Aku Mencintai “Ipung”

0
Ilustrasi diambil dari eden-saga.com

tubanjogja.org – Pada satu sore, di tengah obrolan tanpa kata, tiba-tiba ada yang kepo dengan namaku. Ia tanya begini: kenapa kamu dipanggil Ipung? Bukannya namamu Saifullah Muhammad? Aku kaget. Pasti yang ia inginkan bukan jawaban. Pasti ia hanya basa-basi. Tapi rasanya tidak enak jika hanya dibalas senyum. Akhirnya aku bercerita. Kira-kira begini kisahnya.

Aku dan Cinta
Ilustrasi diambil dari eden-saga.com

Aku hanya bangga dengan panggilan itu. Rasanya lebih percaya diri, lebih beridentitas, dan lebih lucu saja dibanding Saiful, Muhammad, atau Iful. Intinya lebih nyaman. Bagiku, istilah “Ipung” adalah bukti nyata betapa telah ada sebuah kombinasi dua budaya. Iya, perpaduan antara budaya Arab dengan Jawa. Lewat satu kata tersebut, aku ngrasa memiliki alasan tersendiri, untuk bilang bahwa aku tidak minder.

Jika di-I’lal, mulanya aku dipanggil Saiful. Karena terlalu panjang, jadi Iful. Iful susah diucapkan oleh lidah-lidah Tuban. Akhirnya biar mudah, maka diganti lagi Ipul. Lha, pas di panggilan Ipul, masih saja ada yang merasa terlalu susah. Alhasil, jadilah “Ipung”. Jika meminjam teori resepsinya Jauss—asik, pakai teori segala—di sini usai terjadi apa itu yang disebut sebagai proses “internalisasi” oleh masyarakat Tuban atas kosakata-kosakata Arab. Dalam proses tersebut tengah terjadi perpaduan (fusion) antara teks atau kosakata Arab dengan pemikiran masyarakat Tuban kala aku kecil. Lalu, lahir deh kata “Ipung”.

Pendeknya, kata “Ipung”, selain memang lebih cocok buat bibir-bibir Tuban, itu juga merupakan se-simbol yang menunjukkan bahwa di bidang “nama” kita masih memiliki identitas. Coba bandingkan dengan panggilan “Saiful” yang nuansanya Arab sekali, adakah tanda-tanda kehidupan budaya kita di situ? Aku kira tidak! Adanya hanyalah keangkuhan tradisi Arab yang selama ini kita sendiri menjadikannya mitos. Mitos akan suatu kebaikan di hari kelak dan mitos yang secara tidak sadar senantiasa membuat kita melihat bahwa nama semacam “Sri” jauh lebih rendah dan tidak kece dibanding “Zahrotul Habibah” atau “Marisa”.

Berpikir ihwal ini pula, terkadang aku sering mentok sendiri. Pertama, mengapa masyarakat hari ini, dari berbagai level, lebih suka menamai anak-anak mereka dengan panggilan non-lokal? Kedua, apa sejatinya yang mereka harapkan dengan nama-nama seperti Ahmad Taufik, Ahmad Devid, Ali Nasikhin, Ihsan Khalidin, dan sebagainya? Surga? Kalau iya, lantas, bagaimana dengan mereka yang bernama Sudibyo, “Suyono”, Urip, Darji, Susilowati, dan sejenisnya? Ah, entah. Semoga yang namanya seperti Ali Nasikhin, mentalnya tidak inlander, tidak minder dengan Arab, dan tidak terjajah. Paling tidak, dari “nama” sajalah kita merdeka! Yo mosok kok teko jeneng ae kejajah cuah!

“Jadi, karena itulah aku mencintai ‘Ipung’,” simpulku padanya, tepat kala mentari menutup mata terindahnya. Zav

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here