Filsafat dan Hal-hal Kecil Lainnya

1
Ilustrasi, lukisan karya Affandi

tubanjogja.org – Filsafat

Filsafat dan Hal Kecil
Ilustrasi, lukisan karya Affandi

Oleh, Lev Widodo

Newton. Dia nama besar yang terkenal. Fisikawan dan filsuf merupakan dua hal besar yang jadi identitas Newton. Tapi, sebagai cendekiawan besar, apakah Newton melulu mengurus hal-hal besar? Apakah dia berfisika tentang hal-hal besar? Apakah dia juga berfilsafat tentang hal-hal besar?

Jika demikian kejadiannya, barangkali kita tak pernah kenal hukum gravitasi. Barangkali kapal terbang tak pernah ada. Barangkali Neil Armstrong tak mendarat di bulan. Hukum gravitasi, kapal terbang, pesawat antariksa, semua hal besar itu ternyata bermula dari hal kecil. Sesuatu yang remeh. Yang dianggap tak penting. Yang sering luput dari tangkapan mata kita.

Hari itu Newton adalah pemuda biasa berusia 23. Dia duduk di kebun ibunya. Tiba-tiba matanya menangkap kasunyatan. Wujudnya, gejala kecil yang remeh dan tak penting. Sebutir apel jatuh dari pohon.

Sebuah pertanyaan lalu menyelinap masuk ke dalam benak Newton. Dari pohonnya, apel selalu jatuh ke bawah, tapi mengapa bulan selalu menggantung di langit? Bulan jelas lebih besar dan lebih berat daripada apel. Tapi, mengapa bulan tak jatuh ke bumi, sedangkan apel yang kecil dan ringan itu kok jatuh ke bawah? Apa rahasia di balik kasunyatan ini?

Setelah lama bergulat dengan pertanyaan kecil, remeh, dan tak penting itu, Newton menemukan jawaban. Ternyata, ada tiga rahasianya. Pertama, bumi memiliki daya tarik. Kedua, semakin dekat jarak benda dari bumi, semakin kuat bumi menariknya. Semakin jauh dari bumi, semakin lemah daya tarik itu. Ketiga, jatuhnya apel ke bawah dan menggantungnya bulan di langit, tak ada hubungannya dengan ukuran berat dan besar. Variabelnya bukan berat dan besar benda tapi daya tarik bumi dan jarak benda tersebut dari bumi.

Jarak bumi dan apel yang menggantung di ranting pohon, amat dekat. Ketika bumi menarik apel dengan kuat, kita katakan apel itu jatuh. Karena bumi dan bulan dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh sekali, bulan tak “jatuh” ke bumi. Dia senantiasa menggantung di langit malam. Kita semua sudah tahu, penjelasan ini dinamai teori gravitasi, latar belakang penemuan kapal terbang dan pendaratan manusia di bulan.

Dalam kisah saintifik itu, ada rangkaian metamorfosis. Gejala kecil melahirkan pertanyaan kecil. Pertanyaan kecil mengundang jawaban besar. Jawaban besar menghadirkan penemuan dan sejarah besar.

Andai Newton melulu berpikir tentang hal-hal besar, dia pasti meremehkan sebutir apel yang jatuh ke bawah. Ngapain sih pusing-pusing mikirin apel jatuh? Cuma sebiji lagi. Untung saja, Newton punya kejelian dan semacam kerendahan hati. Dia menghargai keberadaan hal kecil yang tampak remeh, yang luput dari perhatian orang kebanyakan. Bahkan, Newton memikirkannya dengan serius, seserius kita saat ini memikirkan agama, pulitik, ideologi, dan sanak kadangnya.

Apa makna kisah kelahiran teori gravitasi? Sederhana, tapi penting. Filsafat, juga sains, ternyata bermula dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita, bukan dari hal-hal besar. Sekali lagi, bukan dari hal-hal besar. Artinya, filsafat bicara tentang hal-hal yang kecil, sehari-hari, dan dekat dengan kita. Bahkan, filsafat sering bergumul dengan hal-hal yang tampak remeh dan tak penting.

Kita ingat seorang filsuf Yunani Kuno: Thales. Dia bicara tentang air. Sehari-hari, kita bergaul intim dengan air. Kita minum air. Kita mandi dengan air. Mencuci baju juga dengan air. Ketika menangis, mata kita mengeluarkan air. Dalam mulut kita, ada air. Dari alat vital kita, keluar air. Dalam tubuh kita, mengalir air, darah namanya.

Tapi sayang, kasunyatan ini sering lalai kita renungkan. Sebabnya jelas, kita gemar berpikir tentang hal-hal besar yang berada jauh di atas dan di luar sana. Akibatnya pun jelas, pikiran kita jadi tak sehari-hari, mengawang-awang di langit. Terlalu abstrak dan teoretis.

Secara akademis, abstraksi teoretis tingkat tinggi bagi sejumlah (terlalu) besar cendekiawan pekok dipandang sebagai sesuatu yang membanggakan. Kata mereka, itulah bukti intelektualitas. Semakin rumit dan ruwet retorika teoretis, semakin intelek seorang cendekiawan.

Pandangan ngawur ini mengurung cendekiawan dalam bilik sumpek menara gading. Karena kadung terbiasa memakai bahasa langit, dia jadi tak kenal lagi bahasa bumi. Sukar baginya menurunkan teori langit ke bumi.

Kita ambil contoh. Ada santri belajar teori syukur. Dia kumpulkan pengertian syukur dari sebanyak-banyaknya ulama dan kitab. Lalu, dia pelajari teori tersebut secara rasional belaka. Hasilnya, dia paham memang. Dia juga secara verbal dapat menjelaskan apa itu syukur. Misalnya, syukur adalah mengucapkan kalimat hamdala apabila memperoleh nikmat.

Tapi, ketika ditanya apa tujuan syukur, apa implikasi syukur secara politik, apa rintangan kultural syukur, apa syukur buah dari ikhtiar pribadi, apa hubungan syukur dengan polisi tidur, amukan ombak pantai selatan Jawa, musik dangdut, teman yang patah hati, tetangga yang bergunjing, keris yang tak disarungkan, Piala Eropa 2016, manga One-Piece, film Ada Apa dengan Cinta 2, Indomaret, ceker ayam, dan mega jingga senjakala, lidahnya jadi kaku. Kedua bibirnya rapat terkatup.

Jika dia mau turun dari menara gadingnya untuk menapak di bumi keseharian, dia pasti lancar menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jika dia mau mendialogkan teori dengan pengalaman dan peristiwa sehari-hari, dia tentu pada saatnya menemukan makna syukur. Jika dia memandang dan mengalami syukur sebagai hal kecil sehari-hari, hakikat syukur akan datang sendiri menjumpainya.

Jika dia menghayati semua tempat sebagai sekolah dan semua orang sebagai guru, ilmunya jadi bermanfaat. Filsafatnya jadi rahmat. Baginya, hikmah syukur bagai pohon yang subur dan tak henti-hentinya berbuah. Buah-buah itu jatuh ke tanah untuk kemudian tumbuh jadi pohon hikmah yang lain.

Jadi, secara personal, langkah awal untuk memahami dan membumikan filsafat adalah amal, lelaku. Dengan pengamalan, teori besar dimaknai dari hal-hal kecil, yang sehari-hari, yang remeh dan tak penting. Karena menghayati teori besar tersebut, kita dengan sendirinya tenggelam dalam samudera renungan. Buahnya, paling tidak ada dua. Pertama, kita mampu menerangkan teori besar secara konkret dan sederhana, dengan contoh-contoh yang tersedia di sekitar kita. Kedua, secara berangsur-angsur terjadi transformasi rohani.

Dengan demikian, filsafat kembali pada fitrahnya sebagai al-hikmah. Kebudayaan Jawa menyebut al-hikmah sebagai sastra. Apa manfaat sastra? Ada ungkapan terkenal, sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu. Sastra hadir untuk membersihkan hati, menjernihkan pikiran, dan menata tindakan. Dalam Islam, fungsi ini diemban oleh al-ilmu, dari mana kata ngelmu berasal. Ngelmu iku,” kata Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama “kelakone kanthi laku. Lekase lawan kas. Tegese kas, nyantosani. Setya budya pangikising dur angkara.”

Pesan Mangkunegara IV tersebut adalah gema dari pepeling al-Ghazali. Dalam sejumlah bukunya, dia menekankan, ilmu harus bergandengan dengan amal. Maksud al-Ghazali gamblang. Ilmu harus membumi. Jangan (sampai) diangkat ke langit. Ilmu bukan tumpukan teori abstrak. Ilmu bermula dari dan berakhir pada hal-hal kecil sehari-hari.

Newton agaknya sadar benar akan hal tersebut. Karena itu, dia menghargai dan memperhatikan hal-hal kecil yang tampak remeh dan tak penting. Matanya menangkap kasunyatan: sebutir apel jatuh ke tanah. Lalu, dia menemukan teori gravitasi. Lalu, sejarah umat manusia bergerak maju begitu cepat. Berkembanglah sains. Terbangunlah peradaban teknologi tinggi. Sekarang, manusia telah menginjak bulan. Bahkan, pesawat antariksa telah sampai di Mars. Semua itu bermula dari hal kecil.

Rahayu, rahayu, rahayu.

Bumi Mataram, 8 Ramadan 1437 H

NB: Catatan kecil ini ditulis setelah mengikuti bedah buku Filosof Juga Manusia di Masjid Jendral Sudirman, Colombo, Yogya, pada 13 Juni 2016. Pengarangnya, Fahruddin Faiz, dosen filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penerbitnya, MJS Press. Filsafat dan Hal-Hal Kecil Lainnya adalah sekuel dari catatan saya jauh sebelumnya, Sastra dan Hal-Hal Kecil Lainnya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here