Perempuan, Pada Suatu Malam

1
Kaum Perempuan - Perempuan, Pada Suatu Malam
Ilustrasi diambil dari langitperempuan.com

Kaum Perempuan – Gowok, kampung urban di Sleman, Yogyakarta. Hampir tengah malam. Jalanan sudah lengang. Setelah menyumpal perut di warung makan 24 jam, saya menyeret langkah pulang ke rumah. Hanya berteman kesiur angin yang membawa dingin. Saya memandang ke utara. Tampak wajah Ambarukmo Plaza, mal paling ramai se-Yogyakarta milik keluarga Sultan, yang bersimbah cahaya lampu.

Saya kemudian menyapukan pandangan ke kanan, ke kiri. Ada keramaian kecil di sebuah rumah yang sedang dibangun. Buruh-buruh, yang berasal dari entah, masih sibuk mengangkut material. Larut malam begini, mereka masih bekerja demi pendapatan yang tidak seberapa.

Upah Minimum Reguler (UMR) di Yogyakarta di bawah 1,5 juta, pasti tidak cukup untuk menghidupi keluarga yang tinggal di kota, dengan tiga anak. Untuk menutupi kebutuhan rumah tangga, selain bapak, ibu pun terpaksa bekerja. Bahkan, anak-anak juga. Segenap tenaga dikerahkan demi melawan lapar, sakit, dan bodoh. Seluruh sumber daya digunakan untuk memastikan nasib esok pagi.

Maka, jika Anda menyaksikan perempuan bekerja sebagai buruh bangunan di Yogyakarta, harap jangan terkejut. Drama kehidupan itulah yang saya saksikan malam itu. Di antara buruh-buruh lelaki yang hilir mudik mengangkut material, ada seorang buruh perempuan. Melihat wajah dan perawakannya, saya kira umurnya di atas 40.

Ilustrasi diambil dari langitperempuan.com

Tidak tahan memandang drama absurd tersebut, saya mempercepat langkah. Tapi, bayangan ibu itu tidak bisa lepas dari benak, bahkan hingga sekarang ketika saya menulis artikel ini, lebih setengah tahun setelah saya menyaksikan beliau. Entah nasib getir apa lagi yang sekarang menimpa beliau. Barangkali, beliau masih memburuh, mungkin di Yogya, mungkin di luar Yogya, mungkin di entah. Barangkali, kehidupannya telah sedikit lebih baik, memperoleh pekerjaan yang pantas dan sesuai baginya. Barangkali tidak. Kehidupannya kian terpuruk.

Orang-orang kecil seperti beliau, baik kaum laki-laki, lebih-lebih kaum perempuan, menjalani kehidupan yang tidak menentu. Mereka tidak menggenggam sendiri nasibnya. Mereka seperti gabah den interi, gabah yang ditampi, diombang-ambingkan perubahan sosial, kebijakan ekonomi, dan iklim politik. Sungguh luar biasa, dalam kondisi demikian, banyak di antara mereka yang tidak kehilangan kemanusiaan.

Akan kesabaran mereka menanggung derita dan memikul beban hidup, kita terkagum-kagum. Tapi, kekaguman itu hanya sekejap, kemudian menguap disapu waktu. Buktinya, kita tidak pernah mencatat kepahlawanan sehari-hari mereka. Tidak ada kitab sejarah, sejak zaman Hindu-Buddha hingga era Indonesia, yang merekam jejak perjuangan mereka. Kepahlawanan mereka tertutup oleh “kepahlawanan mitologis” tokoh-tokoh agung.

Kitab sejarah hanya mengabadikan nama raja, bangsawan, panglima, pujangga, ulama. Sejarah hanya dipersembahkan kepada, persisnya dikuasai oleh, pejabat. Orang kecil kalah dua kali. Pertama, dalam pertarungan sosial kehidupan nyata. Kedua, dalam pertarungan wacana memperebutkan imajinasi dan ingatan.

Sebab itu, siapa pun yang masih mendengarkan seruan nuraninya, diam-diam akan berteriak sebagaimana Iman Budhi Santosa, penyair Yogya yang pernah bertahun-tahun sengaja hidup menggelandang sebagai orang kecil, berbisik dalam puisinya, Di Balik Sejarah, Legenda, dan Prasasti.

Kini, aku menyusuri kembali

gelap terang sejarah, legenda, dan prasasti

setelah terlanjur dijunjung tinggi

dikaji dan dipepetri

karena di tengah makam para sakti

selalu ada rintih kadasih, sedih

burung capung berseteru

cacing jengkerik mengharu-biru

melawan benar salah hikayat masa lalu

 

Menelisik zaman-zaman tercabik

mengusut lekuk-liku jalan berbalik

kutelan pahit ratapan sakit

orang-orang bela pati

hilang dari bait tembang

yang ditulis para pujangga

dengan setengah hati

Orang-orang kecil, kalau pun tersisip namanya dalam kitab sejarah, hanya ditulis setengah hati. Bukan sebagai pemeran utama, melainkan hanya sebagai figuran, pelengkap penderita yang lewat sekelebat di atas panggung. Seakan-akan tanpa orang kecil kehidupan bisa berjalan. Seolah-olah tanpa orang kecil negara bisa tegak dan berdaya.

Kalau kehadiran mereka tidak dicatat, suara mereka tidak didengar, tidak ada pilihan lain bagi cendekiawan kecuali berpihak kepada orang kecil. Menjadi orang kecil untuk membela orang kecil. Cendekiawan adalah lidah bagi orang kecil, suara bagi kaum subaltern. Iman melanjutkan puisinya:

Berbekal pena dengan tinta air mata

kugambar batu nisan mereka

juga sebaris nama sederhana

berbunyi: rakyat jelata

Tugas itulah yang dijalankan Karl Marx, Albert Camus, Rendra, Pramoedya, dan cendekiawan-cendekiawan agung lain, baik yang tercatat maupun yang tak dicatat, baik yang masih dikenang maupun yang dilupakan. Mereka menulis tentang orang kecil. Mereka bergerak sebagai saksi kehidupan, kehidupan rakyat jelata. Sama seperti mereka, cendekiawati Kartini pun menulis tentang rakyat jelata, tidak sebatas dan melulu tentang kaum perempuan.

Pada zaman Kartini, perempuan Jawa mengalami derita berlapis. Perempuan jelata dipenjara oleh adat, kemiskinan, rasisme, kolonialisme, tentu juga oleh maskulinisme. Jalan keluar dari lapis-lapis derita itu, bagi Kartini, adalah pendidikan. Pendidikan mengantar perempuan jelata ke gerbang kemerdekaan. Tidak sebatas kemerdekaan dari adat, kemiskinan, rasisme, kolonialisme, dan maskulinisme, tetapi kemerdekaan untuk mengambil sikap personal di hadapan belenggu-belenggu itu.

Konkretnya, kemerdekaan untuk menata kehidupan pribadi berdasarkan pertimbangan akal sehat yang dituntun nurani. Dengan kata lain, kemerdakaan yang dewasa, tidak egosentris, tidak pula melampaui batas. Kemerdekaan kaum perempuan yang diperjuangkan Kartini tidak sebatas merdeka-dari sesuatu, sebentuk kemerdekaan yang negatif. Kartini memimpikan kemerdekaan kaum perempuan yang positif: merdeka-untuk bertindak dalam kesadaran.

Sejauh mana impian Kartini telah menjadi kenyataan saat ini? Tidak bisa dijawab dengan berpedoman pada media. Media kita menjalankan ritual yang genit setiap hari Kartini: menampilkan tokoh-tokoh perempuan yang gemilang pada bidangnya masing-masing.

Implikasinya, terbangunlah citra bahwa perjuangan perempuan benar-benar telah membuahkan hasil. Perempuan telah sanggup melampaui ruang privatnya untuk berkiprah dalam ruang publik. Banyak perempuan, yang tokoh-tokoh besar atau yang ditokoh-tokohkan oleh media, berada pada posisi kunci dalam pelbagai bilik ruang publik. Itu sajakah kriteria keberhasilan perjuangan perempuan, ukuran terwujudnya mimpi Kartini?

Dengan berat hati, saya harus menyatakan hal ini: keluarnya perempuan dari penjara privat kemudian masuk ke dalam ruang publik lebih merupakan keniscayaan sejarah daripada perjuangan kaum perempuan itu sendiri. Masyarakat industri, juga masyarakat pasca-industri, menyeret perempuan keluar dari kamar privatnya untuk memaksanya masuk ke dalam ruang publik.

Sistem kapitalisme, juga kapitalisme mutakhir, tidak rela membiarkan perempuan hidup patuh dalam dunia rumah tangga. Perusahaan membutuhkan tenaga perempuan yang lebih halus, estetis, murah daripada tenaga lelaki. Industri periklanan memerlukan tubuh perempuan untuk mengembangbiakkan nafsu konsumsi. Pasar membentuk perempuan sebagai konsumen dengan dahaga belanja yang tidak kunjung terpuaskan. Politik memanfaatkan perempuan sebagai mesin citra.

Sebab itu, bebasnya perempuan dari ruang privat di satu sisi, malang-melintangnya perempuan dalam ruang publik di sisi lain, belum tentu buah dari perjuangan kaum perempuan. Dalam masyarakat pasca-industri saat ini, perempuan memang sudah merdeka dari penjara ruang privat tetapi kemudian masuk dalam penjara lain yang lebih kejam, licik, dan canggih: penjara ruang publik.

Ada gadis sampul, bahkan selebritas papan atas, yang terpaksa atau sekadar terbujuk menjadi pelacur. Ada pemimpin perempuan yang melakukan korupsi karena terperangkap dalam jebakan konsumerisme. Ada buruh perempuan yang bekerja di luar batas jam kerja, tanpa privilege gender apa pun, dengan upah di bawah upah lelaki.

Lebih menyedihkan lagi, ada perempuan yang dilupakan pasar, ditendang ke daerah pinggiran ekonomi, terlempar dalam siklus kemiskinan turun-temurun. Kita tahu, perempuan jelata yang marjinal secara ekonomi ini, yang jarang menjadi perhatian media, jumlahnya begitu banyak, lebih banyak daripada perempuan “sukses” yang dipamerkan media.

Ibu yang bekerja sebagai buruh bangunan di kampung Gowok, yang saya ceritakan pada awal artikel ini, salah satunya. Belum lama ini kita mendengar Irma Bule, biduan dangdut pantura yang gugur dalam perjuangannya untuk memperoleh penghidupan dan mempertahankan kehidupan. Entah berapa banyak tenaga kerja wanita yang diperlakukan secara tidak manusiawi, distigma negatif oleh masyarakat kampung halamannya, bahkan diperdagangkan sebagai budak seks. Kadang ada yang bernasib malang betul, kisah hidupnya yang tragis diperjualbelikan sebagai komoditas dalam industri populer, sejak sastra, televisi, hingga sinema.

Di sebuah dusun kecil di Mestong, Jambi, ada perempuan kecil yang baru saja lulus SD, tetapi sudah menjadi ibu karena hamil di luar nikah. Bersama suaminya yang belum tamat SMP, dia harus membanting tulang untuk menjaga kepulan asap dapur keluarga. Dia mati-matian menyembunyikan luka akibat gunjing cemooh tetangga, teman, dan kerabat. Inilah realitas pahit kaum perempuan jelata yang tidak dipedulikan media, juga tidak dicatat kitab sejarah.

Jadi, sudahkah mimpi Kartini terwujud? Jangan, jangan tergesa-gesa menjawab. Marilah kita dengarkan dulu, dengan hati nurani, puisi Iman yang lain, yang menyuarakan dengan lirih nasib kaum perempuan jelata, berjudul Perempuan-Perempuan Pasar sebelum Matahari Bersinar.

Tiba-tiba saja mereka sudah di sana

entah dari mana. Barangkali, dari celah

bukit yang jauh, dari bawah rumpun bambu

dari rumah berkemudi satu, atau dari dekapan

anak dan suami yang terus menyusu

 

Tiba-tiba sudah menggelar apa saja

kecuali tubuhnya. Semua bersimpuh

merendah tapi tengadah. Jari tangan

mengembang, tapi bukan mengarang

supaya pasti pulang kandang

dengan dada lapang.

Wajahnya dingin embun pagi

matanya terbuka seperti langit

mulutnya meniru burung

ramah menyapa bumi

riuh memikat

luluh mengajak dekat

 

Tiba-tiba mereka sudah menjerat

seisi kota, mendekapnya ke dada

tangan dan pangkuannya

menentramkan hari

menentramkan rumah

menentramkan isteri

agar menjadi sebongkah garam

yang terus dicari

Setelah mendengarkan puisi itu, Anda barangkali tergoda menyimpulkan: mimpi Kartini pada kenyataannya belum benar-benar terwujud. Masih begitu banyak perempuan yang bertekuk lutut di hadapan kemiskinan, maskulinisme, tradisi, juga modernitas. Tapi, kita yakin, walaupun banyak kaum perempuan, sebagaimana banyak kaum lelaki, yang kemanusiaannya rontok diamuk nasib, ada banyak perempuan tangguh yang kemanusiaannya dan keperempuanannya tetap tegak dalam hantaman realitas yang bertubi-tubi.

Mereka adalah perempuan agung, pahlawan sejati, yang tidak diberitakan media, yang namanya tidak ditemukan dalam lembar-lembar kitab sejarah. Untuk merekalah artikel ini saya tulis, bukan sebagai manusia yang mengaku-aku cendekiawan, melainkan sebagai manusia saja, manusia yang menyaksikan manusia lain, manusia yang hidup bersama manusia lain.

Yogyakarta, 21-22 April 2016

baca juga, artikel tubanjogja.org

Oleh, Lev Widodo

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here