GENEALOGI WIRID HIDAYAT JATI

0
GENEALOGI WIRID HIDAYAT JATI

tubanjogja.org – Wirid Hidayat Jati

Oleh: Lev Widodo*

Ranggawarsita sering dipandang sebagai tokoh kejawen kelas wahid. Sebagian kalangan umat Islam, terutama kaum santri puritan, menempatkan pujangga terakhir Jawa itu sebagai mahaguru golongan abangan. Akibatnya, muncul asumsi bahwa ajaran Ranggawarsita menyimpang dari ajaran Islam dan semata-mata merupakan perbauran campur aduk dari animisme-dinamisme Jawa, Hinduisme, dan Islam. Jika dilihat dalam konteks kesarjanaan Islam, ajarannya tidak berasal dari sumber yang sahih dan bersandar pada sanad keilmuan yang valid.

Sebenarnya, asumsi itu telah ditepis sendiri oleh Ranggawarsita. Santri Kiai Imam Besari Ponorogo ini menggubah banyak kitab, dengan Serat Wirid Hidayat Jati sebagai master piece-nya. Pada halaman pembukaan serat tersebut, Ranggawarsita membeberkan genealogi ajaran tasawufnya: wirid hidayat jati (Simuh, 1988: 170-173).

Dia tidak mengklaim ajaran tersebut sebagai temuan dan formulasinya sendiri. Dia hanya menghimpun ajaran yang telah ada, tetapi tercerai-berai, dalam masyarakat Islam Jawa pada zamannya. Wirid hidayat jati, demikian tulis Ranggawarsita, bersumber dari Sunan Ampel, yang menjadi sakaguru wali sanga.

Setelah Sunan Ampel meninggal, unsur-unsur wirid hidayat jati diajarkan secara terpisah oleh tiga angkatan wali sanga. Tidak semua ulama yang pernah menjadi murid Sunan Ampel bersedia mengajarkan wirid hidayat jati. Sebab, wirid ini merupakan ajaran esoteris tingkat tinggi yang bersifat sangat rahasia.

Hanya golongan ulama tertentu, yang dalam literatur tasawuf disebut khawash al-khawash, yang diperkenankan mempelajari dan mengajarkannya. “Pesan kami,” tulis Ranggawarsita dalam penutup Serat Wirid Hidayat Jati, “wirid ini tidak boleh diberitahukan kepada orang-orang yang belum seilmu [dalam arti setaraf level keilmuannya]. Karena akan menimbulkan perbantahan [sehingga wirid hidayat jati menjadi] tidak ada faedahnya” (Simuh, 1988: 219-220).

Pada angkatan wali sanga periode awal Kerajaan Demak, hanya ada delapan ulama yang bersedia mengajarkan wirid hidayat jati. Mereka adalah Sunan Giri Kedhaton, Sunan Tandes, Sunan Majagung, Sunan Bonang, Sunan Wuryapada, Sunan Kalinyamat, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kajenar. Sunan Kajenar, yang mengajarkan wejangan sasahidan (hakikat syadahat; syahadat sejati), merupakan gelar penghormatan lain bagi Syaikh Siti Jenar, Syaikh Lemah Abang, atau Syaikh Abdul Jalil.

Pada angkatan wali sanga periode akhir Kerajaan Demak, juga hanya ada delapan ulama yang berkenan mengajarkan unsur-unsur wirid hidayat jati secara terpisah. Kedelapan ulama itu adalah Sunan Giri Parapen, Sunan Darajat, Sunan Ngatasangin, Sunan Kalijaga, Sunan Tembayat, Sunan Kalinyamat, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kajenar.

Selanjutnya, pada angkatan wali sanga periode transisi dari Kerajaan Demak menuju Kerajaan Pajang, jumlah ulama yang mengajarkan wirid hidayat jati juga delapan, yaitu Sunan (Giri) Parapen, Sunan Darajat, Sunan Ngatasangin, Sunan Kalijaga, Sunan Tembayat, Sunan Padusan, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.

Dalam formasi ulama Jawa yang mengajarkan wirid hidayat jati pada periode ini, saya mencatat dua hal menarik. Pertama, penerus Sunan Kajenar dalam mengajarkan wejangan sasahidan adalah Sunan Geseng, yang konon merupakan santri Sunan Kalijaga.

Kedua, Sunan Kudus, ulama penjaga syariat yang terkenal paling formalisitik dalam ekspresi keberislamannya dibandingkan anggota wali sanga lain, juga mengajarkan esoterisme tasawuf. Artinya, paling kurang semenjak masa Sunan Kudus benih-benih neosufisme, yang mereintegrasikan, mengharmoniskan, dan mensintesiskan aspek syariat dan aspek hakikat dalam agama Islam, sudah tertanam dalam masyarakat Islam Jawa. Jika keterangan Ranggawarsita tentang ikut sertanya Sunan Kudus dalam mengajarkan wirid hidayat jati dapat dibuktikan dan dibenarkan secara historis, pendapat Azra (2013: 401-404) tentang sejarah neosufisme di nusantara yang bermula sejak paruh kedua abad ke-17 perlu dicermati ulang.

Ranggawarsita menyebutkan, Sunan Kudus mengajarkan salah satu unsur wirid hidayat jati, yaitu wejangan untuk meneguhkan dan memantapkan kesentosaan iman. Ketujuh sunan lain pun, dalam angkatan wali sanga transisi Demak-Pajang, mengajarkan salah satu unsur saja dari wirid hidayat jati. Pada perkembangannya, hal ini mengakibatkan tercerai-berainya kesatuan ajaran tersebut.

Menaruh perhatian akan kondisi itu, Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja Mataram Islam yang pada abad ke-17 memimpin perang sabil di Batavia dalam rangka mengusir Belanda dari nusantara, memprakarsai penghimpunan kembali ajaran wirid hidayat jati warisan Sunan Ampel yang tercerai-berai. Dia mengadakan konferensi ilmiah yang dihadiri guru besar tasawuf di tanah Jawa pada masanya.

Konferensi itu membuahkan dua hasil. Pertama, konsensus ulama tentang sistematika dan seluk-beluk wirid hidayat jati. Kedua, pemilihan sembilan ulama yang berwenang mengajarkan wirid hidayat jati. Disebutkan secara berurutan, mereka adalah Panembahan Purubaya, Panembahan Ratu Pekik, Panembahan Juru Kithing, Pangeran Kadilangu, Pangeran Kudus, Pangeran Tembayat, Pangeran Kajoran, Pangeran Wangga, dan Panembahan Juminah. Saya kira, inilah formasi wali sanga, sebagai majelis permusyawaratan alim-ulama se-tanah Jawa, pada periode pasca-Pajang atau periode Mataram Islam awal.

Rupanya, sejarah berulang. Sepeninggalan Sultan Agung Hanyakrakusuma, wirid hidayat jati kembali tercerai-berai, persis seperti apa yang terjadi setelah Sunan Ampel meninggal. Bukan hanya tercerai-berai, unsur-unsur wirid hidayat jati juga diajarkan sebagai okultisme, misalnya sebagai ilmu kebal. Dengan demikian, terjadi penyimpangan luar biasa dalam pewarisan, pengajaran, dan pengamalan wirid hidayat jati.

Sebab itulah, seorang ulama di Surakarta menghimpun kembali wirid hidayat jati yang tercerai-berai, kemudian menyusun kembali wirid tersebut secara sistematis. Dia juga meluruskan dan menjernihkan ajaran wirid hidayat jati yang menyimpang. Ulama tersebut adalah Kiai Ageng Muhammad Sirrullah yang berdiam di Kedhung Kol. Demikian paparan Ranggawarsita dalam mukadimah serat wirid Hidayat Jati.

Menurut Tanaya, salah seorang penyalin Serat Wirid Hidayat Jati pada abad ke-21, Kedhung Kol berada dalam wilayah Yasadipuran, sebalah timur Pasar Kliwon, kota Solo. Di tempat itulah keluarga besar Yasadipuran tinggal. Sementara itu, Ranggawarsita termasuk pujangga Surakarta trah Yasadipuran. Yasadipura I yang menggubah kitab wayang bernapaskan tasawuf dan Yasadipura II yang tergabung dalam tim penulis Serat Centhini, adalah leluhur Ranggawarsita. Karena itu, Tanaya menyimpulkan bahwa Kiai Ageng Muhammad Sirrullah tiada lain adalah Ranggawarsita sendiri (Simuh, 1988: 270).

Di balik penggunaan nama samaran itu, terdapat dua hal yang layak dibicarakan. Pertama, kerendahan hati Ranggawarsita. Walaupun sebenarnya dialah yang menghimpun kembali wirid hidayat jati yang berserakan, Ranggawarsita tidak menyebutkan bahwa hal itu merupakan hasil kerja kerasnya. Dia bermaksud menyembunyikan amal baiknya dari mata khalayak, salah satu bentuk latihan spiritual yang senaniasa dijalani kaum sufi. Dengan kata lain, Ranggawarsita tidak punya kepentingan pribadi dalam penghimpunan kembali wirid hidayat jati dan penulisannya menjadi sebuah serat.

Kedua, nama samaran atau nama pena yang dipakai, yaitu Muhammad Sirrullah. Secara harfiah, arti Muhammad Sirrullah adalah ‘Muhammad (adalah) Rahasia Allah’. Nama ini mengingatkan kita pada doktrin tasawuf. Hakikat Nabi Muhammad (nur Muhammad/al-haqiqah al-muhammadiyah) merupakan alasan penciptaan semesta. Jika dipandang dari sisi mahkluk, al-haqiqah al-muhammadiyah adalah jangkar eksistensi semesta. Jika dipandang dari sisi Sang Khalik, al-haqiqah al-muhammadiyah adalah rahasia Allah.

Karena itu, pemilihan dan penggunaan nama Muhammad Sirrullah oleh Ranggawarsita harus dibaca sebagai pasemon. Dengan menggunakan nama itu, dia ingin mengatakan kepada pembaca bahwa wirid hidayat jati sebetulnya merupakan kitab tasawuf. Hanya saja, berbeda dengan kitab tasawuf lain yang ditulis dengan aksara Arab, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Jawa/Melayu, Serat Wirid Hidayat Jati adalah kitab tasawuf yang ditulis dalam bahasa Jawa, dengan aksara Jawa, dan dengan simbolisme khas Jawa pula. Wirid Hidayat Jati adalah totalitas doktrin esoteris tasawuf yang telah dibumikan di tanah Jawa.

Itulah sebabnya, Ranggawarsita menyatakan bahwa kesatuan wirid hidayat jati yang berhasil dihimpun oleh Sultan Agung, yang pada gilirannya dihimpun kembali oleh Ranggawarsita, bersumber pada kutipan-kutipan kitab tasawuf. Secara tertib, ajaran tersebut juga bersendikan pada ilmu. Wirid hidayat jati, lanjut Ranggawarsita, “diamalkan para nabi dan para wali pada zaman dahulu” (Simuh, 1988: 172).

Begitulah Ranggawarsita menerangkan genealogi wirid hidayat jati. Simuh (1988: 279-281), dalam disertasinya tentang Serat Wirid Hidayat Jati, membaca genealogi itu secara kritis. Dia melakukan penelusuran kepustakaan untuk melacak sumber-sumber yang digunakan Ranggawarsita dalam penulisan Serat Wirid Hidayat Jati. Menurutnya, Ranggawarsita menggunakan empat sumber dalam menyusun master piece-nya itu.

Pertama, Serat Dewa Ruci, yang isinya sering dinisbahkan pada Sunan Kalijaga. Kedua, Serat Centhini, ensiklopedi pengetahuan Islam Jawa yang disusun pada masa pemerintahan Pakubuwana IV. Ketiga, kitab al-Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi yang ditulis Syaikh Fadhlullah al-Burhanpuri dari Gujarat. Tarekat Syattariah dengan sanad Abdur Rauf Singkel, yang antara lain disebarluaskan oleh Abdul Muhyi Pamijahan, memperkenalkan kitab al-Tuhfah di Jawa. Dari Jawa Barat, pengikut Tarekat Syattariah menyebar hingga Tegal, tempat ditemukannya Serat Tuhfah, saduran kitab al-Tuhfah dalam bahasa Jawa yang berbentuk puisi macapat. Keempat, sebuah serat yang berisi ajaran Pangeran Panggung. Judul serat yang terdapat dalam koleksi manuskrip D.A. Rinkes ini belum teridentifikasi.

Berdasarkan hasil penelusuran sumber penyusunan Serat Wirid Hidayat Jati yang dilakukan Simuh itu, juga berdasarkan paparan genealogi wirid hidayat Jati menurut Ranggawarsita sendiri, tergambar bahwa wirid hidayat jati berakar pada tasawuf. Dengan kata lain, Ranggawarsita, mahaguru kejawen dan abangan itu, ternyata seorang ulama tasawuf, sufi yang menyamar dengan mengenakan baju kebudayaan Jawa.

Bahkan, sebagai seorang sufi, Ranggawarsita berpendirian neosufistik. Dalam Suluk Suksma Lelana, dia menulis bait berikut ini.

Punapa yen wus kakekat

Estu lajeng sarengatnya kawuri

Yen saking pamanggih ulun

Tan wonten kang tinilar

Jer muktamat ing hadis ugi kasebut

Kak tanpa sarengat batal

Sarak tanpa kak tan dadi

Apa kalau sudah [mencapai] hakikat

Lalu syariatnya ditinggal

Kalau menurutku

Tidak ada yang ditinggalkan

Jelas disebut dalam hadits

Hakikat tanpa syariat batal

Syariat tanpa hakikat tidak jadi

Bait di atas dengan begitu terang menunjukkan bahwa Ranggawarsita menjunjung tinggi syariat Islam. Dia tidak mempertentangkan hakikat dan syariat, tidak pula memperlawankan keislaman dan kejawaan. Dalam menyampaikan ajaran tasawufnya memang Ranggawarsita menggunakan bahasa, simbolisme, dan kebudayaan Jawa. Namun, hal itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa wirid hidayat jati merupakan campur aduk kolasif dan sinkretis dari animisme-dinamisme Jawa, Hinduisme, dan Islam. Pada dasarnya, ruh ajarannya adalah nilai-nilai terdalam agama Islam, yang hingga sekarang masih terpelihara dengan baik dalam lingkungan tasawuf.

Setelah membaca Ranggawarsita secara lebih mendalam, kita menjadi lebih kritis terhadap pernyataan bahwa pada Ranggawarsita terdapat pertentangan antara keislaman dan kejawaan, santri dan kejawen, putihan dan abangan. Ternyata, Ranggawarsita bukan hanya milik kaum kejawen. Kaum santri juga berhak—bahkan harus—mempelajari pesan, nasihat, dan wasiatnya yang tertuang dalam karya-karyanya. Sebab, Ranggawarsita bukan hanya pujangga Jawa. Dia ulama yang perlu kita kenang, kita muliakan, dan kita teladani.

Anda berminat menyelenggarakan haul Ranggawarsita?

Bumi Mataram, Desember 2016

*Penulis adalah santri lelana, pelaku budaya, mendalami spiritualitas, mistik, kajian budaya berbasis kearifan Nusantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here