Gadis Kahyangan di Jalan Pematang

1
Ilustrasi adalah lukisan karya Basuki Abdullah dengan judul "Anak Nakal"

tubanjogja.org – Gadis Kahyangan

Gadis Kahyangan
Ilustrasi adalah lukisan karya Basuki Abdullah dengan judul “Anak Nakal”

Oleh: Daruz Armedian

Orang-orang miskin seperti kami, seringkali kehilangan kata-kata kalau sedang menjumpai keanehan. Atau hal yang sangat jarang ditemui. Seperti hari ini. Ya, datang tiba-tiba seorang gadis, kalau aku boleh menyebutnya gadis, menuju gubuk peristirahatan di pinggir sawah. Gadis yang sangat indah. Berjalan anggun di atas pematang.

“Kang, ndak beli jajanan saya, Kang?” tawarnya sambil menaruh rinjing atau wadah terbuat dari anyaman bambu itu di depan kami.

Sejak awal memang kami berperan sebagai orang miskin yang kehilangan kata-katanya jika menemui keanehan. Maka, saat itu pula kami hanya diam. Antara terkejut dan kagum. Mata terbelalak seperti anjing yang dikurung melihat juragannya memeluk kucing. Tubuh kaku seperti batu. Darah terkesiap dan jantung rasanya berhenti detak.

Gadis itu tersenyum lembut. Lembut sekali. Meluluhkan bumi langit dan seisinya. Giginya putih berseri, pun tak lupa ada gingsulnya. Alisnya tebal hitam pekat legam. Kau tentunya perlu tahu juga bentuk tubuhnya. Ohoi, seperti labirin. Sungguh berliku. Dua buah apel di dadanya…

Ah, ini terlalu serius!

“Kang!” panggilnya sekali lagi. Kami terperanjat.

“Mbak. M-m-mbak jualan apa?” Kamid yang tidak terlalu miskin, artinya terkaya di antara kami angkat bicara. Gadis itu tersipu. Sekaligus rikuh mau berbuat apa. Yang jelas, aku sendiri menyayangkan pertanyaan bodoh itu. Bukankah jelas di dalam rinjing itu bakpia? Lalu di dalam termos itu es lilin rasa rujak.

“Bakpia, Kang.”

“O… bakpia.” Mulut Kamid komat-kamit. Matanya tak berkedip.

“Beli ya, Kang. Sebagai pelarisan. Ini dari tadi pagi cuma sedikit yang beli.” Gadis itu senyumnya getir. Ada apa? Sembari membungkus bakpia di dalam kresek hitam, ia menundukkan kepala. Rambut hitam panjangnya menjuntai-juntai. Kamid tanpa suara langsung menyodorkan uang dari sakunya. Entah berapa jumlahnya. Seakan-akan uang itu keluar tanpa disengaja. Ada yang tiba-tiba seperti ilusi. Menyekap kami semuanya. Sungguh diam seperti ini tidak diinginkan: diam tanpa kata. Dan memang diam identik dengan tanpa kata-kata. Diam yang membawa getar-getar di dada. Merindingkan bulu kuduk dan menggelapkan mata.

“Terima kasih, Kang. Kapan-kapan saya ke sini lagi.” Suaranya halus. Membuat kami cukup membalas hanya dengan anggukan kepala dan sedikit sunggingan senyum di bibir.

Tahu-tahu, gadis itu hilang seperti tertelan terangnya siang. Kami saling berpandangan. Dalam hatiku, ini jelas bukan biasa-biasanya seorang gadis.

“Aneh!” suaraku bergetar. Setelah ini tidak ada lagi pembicaraan.

**

Semenjak kehadiran gadis penjual bakpia kemarin, aku sering bermimpi bertemu dengannya. Dalam semalam, ia datang di dalam mimpiku lebih dari lima kali. Anehnya, dengan warna baju yang berbeda-beda. Salah satunya memakai berwarna ungu.

“Kang Paimin.” Panggilnya lirih.

“Dari mana kau tahu namaku?”

“Itu tidak penting dicari tahu. Aku cuma ingin tanya, kenapa kamu begitu pendiam?”

“Menurut istriku, justru aku sangat cerewet.” Kau tak akan kuberi tahu kalau istriku telah tiada. Sebab tidak terlalu penting adanya. Kau tak kuberitahu selingkuhanku. Sebab itu bukan hakmu untuk tahu.

“Tidak, Kang. Kamu sungguh-sungguh pendiam. Bagaimana caraku merayu kalau kamu seperti itu?”

“Kamu siapa dan datang dari mana?” tiba-tiba saja mulutku balik bertanya. Tapi, bukankah bertanya termasuk cara memperoleh pengetahuan?

“Panggil saja aku Pia, atau Mbak Pia.” Katanya sembari memalingkan wajah. Sorot matanya lurus ke arah senja. “Aku datang dari Negeri Senja. Datang dengan tanpa apa-apa kecuali kesedihan. Aku lahir dari rahim kehampaan. Dibesarkan sepi dibimbing kekosongan.”

Aku terkejut dan tak berselang lama jadi terharu. Gadis ini sungguh puitis kata-katanya. Atau mungkin saja dia belajar dari Sapardi? Kalau seperti ini aku jadi teringat kisah Elisa si gadis pendiam. Elisa yang malang menunggu kekasihnya tak datang-datang. Duduk di balik jendela sambil memandangi senja lama-lama. Sambil merangkai kata-kata penantian.

“Kang,” panggilnya lagi. Aku mengerlingkan mata. “Maukah kamu menemani aku kembali pulang?”

Sebenarnya—jujur di dalam hati—aku ingin sekali. Daripada hidup menduda sendirian di rumah. Sekaligus dalam lilitan kemiskinan. Belum lama aku berpikir, tiba-tiba tangan lembutnya menggandengku. Selendangnya ia rentangkan. Selendang ungu yang wangi itu seperti sayap. Terbang. Ia membawaku. Ia membawaku.

Dan… tentu saja itu tidak terjadi. Karena hanya dalam dunia mimpi.

**

Pada suatu hari yang biasa. Ketika siang dengan mataharinya yang terik. Kami berkumpul kembali di gubuk setelah kepanasan kerja di sawah. Usut punya usut, ternyata kami bermimpi yang sama, atau paling tidak hampir sama. Janggal.

“Aku sudah berlatih bicara. Nanti kalau Mbak Pia datang, biar aku yang berbincang-bincang.” Kata Muntar yang paling miskin di antara kami berapi-api. Seperti tidak menyadari kemiskinannya. Yang lain terdiam. Barangkali saja tengah merindukan, menantikan gadis itu.

Matahari kian membara di atas sana. Aku tak habis pikir, kenapa ada seorang gadis yang nekat melewati gang kecil menuju persawahan. Gubuk ini pun nampaknya sudah tidak seperti tempat yang bisa ditinggali. Dari kejauhan tampak atapnya yang terbuat dari jerami itu seperti tumpukan jerami saja yang hendak dijadikan pupuk. Darimana ia tahu kalau di sini ada orang-orang yang sering beristirahat?

“Mbak Pia…” pekikku. Kali ini mulai bisa bicara pada situasi seperti ini. Ia datang tanpa keranjang, tapi di lehernya terkalung selendang. Senyumnya dari kejauhan sudah menggetarkan. Aku curiga itu bukan senyum biasa. Melainkan senyum yang menyimpan duka lara yang amat menggetirkan.

Keranjangku dirampok,  aku ingin kembali ke kahyangan.”

Kami ternganga. Ia gadis benar-benar dari kahyangan. Dan aku menyadari mimpi tadi malam adalah kenyataan di dalam tidur.

“Kang Paimin, ayo temani aku kembali.” Aku salah tingkah. Kemudian terkejut memandangi semua teman-temanku tertidur pulas. Aku harus bersikap bagaimana.

“Kenapa aku? Kenapa harus aku?”

“Karena kau orang paling setia.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Itu tidak penting.”

Lagi-lagi ia bicara seperti itu. Lalu dengan cepat kemudian menggenggam tanganku. Ia kibarkan selendang warna ungu. Aku ikut terbang. Aku ikut terbang bersama gadis ayu. Kupandangi wajahnya, sungguh eksotis. Lama-lama sakit di leherku memandangi terus wajahnya.

**

“Min, Paimin.”

“Min, Paimin.” Panggil mereka berkali-kali. Tak ada jawaban.

“Innalillahi wainna ilai raaji’un.” Pekik salah satunya.

Tentu aku tak bisa membalas apa-apa. Aku memandangi leherku tergantung selendang ungu yang ditalikan pada penyangga gubuk itu. Mataku berkaca-kaca membaca surat dari gadis kahyangan itu: orang munafik dan mata keranjang sepertimu, patut mati di tiang gantungan.

Gadis dari kahyangan. Ia tersenyum sambil berjanji akan terus bergentayangan.

 

Jogja, 28 Februari 2015

*Cerpen ini pernah dimuat di koran Minggu Pagi, 6 Maret 2015

Daruz Armedian, cerpenis muda asal Tuban, Banyak karya telah dipublikasikan di media cetak maupun elektronik.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here