedagang, yang membuang dan menggilas makanan itu tak mendengar rintihan lapar berjuta-juta manusia. Begitulah kejamnya, sintingnya, pasar modern.

Kemanusiaan kalah oleh kalkulasi keuntungan material. Manajemen ekonomi yang nyata dipakai bersendikan hukum rimba: struggle of life, survival of the fittest, seleksi alam, homo homini lupus. Maka, kita pun betanya-tanya, siapa sebenarnya yang berdagang saat itu, manusia atau binatangkah?

Di atas panggung sejarah demikianlah Gandhi, dari sebuah bukit spiritual di India, berseru dalam khotbahnya: seluruh manusia bersaudara. Orang kenyang adalah saudara orang lapar. Orang kaya adalah saudara orang miskin. Orang yang menjajah adalah saudara orang yang terjajah. Orang kulit putih adalah saudara orang kulit berwarna. Orang Kristen adalah suadara orang Hindu dan Islam.

Seluruh manusia bersaudara. Seorang saudara wajib menolong dan haram mengeksploitasi dan menganiaya saudaranya. Sebelum kau tampar wajah orang lain, tamparlah dulu wajahmu. Jika terasa pedas dan sakit, jangan kau tampar orang lain. Orang lain, saudaraku sendiri, adalah cermin bagiku. Menampar wajah bayanganku pada cermin, sebenarnya menampar wajahku sendiri.

Prinsip etik paling mendasar ini, yang dikenal sebagai the golden rule, tidak berlaku dalam pasar modern. Semenjak setelah Adam Smith, bahkan barangkali semenjak peradaban Eropa Abad Pertengahan dirobohkan oleh gerakan renaissance, pada praktiknya ekonomi—yang telah jadi modern—bercerai dari etika. Berdagang adalah satu hal, moralitas adalah hal yang lain, sebagaimana negara adalah satu hal, sedangkan agama adalah hal yang lain.

Mati-matian Adam Smith melakukan ijtihad intelektual untuk menjawab tantangan etik ekonomi modern dengan merumuskan teori trickle down effect. Sistem ekonomi modern, kapitalisme, biarlah berjalan mengikuti kehendak pasar yang serba mau bebas. Hal itu tidak akan bertentangan dengan kemanusiaan. Sebab, ketika modal semakin terakumulasi, dengan sendirinya akan terjadi trickle down effect, efek menetes ke bawah. Pengusaha akan rela berbagi kekayaan dengan kaum miskin, justru untuk menjaga perputaran roda ekonomi.

Nyatanya teori muluk tersebut hanya ilusi. Setelah Revolusi Industri, jarak kesenjangan ekonomi di Eropa bertambah jauh. Kaum kaya pemilik modal dan penguasa pabrik, yang jumlahnya semakin mengecil, semakin kaya. Sementara itu, kaum miskin buruh pabrik tak bertanah, yang jumlahnya semakin membesar, semakin miskin. Bukannya berbagi kekayaan dengan kaum miskin, kaum kaya justru mengksploitasi buruh. Tidak ada efek menetes ke bawah. Yang ada, fenomena menginjak ke bawah.

Bangkitlah gerakan sosialisme, dengan berbagai variasinya, yang pada dasarnya mengandung ruh profetik. Dan tampaknya, sosialime menemukan bentuknya yang paling sistematis dan “ilmiah” pada Karl Marx. Dia tidak memuntahkan kritik etik, seperti halnya golongan agamawan, tetapi melontarkan kritik ilmiah, ekonomi, dan politik terhadap kapitalisme. Saat itu, ketika positivisme menguasai alam pikiran cendekiawan Eropa, kritik etik, apalagi yang bersendikan agama, bukan barang yang laku. Marx sendiri berkata, agama itu candu. Rekan seperguruannya, Feuerbach, menyatakan bahwa Tuhan hanyalah proyeksi pikiran manusia.

Saat itu, tampaknya ada semacam asumsi, atau malah paradigma: agama tidak sungguh-sungguh diperlukan dalam kehidupan duniawi. Bahkan, seringkali agama justru merintangi realisasi nilai-nilai kemanusiaan. Lebih buruk lagi, agama mengesahkan dan menjadi instrumen kapitalisme. Fakta keber-agamaan Abad Pertengahan membenarkan hal itu. Fakta era Revolusi Industri juga membenarkannya. Kita tentu tidak lupa dengan tesis Weber: kapitalisme lahir dari rahim etika Protestan.

Karena itu, ketika agama telah mati, percuma saja melemparkan kritik etik, lebih-lebih yang bersandar pada agama, terhadap jahatnya kapitalisme. Perlu senjata intelektual lain untuk mengkritik dan menghukum kapitalisme yang jahat. Dan senjata itu, bagi Marx, adalah sains.

Bukan sembarang sains. Bukan sains yang bertengger di puncak menara gading, tapi sains sosial yang dengan sedemikian rupa harus dikembangkan sebagai ideologi praksis. Sains yang membebaskan kaum proletar, kaum buruh, kaum miskin dari eksploitasi dan penindasan kelas kapitalis. Sains yang berpangkal dan berujung pada kemanusiaan: kedudukan seluruh manusia setara, terutama setara secara ekonomi. Sebab, kesetaraan ekonomi itu menjamin kesetaraan politik, kesetaraan budaya, kesetaraan ras, kesetaraan agama.

Dalam pikiran profetik Marx yang sejujurnya utopis ini, kita mendengar bisikan khutbah Gandhi: seluruh manusia bersaudara. Kita juga mendengar suara Nabi Ibrahim yang mengundang seluruh manusia untuk berhaji ke Mekah. Kita pun mendengar nyanyian kemanusiaan yang dilantukan Goethe. Kita mendengar hikmah yang diajarkan para nabi dan rasul sepanjang sejarah umat manusia.

Maka, janganlah heran jika di Indonesia muncul orang-orang seperti Tjokroaminoto, Soekarno, dan Haji Misbach, yang berpikir bahwa sosialisme dan Islam itu mungkin-mungkin saja dimanunggalkan. Toh, latar belakang dan latar depan keduanya sama: kemanusiaan. Tuhan menurunkan agama tentu bukan untuk diri-Nya sendiri. Agama turun untuk manusia. Islam, sebagai agama kemanusiaan, menegaskan hal ini melalui wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad: kitab al-Quran adalah petunjuk bagi (seluruh) manusia.

Wahyu pertama yang diterima Nabi berbicara tentang manusia, dalam hubungannya dengan Tuhan sebagai Sang Maha Among. Beliau berjuang mengajak manusia saling ber-rendah hati: menang tanpa merendahkan, menang tanpo ngasorake. Dan ini diteladankan oleh Nabi terutama dalam peristiwa pembebasan kota Mekah (fath al-makkah). Rangkaian wahyu yang turun di Mekah, sebelum periode hijrah, umumnya berisi kritik tajam terhadap ketinggian hati, yang berjalin kelindan dengan semangat akumulasi kekayaan tanpa pertimbangan kemanusiaan. Karena itu, beliau mereformulasi konsep rezeki dan mengenalkan konsep sedekah: kaya tanpa harta, sugih tanpo bondho.

Jelas bahwa sesungguhnya saat itu beliau sedang berbicara tentang kemanusiaan, kesetaraan seluruh manusia, pertama-tama di hadapan Ilahi. Saya pikir, inilah salah satu makna ihsan, yang terpendam dalam simbolisme ritual haji. Sebagai contoh, seluruh jamaah haji harus mengenakan pakaian ihram yang seragam, tak peduli apapun latar belakang sosialnya. Jamaah haji juga harus membawa bekal takwa, yang secara sosial ternyata maknanya adalah rasa kemanusiaan.

Tapi sayangnya, kita sering melupakan makna sosial takwa itu. Takwa cenderung hanya dipahami secara formal, simbolis, ritualistik, dan personal. Paling banter, kesalehan hanya dipertontonkan dalam masjid. Di luar masjid, kita kehilangan rasa kemanusiaan. Jika dikatakan dengan ungkapan yang kasar, di luar masjid kita menjelma jadi bukan manusia, barangkali menjelma jadi binatang (ternak), atau lebih hina lagi.

Kita terlalu gagap, juga gagal, menyikapi perbedaan. Perbedaan, yang seharusnya digunakan sebagai jalan untuk menjawab pertanyaan siapa aku? dalam rangka mengenal Ilahi, justru menjauhkan kita dari Ilahi. Kita, yang beragama Islam merasa lebih benar daripada umat beragama lain, bahkan merasa benar sendiri. Kita, yang kebetulan kaya, merasa lebih lebih tinggi daripada saudara kita yang miskin. Kita, yang dibikin pintar oleh Tuhan, merasa lebih tahu dan lebih bisa daripada saudara kita yang awam. Adigang, adigung, adiguno, kita merasa lebih dari yang lain.

Maka, kita pun kehilangan tepo seliro, kehilangan tata krama sosial. Kehadiran kita jadi ancaman, bukan rahmat, bagi orang lain. Setiap saat kita melukai hati saudara kita sendiri. Betapa jauhnya kita dari figur Panembahan Senopati yang berpegang pada prinsip karyenak tyasing sesamo, menggembirakan hati orang lain, lelaku ibsyar yang merupakan separoh dari tugas kerasulan.

Betapa pula amat jauhnya kita dari Nabi Muhammad yang duduk seperti duduknya budak, makan seperti makannya budak, dan senantiasa berjalan di belakang para sahabatnya. Lantas, di mana ketakwaan kita? Di mana rasa kemanusiaan kita? Di mana ihsan kita? Di mana pula keadilan kita? Akhirnya, di mana cinta kita?

Saat padang pasir kehidupan sosial kita tak tertetesi rerintik hujan cinta, jangan kaget, jangan pula gumun, bila politik dan ekonomi hanya menerapkan hukum rimba, tak kenal kemanusiaan sedikit pun. Dalam politik, siapa kuat, menang. Dan kemenangan ini bukan saja kemenangan yang merendahkan, tetapi bahkan kemenangan yang membunuh.

Pemimpin gagal menghayati, apalagi menjalankan, keadilan. Tak mendidik rakyat. Tak memberdayakan rakyat. Tak tahu ke mana seharusnya rakyat diarahkan. Ketika orang kecil dianiaya pengusaha kakap, pemimpin menutup mata, malah diam-diam membela sang pengusaha. Hukum pun berpihak kepada golongan yang kuat, pertama-tama kuat secara ekonomi, kemudian kuat secara politik. Akibatnya, kesenjangan ekonomi melebar dan terus melebar.

Betapa payahnya bagi orang kecil untuk melakukan mobilitas sosial secara vertikal. Seperti gabah den interi, butiran padi yang ditampi, orang kecil terlempar-lempar dari wilayah penggiran ekonomi yang satu ke wilayah pinggiran ekonomi yang lain. Kemarin mengayuh becak, hari ini berjualan angkringan, besok jadi buruh bangunan. Jika pun memperoleh pekerjaan yang tampak sedikit bermartabat dalam hal penampilan, gajinya jauh di bawah kelayakan. Inilah yang tampaknya dialami kebanyakan pegawai Indomaret, minimarket yang merepresentasikan kapitalisme, yang melambangkan pasar modern, khususnya di daerah pinggir kota dan pedesaan.

Sebelum bapak penjual angkringan selatan rel Jalan Timoho itu tertidur duduk, datang seorang pembeli. Lelaki muda. Di bekerja di Indomaret yang lokasinya tak jauh dari angkringan. Penampilannya rapi. Mengenakan seragam pegawai Indomaret. Dia membeli nasi kucing dan gorengan dengan uang receh. Jumlahnya delapan ribu. Awalnya dia mengambil tiga bungkus nasi kucing dan tujuh potong gorengan. Dalam hitungannya, uang recehnya cukup.

Rupanya, hitungannya keliru. Bukan karena dia tak becus matematika. Harga nasi kucing, sejak setahun lalu, khusus di angkringan satu ini, sudah naik, dari Rp 1.500,00 per bungkus, jadi Rp. 2.000,00. Setelah Idul Fitri lalu, harga gorengan pun naik. Dulu lima ratus per potong. Sekarang dua ribu, tiga. Merasa recehnya tak cukup, pegawai Indomaret ini komplain soal harga. Yang dikomplain memberikan penjelasan. Si pegawai Indomaret melunak. Saya amati wajahnya. Dia tampak malu. Dia mengurangi jumlah nasi dan gorengan yang akan dibelinya, barangkali sambil menahan malu.

Setelah pegawai Indomaret itu pergi, bapak penjual angkringan menggelar cerita, tentang seorang kerabatnya yang juga jadi pegawai Indomaret. Kerabatnya ini masih muda. Berasal dari Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Indomaret tempatnya bekerja terletak di kota Yogya. Karena lokasi kerja yang relatif jauh, dia indekos di kota.

Biaya indekos, Rp. 250.000,00 per bulan. Sementara itu, gajinya hanya Rp. 1.300.000,00 per bulan, di bawah standar Upah Minimum Reguler (UMR) Kota Yogya. Untuk mencukupi kebutuhan makan harian yang layak, paling tidak dia menghabiskan Rp. 30.000,00 per hari, jadi Rp 9.00.000,00 selama sebulan. Sisa gajinya digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari, itu pun belum tentu cukup. Jadi, dia tidak punya dana cadangan kesehatan. Tidak bisa menabung. Tidak bisa berekreasi. Tidak bisa bermimpi melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Apakah Anda tega membayangkan masa depannya? Apakah dia bakal punya masa depan lebih cerah? Entah sampai kapan dia bekerja sebagai pegawai Indomaret. Bila dia jenuh dengan pekerjaan itu, atau bila usianya menua sehingga Indomaret tak membutuhkannya lagi, dia akan mencari remah penghidupan lain dan celah pekerjaan lain, dengan gaji yang barangkali lebih tidak layak.

Sekiranya apa yang dikatakan bapak penjual angkringan benar, kita tak perlu kaget mendengar perangai Indomaret yang mengupahi pegawainya dengan gaji kecil. Begitulah pasar modern. Komoditas dijual dengan harga setinggi-tingginya untuk menimbun keuntungan semaksimal mungkin. Pegawai digaji rendah untuk mengurangi pengeluaran. Perdagangan dilakukan tanpa tepo seliro. Ekonomi hadir tanpa etika. Rasa kemanusiaan tidak melandasi relasi majikan-pegawai, tidak pula mendasari interaksi penjual-pembeli.

Dalam pasar modern, petuah tuno satak bathi sanak, sama sekali tak dikenal. Takwa? Ihsan? Cinta? Sudahlah, lebih baik Anda jangan menanyakannya. Karena inilah, saya terkejut ketika bapak penjual angkringan itu bilang, “Bayar lima ribu saja, Mas”. Saya merasa begitu tertohok.

Pada hari-hari ini, ketika seluruh ranah kehidupan telah menjelma sebagai pasar modern, masih ada pedagang yang mengenal belas kasih, persaudaraan, dan tepo seliro. Dan pedagang itu bukan pedagang besar, tetapi pedagang kecil, orang kecil, hanya penjual angkringan, yang tak memperoleh belas kasih pedagang besar dan pembelaan pemimpin. Hati saya betul-betul tertohok. Sakitnya tuh di sini!

 

Bumi Mataram, 7 Besar 1437 H
*Penulis adalah Kontributor tetap tubanjogja.org. Tinggal di Yogyakarta.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here