Ada Apa dengan Jogja Pukul 2?

0
Jogja Pukul 2
Ilustrasi diambil dari jurnalilmuhayat.wordpress.com

 Tubanjogja.org, Jogja Pukul 2.

Jogja Pukul 2
Ilustrasi diambil dari jurnalilmuhayat.wordpress.com

“Ya wajarlah, mereka kan ingin hidup, ingin bahagia, dan ingin puas. Makanya begitu”

 

Itu adalah cletukan teman saat saya mengajaknya membahas mengenai macet siang ini di Jalan Timoho. Saya rada setuju dengan apa yang disampaikan teman tadi. Sekurangnya ada tiga bayangan yang spontan menyambang pikiran saat terjebak macet di bawah terik siang tadi. Adalah gambaran mamah-mamah kekinian dengan setir bunder-nya yang mengantar anak tersayang ke sekolah, tiga sekolah benefit yang melingkari Jalan Timoho, dan yang terakhir, yaitu mengapa nembe jam 2 siang sudah se-macet ini? Mari memulainya dari awal!

Poin pertama menemukan bentuk pertanggungjawabannya selepas saya mengamati bahwa hampir setiap mobil yang berjejal di Jalan Timoho hanya diisi tidak lebih dari 2 orang: satu penumpang dan satu sopir. Tidak mungkin rasanya pemandangan seperti ini didalangi oleh mereka yang berkebutuhan biasa. Pasti mereka adalah yang berkebutuhan khusus. Maksud saya di sini, mobil-mobil tersebut tidak lain adalah milik mamah-mamah yang berkebutuhan tertentu guna mengantarkan anak-anak kesayangan ke sekolah. Di sini usai tejadi sejenis budaya tertentu bahwa mengantar anak harus memakai mobil. Mengapa bisa demikian? Di sinilah menariknya dan di sini pula saya mantuk-mantuk dengan cletukan teman di atas tadi.

Meminjam istilahnya Imam Ghazali, ini adalah fenomena al-Sa’adah al-Hawaniyah yang jalan di tempat. Saya ulangi lagi: “jalan di tempat”. Fenomena ini memungkinkan siapa pun menjadi terpaku pada satu titik yang bisa membuat mereka bahagia, puas, dan tertawa lepas. Satu titik tersebut tidak lain adalah diperolehnya kebanggaan atau citra tertentu dari siapa saja yang melihatnya saat mengejar titik terkait. Dengan ucapan yang lebih sederhana, salah satu alasan prinsipiil yang melandasi mereka berlaku demikian adalah adanya keinginan untuk menjadi bahagia melalui pujian dan citra keren tertentu dari orang lain. Semakin banyak yang mencitrakan dia keren, maka semakin pula mereka berbangga diri, lalu bahagia. Oleh karenanya, amat wajar mengapa sejenis budaya tersebut bisa terbentuk, apalagi sebagaimana kita ketahui bersama kalau “ingin bahagia” adalah keinginan dan hak setiap bangsa.

Imam Ghazali, lebih lanjut menambahkan bahwa fenomena tersebut tidaklah negatif—selama masih ada kesadaran aktif untuk naik kelas ke level berikutnya. Baginya, itu adalah proses untuk mencapai kebahagiaan puncak atau al-Sa’adah al-Abadiyah. Dalam hal ini, Ghazali memiliki empat tahapan kebahagiaan, yaitu al-Sa’adah al-Hawaniyah —dalam hal ini terbagi menjadi dua: hewan buas dan hewan ternak—sebagai level terbawah, kebahagiaan malaikat sebagai level lebih tinggi, dan kebahagiaan sejati sebagai level puncak. Untuk mencapai level puncak, tambah Ghazali, siapa pun harus memulainya dari level paling rendah. Jadi, sampai di sini, kita bisa sekilas paham mengapa para mamah lebih memilih mobil dari pada motor. Mungkin, mereka masih dalam tahap “proses”.

Neng, sebentar dulu. “Kalau memang seperti itu adanya, lalu bagaimana ketika rupanya fenomena pukul 2 siang itu menganggu kenyamanan orang lain seperti yang barusan kau resahkan itu Jo?” tanya teman saya tiba-tiba sambil memasang muka rada bingungnya. Mungkin rada sungkan sebab meralat pendapatnya yang pertama. Atau dengan bahasa lain, yang ingin ditanyakan teman saya barusan adalah apa memang iya fenomena tersebut layak disebut “proses”? Andai memang proses, mengapa semakin hari tidak semakin reda macetnya?

Nah loh, kalau sudah sampai sini, jalan terbaiknya adalah kita kembalikan pada istilah di awal. Benar memang, ini adalah proses al-Sa’adah al-Hawaniyah, tetapi prosesnya “jalan di tempat” alias mandek sehingga ini tidak lagi layak disebut positif. Dan saya kira, andai Ghazali hidup saat ini dan menjadi dosen Tafsir di Fakultas Ushuluddin UIN Sukijo, pasti Ghazali akan menyayangkan siapa saja yang tidak mau move on dari level al-Sa’adah al-Hawaniyah-nya. Apalagi saat ketahuan rupanya Ghazali juga sering menjadi korban macet saat mau makan siang di Alive—wah… pasti akan bertambah tuh resahnya.

Pada ruang dan waktu yang berbeda, John Stuart Mill, seorang utilitarian Inggris, dalam bukunya yang berjudul “On Liberty” mengamini apa yang disampaikan Ghazali di atas. Siapa pun, kata Mill, bebas untuk berbuat atau tidak berbuat apa pun asalkan itu masih memperhatikan kebahagiaan orang lain. Mill menyebut bentuk kepedulian atau perhatian tersebut dengan istilah concern for the well-being of others. “Siapa pun penting untuk merdeka melakukan apa pun, tapi ada lima hal yang haram dilupakan, yaitu sense of dignity, liberty, security, individuality, harmony, dan concern for the well-being of others,” begitulah kira-kira yang akan dikatakan Mill jika boleh mengibaratkan.

Pendeknya, baik itu di benak Mill atau pun Ghazali, selama perilaku para mamah yang lebih menyukai memakai mobil untuk sekedar antar-jemput anaknya rupanya menganggu kenyamanan orang lain, maka itu adalah —meminjam istilahnya Mill—“harm” atau penyakit. Dan dalam hal ini, jika belajar pada Ghazali, tidak masalah berlaku demikian, tetapi satu: jangan berhenti di situ! Kalau berhenti, yang ada hanyalah sebaliknya.

Oh iya, baru ingat. Ini baru satu poin yang saya bahas. Sekarang mari ke poin dua dan tiga. Terlepas dari bagaimana ceritanya para mamah kok sampai tertuntut menggunakan mobil untuk sekedar mengantar anak ke sekolah yang rupanya itu adalah bagian dari fitrah manusia sebagai mahkluk yang senantiasa ingin eksis—meski pada prakteknya amat tidak terkontrolkemacetan di Jalan Timoho juga disebabkan oleh adanya tiga sekolah yang secara geografis bersejajar dengan satu jalur keluar—paling diminati—yang sama, yaitu Jalan Timoho. Untuk itu, dari sisi ini, saya tidak bisa membenamkan sepenuhnya keresahan saya secara binal kepada para mamah terkait kemacetan di Jalan Timoho.

Adapun untuk yang terakhir, sejujurnya yang menjadi sentimen saya bukanlah pada alasan saklek mengapa kok pukul 2. Namun, di sini saya lebih tertuju pada kekhawatiran tertentu. Khawatir saat memang fenomena ini dibiarkan, nantinya akan membentuk kesepakatan baru, setidaknya dalam berbahasa, semacam pergeseran ungkapan yang mulanya, “Kamu kalau mau berangkat ngopi, jangan pagi saat jam berangkat kerja atau jangan juga sore saat pulang kerja, macet!” menjadi, “Kalau lu mau pergi cari lunch, sebaiknya jangan jam 2, macet Vroh!” Nah loh, bingung sendiri toh? Untuk itu, biar tidak menjalar terlalu lebar, let’s save Jogja pukul 2! Cukup jam pulang-pergi kerja saja yang macet!zav

 

Baca Juga Hal Menarik Lainnya : Di Fanspage Kami

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here