Surat kepada Bapak yang Tengah di Penjara

1
Ilustrasi diambil dari deskamtoro.b;ogspot.co.id

tubanjogja.org – Bapak,

Bapak,
Ilustrasi diambil dari deskamtoro.b;ogspot.co.id

           Oleh: Daruz Armedian

Rabu, jam 7 malam.

Bapak, hari ini aku juara kelas. Mengalahkan tigapuluh murid-murid yang lain. Sebagaimana yang bapak mau, aku harus menjadi anak yang pintar agar tidak seperti bapak. Agar tidak mudah dibohongi orang lain. Agar tidak menjadi orang jahat seperti bapak.

Kabar tentang juara kelas ini aku terima dari Bu Rahmi. Guru kesayanganku. Katanya, besok aku harus datang ke sekolahan memakai seragam. Tidak seperti anak-anak lain yang tidak usah memakai seragam. Sebab, kata Bu Rahmi, aku akan dipanggil ke depan panggung, diberi hadiah dan difoto-foto.

Aku senang sekali. Karena baru kali ini aku dapat juara. Dulu, sewaktu masih di taman kanak-kanak, nol kecil sampai nol besar, aku adalah anak yang nakal. Aku suka berantem berebut mainan dengan anak-anak yang lain. Aku tidak suka kalau diajari menyanyi, menggambar, dan senam pagi.

Mungkin waktu itu aku iri karena tidak bisa jajan sendiri. Mungkin aku iri karena anak-anak yang lain selalu didampingi orangtuanya kalau berangkat sekolah dan bahkan didampingi di dalam kelas. Aku jadi anak yang suka membenci orang lain. Termasuk pada guru-guru. Akhirnya, aku tidak bisa dapat juara. Jangankan juara, masuk sepuluh besar saja untung. Nilaiku terendah di antara yang paling rendah.

Di situlah, bapak memarahiku. Kata bapak, aku telah menyakiti hati bapak yang sudah bersusah payah bekerja untuk membiayai sekolahku. Bapak malah pernah menyabetku dengan gagang sapu di kakiku. Aku ingat, waktu itu bapak dipanggil ke kantor guru karena aku berantem dengan teman sebangku yang kaya sekaligus sombong dan dia harus dibawa ke rumah sakit.

Tetapi hari ini berbeda, Bapak. Aku sudah menjadi anak yang rajin belajar. Karena di kelas satu Madrasah ini tidak ada pelajaran menyanyi dan menggambar. Aku suka pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ipa. Itulah yang membuatku rajin belajar, disamping bapak yang menyuruhku belajar tiap malam.

Aku senang sekali. Karena aku bisa membuat teman-temanku tidak meremehkan aku lagi sebab menjadi anak miskin. Mungkin saja mereka akan iri melihatku di panggung paling tinggi. Difoto-foto dan dimasukkan ke album anak-anak berprestasi.

Bapak harusnya datang. Sehingga melihatku menerima hadiah di atas panggung. Lalu bapak juga akan ikut difoto-foto bersamaku. *

Kamis, jam 1 siang.

 Bapak, aku benci. Aku benci. Tadi saat di atas panggung dan menerima hadiah, orang-orang bertepuk tangan. Bangga dengan aku. Tapi bapak tidak datang. Kenapa bapak sangat jahat? Kenapa bapak memilih menjadi orang jahat? Sehingga saat aku yang seharusnya berdiri dengan bapak di atas panggung, bapak malah mendekam di penjara.

Aku menangis saat orang-orang berbisik-bisik, “Kasian anak itu. Harusnya bapaknya datang, tapi malah dipenjara. Huh. Keterlaluan bapaknya.” Emak memang datang. Tapi emak sama sekali tidak mau ikut naik panggung. Emak hanya duduk di tempat paling belakang. Katanya malu memakai baju yang jelek. Pada saat di panggung, aku lihat dari kejauhan, mata emak tampak basah. Emak juga menangis.

Di panggung, aku ikut menangis. Suasana jadi hening. Padahal semula banyak sekali tepuk tangan yang memenuhi ruangan. Dan sewaktu turun dari panggung, salah satu anak sekelasku berbisik. “Dasar anaknya penjudi. Anaknya tukang judi.” Kemudian diikuti teman-teman yang lain. Bapak, mereka benar. Tapi kenapa aku marah?**

Dua hari setelah kejadian itu.

Sekarang aku menjadi penyendiri. Semua teman-temanku tahu kalau aku adalah anak seorang yang suka bermain judi yang sekarang tengah dipenjara. Aku malu. Aku benci. Aku malas berangkat sekolah. Malas bermain ke luar rumah. Akibatnya hanya di dalam kamar. Tidur dan setelah itu tak ada yang bisa kulakukan. Aku membaca buku, tapi semua buku rasa-rasanya sudah pernah kubaca. Aku menulis cerita, tetapi baru satu paragraf sudah mandek dan kertasnya aku lipat-lipat jadi kapal-kapalan. Aku tidak pernah bisa menyelesaikan cerita. Aku menangis. Aku merasa menjadi anak paling menderita di dunia.

Aku mau pergi dari rumah. Tapi kasihan emak. Ia sendirian nanti di sini. Aku juga tidak tahu kalau setelah pergi terus mau apalagi. Bapak, aku tetap di rumah. Aku membayangkan bapak cepat-cepat pulang. Sebab tadi, sepulang dari menengok bapak bersama emak di dalam penjara seperti ayam dalam kurungan. Bapak tidak bisa ke mana-mana. Wajah bapak pucat. Tubuh bapak jadi kurus. Sampai-sampai aku tak tahu lagi mau bilang apa ke bapak. Soalnya bapak menangis, maka aku dan emak juga ikut menangis.

Aku sangat sangat sangat sangat sangat berharap bapak pulang. Kemudian seperti kata Bu Rahmi, bapak bertaubat. Tidak main judi lagi. Aamiin. Bapak, cepat pulang ya.

##

Kini, di perantauan ini, hendak apa aku tak mengerti. Sebab, malam menjelma ruang paling sunyi. Dan ketika kubaca kisah ini, ada yang tiba-tiba mengaliri pipi. Ingatanku ke mana-mana. Berterbangan melampaui kecepatan cahaya. Dan di situlah akhirnya, di rumah tua, di sebuah desa, pada seseorang, ingatanku berdiam. Berdiam lama.

Bapak.

Seseorang yang aku sangat merasa bersalah ketika mengingatnya.

Aku jadi ingat ketika air matanya tumpah mengiringi kepergianku untuk kuliah ke luar kota. Ia tidak setuju aku pergi jauh. Sebab ia dan emak sudah sama-sama tua. Tetapi akhirnya, orangtua memang selalu mengalah terhadap anaknya dan selalu ingin membuat anaknya bahagia. Betapa ia dengan susah payah mengantarkanku dengan becaknya ke sebuah terminal. Sungguh, kata-kata apalagi yang dapat kurangkai untuk menggambarkan betapa sangat harunya saat itu.

“Rus, kamu kapan pulang?” katanya siang tadi lewat telepon.

“Belum tahu ya pak. Soalnya ini mau ada ujian.” Jawabku. Kudengar suara sesenggukan. Tapi, kemudian telepon minta dimatikan.

Malam ini.

Tiba-tiba, aku ingin pulang. Aku ingin memeluknya lama, sebagaimana ia memelukku sewaktu aku hendak pergi merantau. Aku tak peduli ia mantan penjudi. Mantan orang jahat lebih baik ketimbang mantan pacar yang jadi jahat. Ah, maaf, lebih baik ketimbang mantan orang baik. Bapak, aku akan pulang sekarang!****

Baca juga: Suarat Kepada Ayah (Dari Sunan Kalijogo)

*cerpen ini pernah dimuat di  Radar Bojonegoro, 7 Februari 2016

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here