Penyesalan

0

 

Tubanjogja.org, Penyesalan

Penyesalan
Ilustrasi

Oleh: Joko Gembili*

Desa perbatasan antara seberang kota, terdapat kehidupan yang menyedihkan. Keluarga kecil yang miskin pengetahuan. Sukinar seorang kepala rumah tangga dari keluarga yang miskin. Keseharianya hanyalah bermain judi dan suka merampok. Lelaki yang berusia 40 tahun ini mempunyi seorang istri dan 2 anak. Setiap hari keributan selalu muncul. Sukinar dan sang istri selalu bertengkar. Sang istri selalu sabar menghadapi Sukinar ketika bertengar Surti hanya mampu mengluarkan air mata dan menunduk. Ketika keadaan tenang Surti mencoba menghampiri sang suami dengan membawakan segelas kopi dan berkata “Pergilah mencari pekerjaan yang halal pak aku dan anak anakmu butuh nafkah dari pekerjaan yang halal entah itu apa pekerjaanya yang penting halal” dengan nanda penuh akan pengharapan. “Sudah sana belikan rokok jangan banyak bicara. Ini bapak juga sedang memikirkan itu” jawab sang suami dengan nada setengah marah.

Suatu hari seorang tetanga mendatangi Sukinar. Dia ingin menawarkan pekeraan untuk beberapa hari yaitu bantu nanem jagung di tegal. Surtipun sangat senang karena suaminya mau bekerja meskipun hanya menanam jagung dan itupun hanya beberapa hari. 3 hari Sukinar bekerja dan setiap malam suknar slalu kluar rumah karena kantongya sedang berisi tak lain lagi yang di lakukan hanyalah judi. Ketika jam menunjukan 00. 15 trdengar orang mengetuk pintu dan Surtipun mengira kalo itu adalah suaminya ‘’pak jangan judi terus ingget besok uda bayar listrik”ujar sang istri. Jangan larang aku untuk berjudi buk karena jika bapak menang uangnya juga untuk membayar listrik dan keperluanmu”. ‘’Kalo begitu mana pak hasil judimu aku akan menerima dan tak memarahimu” dengan nada yang tersendat sendat boncengdan pelapuk yang penuh akan air mata. Sukinar hanya bisa diam dan menuntun motornya ke dalam rumah.

Dalam kesehrinya. Sukinar sering kumpul di salah satu warung benges. Dia mempunyai beberapa rekan dalam aksinya untuk menjalankan misinya. Salah satunya ialah merampok. Dalam aksinya Sukinar dan rekanya membuat sebuah strategi. Mereka sering beraksi di jalanan yang sepi dengan modusnya salah satu dari mereka berjalan di sebuah jalan dan menyetop orang untuk ikut membonceng. Dengan modusnya itu setelah target berhenti pasukan di kerahkan untuk menyerbu mangsa dan mereka membawa lari motor korban. Terkadang dalam aksinya salah satu dari mereka pergi ke sebuah keramaian. Disitu ia menghampiri target dan seolah olah dia meminta bantuan supaya bisa ikut pulang. Pertama dia bertanya kepada target yang sedang sendirian. Lagi lagi dengan modusnya yang memasang muka melas akhirnya target terbujuk dan mau mengantarkan pulang. Mangsapun di bujuk untuk melewati jalan yang sepi dan di situlah rekan rekan Sukinar meluncurkan aksinya.

Kebutuhan di rumah memang sangat banyak. Sukinar pun juga harus menyekolahkan kedua anaknya bela dan bejo. Sedangkan Surti kesehariannya hanya berjualan nasi bungkus yang penghasilanya tak seberapa. Dan kini bejo juga harus membayar ujian. Memang keluarga menengah kebawah yang tergolong keluarga miskin ini harus berjuang keras untuk menghidupi rumah tangga. Dan Surti pun juga harus bersabar menghadapi suaminya. Sering tetangga kanan kiri membicarakan mereka. Nampaknya telah banyak kecurigaan dari mereka tentang perbuatan Sukinar. Gosip gosipun telah menyebar setiap pagi setiap Surti belanja di pasar dia selalu mendengar kalo suaminya sering di bicarakan. Ketika ia sedang membeli sesuata ia pun mendengarkan orang orang yang sedang membicarakanya kalo suaminya seorang perampok. Semakin lama semakin terdengar panas di telingga Surti.

‘’Apakah benar buk kabar tentang suamimu seorang perampok?” sapa seorang ibuk yang berada di dekatnya. ‘’ Surtipun hanya bisa diam dan membailkan pembicaraan merake. Sstiap hari semakin banyak berita berita yang menyebar tentang suaminya. Dia hanya bisa bersabar dan berdoa karena setiap dia menasehati suaminya ujung ujungya hanya kemarahan yang ia dapat. Saat siang bolong saat Sukinar sedang menikmati tidur siangnya tiba tiba terdengar suara seorang lelaki yang berpakaian rapi memangilnya. Sukinar pun kluar menemuinya dengan pakaianya yang lusut dan sarung yang telah kumel karena sering di pakai dalam aksinya. ‘’silahkan masuk pak”ujar surdi. Ketika telah di jelaskan apa maksut kedatangan mereka Sukinar pun lemas karena tak lain tujuan mereka hanyalah ingin menembusi listrik yang tlah telat beberapa bulan belum di bayar. Setelah lama di jelaskan akhirnya mereka meninggalkan Sukinar dengan sebuah kesepakatan kalo minggu depan harus bisa melunasi semua tagihann listrik yang telah menungak. Kembali sardi ke krenjang yang telah peot di makan serangga kecil. Lalau tak lama anaknya yang telah menduduk bangku smp pulang dan menghampiri Sukinar. ‘’pak bapak ada uang”? Tanya bejo ‘’ ada perlu apa nak? ‘’bejo akan ujian pak dan itu perlu bayar uang ujian sebanyak tuju ratus ribu. Kalo ngk bisa byar pada bulan ini bejo tidak bisa mengikuti ujian. ‘’ Sukinar pun semakin binggun karena dia harus melunasi tanggungan listrik dan di samping itu dia harus bayar ujian anaknya.

Kesana kemari dia mencari pinjaman dan tak kunjung dia dapat. Mungkin karena memang nama Sukinar di kenal sebagai perampok jadi merasa kuatir orang yang meminjamkan kpadanya. Suatu ketika saat sedang duduk di kursi depan rumah seorang tetangga menghamprinya dan menawarkan untuk membersihkan rumput di kebunya. Tanpa berpikir panjang akhirnya Sukinar pun mau karena baginya lumayan bisa buat modal untuk berjudi. Motor kesayanganya pun telah siap meluncur. Doa Sukinar malam ini tak lain ialah ‘’semoga menang dalam perjudian dan membawa sekarung uang”Sesampai di lokasi Sukinar agak heran karena tampak wajah wajah asing yang mengikiti kiyu kiyu (judi). Permainan telah berjalan dan semakin malam doa gem semakin terkabulkan. Tak terasa jarum jam telah melewati perbatasan tenggah malam dan tak di sanggka pula kini sakunya telah terpenuhi dan sekliling perutnya pun di klilingi uang yang cukup banya karena di situlah tempat persembunyian saat mengalami kemenangan. Sukinar pun mulai memikirkan sesuatu supaya dia bisa menyudai dan membawa pulang uangya. Berbagai alasan bermunculan darinya dari sakit perut sampai penyakit panunya kumat. Namun semua alasan itu gagal membuatnya mengakhiri permainan. Semakin gaduh pikiranya ia takut kalo di teruskan bisa bisa kalah dan ludes semua uangnya dari dalam saku sampai seluruh yang ada dalam celana dala. ‘’pak Sukinar terkenal akan kebranianya masa mau mengudahi permainan ini” sahut seorang pemain di sampingnya. Mendengar ocehan itu semakin tertantang dan semakin percaya pak Sukinar untuk melanjutkan permainanya. Denggan sombongnya udu yang di pasang bukan lagi lima rubu melainkan uang yang bergambar Sultan Mahmud Badaruddin tak lain adalaah uang sepuluh ribu. Tak terasa ayam jantan melantunkan suaranya yang menunjukan pagi hari telah datang. Tanpa sadarnya saku kanan kirinya telah hbis yang di dalam celananya pun telah ludes pula. Sehingga tak ada pula yang di buat taruhan karena semua uang Sukinar telah habis dan kalah.

Hari semakin dekat semakin binggung pula ia mencari uang untuk melunasi tagihan listrik dan membayar ujian bejo. Semakin setres pikiran Sukinar dan dia telah memutuskan malam ini akan meluncurkan aksinya di salah satu tempat yang sepi. Ketika ia akan menyurfe tempat tiba tiba motornya sedang di bawa anaknya bejo keluar dan akan pulang malam. Akhirnya dengan fasilitasnya yang kurang dia menelfon seorang temanya supaya di jemput dan di anterkan ke lokasi tempat dia beraksi. Malam itu memang senggaja ia ingin merampok sendiri karena jika dengan temanya hasilnya akan di bagi dan dia akan mendapatkan hasil yang kecil maka dari itu dia memutuskan merampok sendiri supaya bisa menghassilkan hasil yang memuaskan.

Malam telah datang. Dan kini saatnya dia meluncurkan aksinya. Di sebuah sawah yang sepi yang tak ada satupun lampu yang meneranginya di situlah momen momen yang membuatnya mudah dalam melakukan pembegalan atau di sebuat perampokan. Malam itu Sukinar tak memakai rencana yang seperti biasa kali ini cara yang di lakukan sangat tragis. Ia akan menarik sebuah tampar yang mengikat pohon di samping jalan ketika mangsa sedang bercalan dengan kencang di situlah magsa akan jatuh krena tersangkut tampar yang telah di tariknya. Berjam jam Sukinar menunggu mangsa dan tak satupun ada orang yang lewat. Dari kejauhan tersorot dua lampu yang sedang melaju kencang namun itu sebuah mobil dan tak mungkin Sukinar bisa merampoknya karena ia sendirian. Kembali ia harus menunggu dan bersabar. Di sawah beralasan daun padi dia menunggu mangsa sambil berbaring melihat langit dan menghembuskan asap rokok yang sangat tebal dan pedih di mata. Malam itu memang terang banyak bintang yang menari nari di langit. Ia pun memejamkan mata dan mengulas memorinya sewaktu kecil. Masa kecilnya dia sangat senang bermain di sawah dan menjaga padinya di sawah dengan kakeknya. Sewaktu sekolah Sukinar memang anak yang cerdas namun karena ekonomi yang membuat dia putus sekolah dan pergaulan yang menjadikan ia seperti ini. Dalam perenunganya di tempat yang hening mulai ada benih benih penyesalan dari hati Sukinar. Ia terbayang bayang kehidupan yang bahagia tanpa harus melakukan perbuatan yang tercela. Dia mulai sadar kalo dia mempunyai istri dan dua anak yang harus di nafkai dngan pekerjaan halal. Dalam hatinya ia bertanya tanya apakah ia bisa berheti dan mendapatkan kehidupan yang tenang.

Tak terasa jam telah menunjukan pukul 11.15 . Tiba tiba ia tersadar dari angan anganya karena terdengar suara motor dari ujung jalan. Iapun kmbali berdiri melihat sorot lampu dari kejauhan dan memang itu sebuah motor yang tlah melaju dngan kecepatan cukup kencang. Perlahan ia mulai melanjutkan aksinya. Topengpun telah di kenakan dan dikit demi sedikit Sukinar mulai menarik tampar yang tlah di ikatnya. Ketika motor melaju Sukinar menarik kencang tamparnya dan jatuhlah sang mangsa. Tanpa mengetahui siapa sang mangsa dan apa yang dia bawa surdipun mengambil motor mangsa dan melaju kencang meningalkan mangsa.

Surti sangat cemas karena suami dan anaknya belum pulang. Dia merasa takut karena di rumah ia hanya bersama anaknya. Entah apa yang di pikirkan Surti dia selalu memandangi jam dan mondar mandiar di depan pintu Surti berharap supaya anak dan suaminya segera pulang. Terdengar suara motor dan ia pun kluar karena suara motor itu mirip dengan yang dipakai anaknya. Ternyata itu bukanlah sang suami ataupun anaknya. Srtipun melangkahkan kekinya menuju dapaur. Ia teringat kalo anaknya tadi siang berangkat dan belum makan ia akan menyiapkan makanan untuk anak dan suaminya supaya nanti kalo sampai bisa makan bersama meskipun itu tengah malam. Setelah semua di siapkan terdengarlah suara motor yang mengarah ke rumahnya. Dengan sesegera dia membukakan pintu dan itu adalah suaminya. Surtipun menanyakan anaknya kpada sang suami ‘’pak bejo mana”? Loh belum pulang toh buk” jawab sang suami. ‘’loh pak bukanya sama bapak?” tidak buk bapak habis kluar cari kerjaan” seketika Surti mulai binggung dan cemas ‘’lalu itu motor siapa pak bukanya itu motor bapak yang di pakek bejo tadi siang ?”tanya Surti dengan penasaran. Terdiam sejenak Sukinar memandangi motor. Dan dengan kagetnya tiba tiba Sukinar menangis dan lari menyusul anaknya yang tenpa sadarnya ia telah merampok anaknya sendiri. Dan kejadian itulah yang membuat Sukinar sadar dan bertaubat.

 

Baca Juga Hal Menarik Lainnya : Di Fanspage Kami

*Penulis seorang pemuda berdarah Mawot, alumni Pesantren Asshomadiyah, Tuban. Cerita ini diketik di HP sambil tidur-tiduran di kos Griyahana, Yogyakarta.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here