Apa Kini, Tanah Itu Telah Menjadi Batu?

0
Ilustrasi gambar diambil dari intanmunawaroh.blogspot.com

tubanjogja.orgTanah itu telah menjadi batu

Tanah itu telah menjadi batu
Ilustrasi gambar diambil dari intanmunawaroh.blogspot.com

Oleh, Lev Widodo

Tanah itu telah menjadi batu

Adam, bapa kita itu, pada asalnya hanya tanah. Bukan tanah yang mulia, tapi tanah lumpur legam yang tak berharga. Dan kita tahu kelanjutan ceritanya. Tuhan membentuk tanah itu sedemikian sempurna jadi jasad manusia. Beliau lantas meniupkan ruh-Nya, ya, ruh-Nya sendiri, ke dalam jasad tersebut. Adam pun hidup, jadi sebaik-baik ciptaan.

Maka, jadilah Adam bayang-bayang Ilahi. Martabatnya naik tinggi sekali. Sebegitu tinggi, sampai-sampai Tuhan menyuruh jamaah malaikat bersujud kepada Adam. Malaikat pun bersujud. Sebab, mereka menyaksikan, meski dicipta dari tanah, Adam tak lagi sekadar tanah. Dalam Adam, bersemayam ruh Ilahi, sukma kawekas.

Ironisnya, karena anugerah spiritual itu, Adam tergelincir jatuh ke dalam jurang kelupaan. Ia merasa mampu merengkuh kesempurnaan hakiki yang kekal abadi, suatu kerajaan yang tak aus dimakan waktu. Keakuannya bangkit. Keangkuhannya membusungkan dada. Dalam kondisi lupa, ia pun memakan buah keabadian. Ini menandakan, Adam berhasrat membandingi dan menyaingi Tuhan. Padahal, Tuhan, yang tak mungkin tersaingi, maha suci dari perbandingan.

Menelan buah tindakannya, Adam, bersama istrinya, diturunkan ke bumi. Bumi adalah hamparan tanah, bahan penciptaan Adam. Adam rupanya disuruh mengingat kembali kerendahan jati dirinya. Ia diperintah bersujud. Saat sujud, kepala, lambang kemuliaan manusia, bertemu dengan tanah, lambang kehinaan. Anggota tubuh manusia paling atas adalah kepala. Kakinya, anggota tubuh paling bawah, berjalan menginjak tanah. Betapa rendahnya tanah bagi manusia.

— Tanah itu telah menjadi batu —

Saat sujud, manusia seharusnya merasakan paradoks hakikat kediriannya. Ia adalah tanah yang hina tetapi sekaligus bayang-bayang Ilahi yang mulia. Untuk menjalankan tugas langit sebagai bayang-bayang Ilahi, ia harus insyaf: aku tak lebih dari sekadar tanah. Tanah lumpur legam yang martabatnya diangkat naik. Sebagai tanah, ia hanya memiliki kehinaan dan kerendahan. Maka, tak sepantasnya manusia menunjuk diri sebagai aku. Keangkuhan bukan miliknya. Kalau ia merebut keakuan dan keangkuhan dari tangan Ilahi, terdamparlah ia dalam padang kegelapan. Di sana, tak ada secercah pun cahaya.

Karena itu, sebagai ungkapan taubat dari dosa kelupaan, keakuan, dan keangkuhannya, kepada Tuhan Adam bermohon: Duhai Tuhan kami, kami memang telah menenggelamkan diri dalam lautan kegelapan; sekiranya Engkau tiada mengampuni dan mencintai kami, pastilah kami mengalami kerugian. Adakah kerugian yang lebih besar daripada tenggelam dalam lautan keakuan, lalai dari mengingat ketinggian Ilahi? Adakah yang lebih tak beruntung daripada manusia yang berlaku syirik? Sebab itu, dalam doanya, Adam tak ber-aku, tapi ber-kami. Ia telah membunuh ke-aku-annya, mati sakjroning urip.

Doa itu menunjukkan, Adam telah insyaf akan kerendahannya sebagai tanah. Tuhan pun kemudian mengangkat martabatnya sebagai bapa umat manusia. Gunung, lautan, malam, siang, matahari, bulan, bintang, binatang, tumbuhan, dan makhluk alam semesta lain, semuanya ditundukkan di bawah kaki manusia. Selama ingat akan kerendahan jati dirinya, manusia jadi penata jagat raya. Fungsi kekhalifahan manusia yang sekadar hamba ini, dalam kebudayaan Jawa, tersimbolkan dalam gelar raja: hamengkubawana, pakubawana, pakualam, mangkunegara, juga terangkum dalam ajaran manunggaling kawula-gusti.

— Tanah itu telah menjadi batu —

Simbol lain: sitihinggil, tanah yang ditinggikan di sebelah dalam pegelaran keraton, di belakang alun-alun utara, tempat sang raja menghadap kepada rakyatnya dalam majelis terbuka. Raja adalah sitihinggil itu. Raja adalah manusia, anak Adam yang sebermula sekadar tanah, yang kemudian ditinggikan martabatnya oleh Tuhan.

Raja tak memiliki martabat apa pun. Hak raja, di hadapan Ilahi, hanyalah kerendahan dan kehinaan. Tidak selayaknya seorang raja mengenakan baju keangkuhan dan mahkota keagungan. Jika nekad merampas baju dan mahkota itu dari Tuhan, ia terdampar dalam kegelapan, dalam kezaliman, sebagaimana yang pernah dialami Adam. Itulah pula yang dialami Firaun. Setelah meng-aku sebagai Tuhan, ia pun terombang-ambing dalam lautan kegelapan. Firaun akhirnya mati di lautan tersebut, terpisah jauh dari daratan tanah kerendahan yang merupakan jati dirinya.

Kematian Firaun di lautan adalah amsal. Manusia tak mampu membandingi Tuhan. Lautan adalah hamparan air. Singgasana tempat Ilahi bersemayam, berada di atas air. Ketika, dalam rangka menyaingi Tuhan, Firaun mencoba menaikkan martabat setinggi langit, ia sedang mengerahkan daya untuk membangun singgasana tandingan di atas air. Mustahil. Manusia hanya tanah yang apabila dilemparkan ke laut, pasti tertelan olehnya. Tak mungkin sekepal tanah tak meleleh, lumat, dan sirna terhirup laut. Dan Firaun, tanah itu, meleleh, lumat, dan mati dalam perut lautan.

— Tanah itu telah menjadi batu —

Agar keturunan Adam yang lain tak mengulangi kelalaian nenek moyangnya, juga kelalaian Firaun, diutuslah nabi dan rasul. Mereka datang untuk mengajak manusia ingat akan kerendahan jati dirinya sebagai sekadar tanah. Mereka membimbing umat masuk ke dalam kesadaran sujud.

Ajaran mereka pada intinya hanya satu: tauhid. Allah berfirman, sesungguhnya Aku (adalah) Aku (yaitu) Allah; tiada Tuhan kecuali Aku, maka berhambalah kepada-Ku. Tuhan adalah Sang Aku. Di hadapannya, manusia hanya hamba, yang tak patut menunjuk dan menyebut diri sebagai aku. Semestinya manusia menjadi hamba yang sirna, lebur, dan luluh dalam ke-Aku-an Ilahi, seperti setetes air yang sirna, lebur, dan luluh dalam samudera raya. Hamba tidak ada. Yang ada Tuhan semata.

Jika berada dalam kesadaran sujud, hamba tersebut ditinggikan, siti hininggil, sebagaimana Adam tanah ditinggikan ketika ruh Ilahi merasuk ke dalam jasadnya. Itulah momen manakala manusia mengenal paradoks kediriannya. Manusia adalah buah perkawinan tanah dan ruh, perpaduan kerendahan dan ketinggian, persenyawaan hamba dan khalifah.

Untuk mengingat fitrah paradoksalnya ini, manusia tak boleh melupakan tanah, melupakan bumi. Bila ini terjadi, manusia sesungguhnya sedang melupakan kemanusiaannya. Diam-diam ia sedang membandingi, menyaingi, menjadi Tuhan. Diam-diam ia sedang ber-aku.

Karena itu, leluhur Jawa mengajarkan, bapa langit biyung bumi. Manusia adalah “anak” yang bapanya adalah langit dan bundanya adalah tanah. Ini bermakna, manusia hakikatnya tanah yang dirasuki ruh langit. Karena ruh itu, jadilah tanah hidup. Bahkan, jadilah tanah menumbuhkan pohon kehidupan.

— Tanah itu telah menjadi batu —

Al-Quran mengibaratkan peristiwa kudus tersebut sebagai air hujan yang menetes dari langit. Kemudian, setelah menyerap air itu, tanah, bumi, menumbuhkan kehidupan. Dalam wayang kulit, air kudus kehidupan ini disebut tirta prawita sari, harta karun spiritual yang dicari Bima hingga ke dasar lautan, hidayah sejati yang mempertemukan panengah Pandawa itu dengan hakikat dirinya: Dewaruci, sang ruh idhafi, sang sukma kawekas.

Jadi, apakah makna semua ini? Adalah bodoh kalau manusia melupakan tanah, apalagi memperkosa bumi, bundanya sendiri. Bila mengeksploitasi bumi secara melampui batas, manusia sesungguhnya tengah lupa akan jati dirinya. Ia durhaka kepada ibunya. Keakuannya berada di puncak. Ia tenggelam dalam lautan kegelapan. Manusia gagal jadi hamba, tak lagi jadi khalifah.

Aduh celaka, kiranya itulah yang terjadi saat ini: kita melupakan tanah. Perhatikan saja, kota tumbuh dan berkembang dengan menyembunyikan tanah. Barangkali alam bawah sadar kita berpendapat, betapa malunya kalau publik tahu bahwa “aku” sejatinya tanah yang rendah dan hina. Agar tampak tinggi dan mulia di mata publik, aku perlu menyembunyikan tanah.

Maka di kota, tanah pun dilapisi dengan konblok, aspal, beton. Lantai bangunan berlapis semen dan marmer. Bahkan, lantai rumah ibadah pun, masjid misalnya, juga dilapisi dengan ubin, kemudian ditindih lagi dengan karpet. Orang kota tak lagi akrab dengan tanah. Di kota, kita jarang menyaksikan, apalagi mengalami, tanah.

Seperti Malin Kundang yang merantau sehingga jauh dari bundanya, begitulah kita: merantau jauh ke padang gelap keakuan sehingga begitu berjarak dari tanah. Atau, jangan-jangan bencana yang menimpa kita lebih gawat lagi: kita sedang dikutuk tanah, seperti halnya Malin Kundang yang pada akhirnya dikutuk bundanya karena durhaka. Kita tak lagi mau kenal dengan tanah, bunda kita sendiri. Akibatnya, kita pun tak kenal dengan jati diri kemanusiaan kita yang paradoksal, hamba sekaligus khalifah.

Di mana pun, kapan pun, dalam kondisi bagaimana pun, kita rupanya melafalkan aku, aku, aku. Maka, agama, moral, dan kebudayaan, menjadi nirfungsi, bahkan malaguna. Ayah memperkosa anak kandungnya. Ibu membunuh bayinya. Anak menghardik orang tua. Siswa merendahkan guru. Para pemimpin berlomba mengejar dunia. Kiai mencabuli santriwatinya. Para ulama bersaing menjual agama. Ilmu tak meresap ke dalam lubuk dada, tersangkut di kepala, bahkan hanya menempel di ujung lidah. Ilmu, sastra, al-Qur’an tak lagi membumi, sudah diangkat ke langit. Pasar ilang kumandange. Kali ilang kedunge. Wong lanang ilang perbawane. Wong wadhon ilang wirange.

Serempak dengan degradasi kebudayaan itu, alam pun mengamuk. Tsunami. Gempa bumi. Gunung meletus. Banjir bandang. Suhu tinggi. Inilah zaman gara-gara, yang oleh pujangga Ronggawarsita disebut zaman kalabendu, zaman edan, zaman ketika manusia melupakan tanah. Pada zaman ini, kita tak lagi bercakap dengan bahasa kebundaan. Aksara feminin telah ditinggalkan. Kita sudah puas, malah merasa bangga, dengan bahasa ke-bapa-an. Ya, ternyata kita adalah Malin Kundang yang dikutuk Sang Bunda jadi batu. Ya, kita telah menjelma batu, bukan lagi tanah. Adakah batu punya hati, kandil yang memancarkan cahaya Ilahi?

Baca juga: Swadidik Metode Cermin; Belajar dari Kebijaksanaan Yesus

— Tanah itu telah menjadi batu —

Bumi Mataram, 21 Syakban 1437 H

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here