Tuban Jogja – Pancasila-Is?

0
Tuban Jogja - Pancasila-Is?
Gambar dari: ginan rizki p

Tuban Jogja – “Saya Indonesia, saya pancasila” quote yang baru-baru ini sedang ngetren. Tak tahu siapa yang pertama kali menggagas atau bahkan melontarkan kalimat tersebut. Namun, kalimat pendek yang terdiri dari empat suku kata itu seakan mengisyaratkan sebuah bentuk dari suatu hal yang disebut “iman” (hampir mirip dua kalimat syahadat ya?). Seolah menunjukkan bahwa kata “saya” dalam kalimat tersebut sebagai “subjek” yang dengan sadar telah mengakui keberadaan dirinya sebagai bagian dari bangsa “Indonesia” yang dalam susunan kalimat dianggap sebagai “keteranganya”. Kata “aku” dalam kalimat tersebut juga sekaligus mengungkapkan pernyataan bahwa sebagai bangsa Indonesia dirinya juga “pancasila”, entah sebagai objek, predikat atau keterangan. Yang pasti, kalimat “Pancasila” di situ masih terkesan tidak jelas (ambigu) dan perlu dipertanyakan kedudukannya.

“Iman” yang dalam pengertiannya adalah sebagai representasi dari “kepercayaan” yang kemudian dari percaya itu akan timbul rasa “yakin” dan selanjutnya dari keyakinan itu akan bermuara pada apa yang disebut dengan sikap “kepatuhan”. Sesuai pengertian iman pada umumnya, maka iman pada Pancasila pun harus menyangkut tiga hal tersebut yakni; membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, juga hendaknya dapat diimplementasikan (diamalkan) lewat tindaktanduk kehidupan sehari-hari dalam berbangsa dan bernegara. Bukan hanya sekedar iman yang hanya cukup disematkan melalui status BBM, diucapkan melalui pengeras suara, dan dipraktekkan melalui uploud-an foto diri yang bersanding apik dengan lambang garuda bertuliskan “Saya Indonesia, saya Pancasila” (yang lagi ngetren). Karena seyogyanya Pacasila bukan hanya untuk dipajang gambarnya di antara foto presiden-wakil presiden, atau dibaca teksnya saja saat upacara bendera, bukan pula untuk sekedar di peringati kelahirannya setiap tanggal 1 Juni, ataupun diciumi logonya saat memenangkan suatu olimpiade.

Sejatinya, pancasila ada untuk dijadikan Idiologi serta pandangan hidup bangsa Indonesia yang harus senantiasa dapat diaplikasikan lewat sifat, diterapkan lewat pemikiran, serta dipraktekan dalam bentuk tindakan yang seluruhnya dijiwai oleh sila-sila yang termaktub dalam pancasila. Sehingga tidak ada lagi perpecahan ras, suku, budaya maupun agama. Karena manusia yang tergogolong pancasilais adalah sosok manusia yang toleran, adil dan beradab, pluralis, demokratis serta tak pandang bulu (Sebuah ciri-ciri dari spesies manusia Indonesia yang hampir punah). Mari sama-sama merenungkan tentang hal ini!

baca juga tulisan Tuban Jogja – mengenai berita.

Lihat saja orang-orang yang dikategorikan pluralis seperti Quraish Shihab, Franz Magnis Suseno, KH. Ahmad Mustofa Bisri, J.B Banawiratma, M.H Ainun Najib, Iones Rakhmat, yang tergolong limited edition. Sedangkan tokoh-tokoh seperti Romo Mangunwijaya, Ni Wayan Gedong, Frans Seda, Nurcholish madjid, Abdurrahman Wahid, Abdul Mukti Ali, Ahmad wahib, Harun Nasution, Eka Dharmaputera, Th. Sumartana, Victor Immanuel Tanja, yang tak mungkin hidup kembali.

Namun, tak usah khawatit. Dan marilah menghela nafas kelegaan. Karena masih banyak  figur-figur pejuang pluralis bin pancasilais yang bermunculan seperti; Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Surya Paloh, Hary Tanoesoedibijo, Joko Widodo, dan Ali Masykur Musa, versi Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) pada 30/12/2012. Bahkan pada awal tahun 2016 kemarin, publik sempat dibuat gempar (ntah senang atau miris!) oleh adanya berita pengangkatan Zaskia Gotik sebagai Duta pancasila, (Kompas.com 2016/04/07). Semoga semuanya amanah!

Dan jika dengan keberadaan orang-orang seperti mereka bangsa Indonesia masih saja terjangkit penyakit Intoleran, di diagnosa curang dan kurang ajar, mengidap anti keberagaman, tertular otoriterian,  serta terinfeksi virus pilih kasih, yang mengindikasikan perpecahan. Maka, siapapun yang telah menjalankan rukun pancasilais yang pertama haruslah dapat mengamalkan rukun-rukun berikutnya. Tidak hanya sebatas percaya serta berhenti dalam tataran yakin, namun juga harus adanya pembuktian serta implementasi secara nyata yang berkesinambungan.

Harapannya apabila persoalan “iman” tersebut terealisasi. Maka, seperempat milyar lebih penduduk Indonesia pastilah akan berbahagia, 1340 suku dapatlah hidup secara rukun, serta 35 propinsi yang berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini akan menjadi lebih sejahtera.

Tuban Jogja – “Saya Indonesia, Saya Pancasila” – Oleh : Abad

Baca juga Tulisan TubanJogja : Menakar Kebangkitan Orda Pasca Reformasi 1998

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here