Cinta Yang Sederhana, Benci Yang Bersahaja

0
Ilustrasi gambar diambil dari informa2r.com

tubanjogja.orgCinta dan Benci

Cinta dan Benci
Ilustrasi gambar diambil dari informa2r.com

Oleh, Lev Widodo*

Dulu, ketika masih belajar di kampung halaman, guru kami mengajarkan aforisma Arab yang hingga sekarang masih kami kenang. Saat itu, ia menuliskan aforisma tersebut di papan tulis dengan goresan aksara yang jelas dan cukup indah.

Karena tertarik dengan kandungan maknanya, saya menyalin aforisma populer itu di buku catatan. Bunyinya, cintailah kekasihmu sekadarnya saja. Sebab, bisa jadi suatu hari dia akan menjadi musuhmu. Bencilah musuhmu sekadarnya saja. Sebab, bisa jadi suatu hari dia akan menjadi kekasihmu.

Bagi kami yang kala itu masih remaja, aforisma tersebut bukan saja bermakna, tapi juga menyentuh, bahkan menampar. Sebagai remaja, kami mengalami cinta monyet. Ketika jatuh cinta, kami melampiaskan ungkapan cinta kepada sang pacar secara berlebihan. Saking berlebihannya, sampai-sampai kami takut kalau-kalau si dia direbut lelaki lain. Apabila dia sedikit saja menaruh perhatian atau bergaul agak dekat dengan lelaki lain, kami terbakar cemburu.

Masalahnya, akibat cemburu buta, dia menjadi sasaran amarah kami. Jika kemarahan itu melampaui batas, kami memutus tali cinta secara sepihak. Setelah peristiwa tersebut, sepasang remaja yang pernah berpacaran, saling memusuhi. Mereka jarang bertukar tutur dan bertegur sapa. Bahkan, jika berpapasan di jalan, mereka saling memalingkan muka. Maka, aforisma Arab tersebut memperoleh bukti nyatanya: kekasih yang pernah dicintai secara berlebihan, sekarang menjadi musuh. Cinta berubah menjadi benci. Sayang berubah menjadi dendam.

Sebaliknya, musuh yang saat ini dibenci tanpa ampun, suatu hari mungkin akan menjadi kekasih. Ini tema klise dalam sinetron, film televisi, dan sinema bioskop kita yang mengincar anak muda sebagai segmen penonton. Drama Korea, Jepang, dan India kadang-kadang juga menggarap tema ini. Pada mulanya, layar menampilkan dua protagonis, jejaka dan gadis, yang tenggelam dalam permusuhan tanpa sebab. Di tengah cerita, karena peristiwa ini dan itu, mereka tiba-tiba berbaikan. Bertunaslah benih cinta. Pada akhirnya, mereka menjadi sepasang kekasih.

Baca juga: Cerita Tua tentang Tanda Ulama

— Cinta dan Benci —

Demikianlah makna yang dulu kami temukan dalam aforisma Arab tersebut. Demikian pula makna yang dipaparkan guru kami. Sebagai guru yang baik, ia tentu menjelaskan makna aforisma itu sesuai dengan level pengalaman dan penalaran kami yang masih remaja.

Adakah makna lain dalam aforisma tersebut? Sebagai bentuk karya sastra, pasti aforisma tersebut mengandung tidak hanya selapis arti. Dia menyimpan makna lain yang ternyata lebih mendalam. Aforisma tersebut tidak hanya berbicara tentang kelabilan, kerapuhan, dan kelamahan manusia. Dia sebenarnya juga membeberkan cara menyikapi kelabilan, kerapuhan, dan kelemahan itu secara arif. Tidak hanya mendeskripsikan kefanaan manusia, tapi juga menunjukkan jalan untuk menghayati kefanaan itu secara positif.

Jalan tersebut dalam agama Hindu disebut sebagai advaita, sedangkan dalam kebudayaan Jawa dikatakan sebagai roroning atunggil. Dalam wayang kulit, lambangnya adalah sesepuh panakawan: Semar. Siapa pun yang menempuh jalan tersebut dengan langkah tulus, secara psikologis bakal terbebas dari gilasan putaran roda waktu (cakramanggilan). Dalam bahasa agama Buddha, dia terbebas dari lingkaran kausal karma. Dalam bahasa mistisisme Islam, dia mencapai makrifat. Kefanaan tidak lagi mengganggu dan membelenggunya. Dia menjadi anak sang waktu yang mensyukuri saat ini sebagai anugerah langit, tidak cemas akan masa depan, dan tidak sedih karena masa lalu.

Walaupun diungkapkan dengan istilah yang relatif asing dan terdengar tinggi, penjelasan tentang jalan untuk menyikapi kefanaan sederhana saja. Al-Quran menyatakan bahwa ciptaan itu fana. Malam ada batasnya. Begitu pula siang. Malam pergi, siang datang. Begitu pula sebaliknya. Kebahagiaan dan kesedihan duniawi juga ada batasnya. Sekarang aku bahagia, entah kapan aku bersedih. Sekarang aku menangis, entah kapan aku tertawa.

Selanjutnya, al-Quran mengingatkan, malam dan siang bukan oposisi biner yang berhubungan secara kontradiktif mutlak. Al-Quran mengungkapkan hal ini dengan imaji yang indah: Tuhan menyelipkan malam ke dalam siang dan menyisipkan siang ke dalam malam. Siang adalah sinar atau cahaya. Malam adalah kegelapan. Ketika malam, ada cahaya: bintang, bulan, kunang-kunang. Ketika siang, ada gelap: bayang-bayang. Jadi, malam dan siang, gelap dan terang, bagaikan dua sisi sekeping koin logam. Keduanya adalah kesatuan bulat yang saling membutuhkan dan tak terpisahkan. Yang satu ada karena yang lain ada. Yang satu ada untuk yang lain.

Baca juga: Cinta, Erick Fromm dan Sosrokartono

— Cinta dan Benci —

Siang dan malam adalah analogi simbolis untuk berbagai hal: benar dan salah, baik dan buruk, indah dan jelek, tinggi dan rendah, besar dan kecil, atas dan bawah, bergerak dan diam, anak-anak dan tua, lelaki dan perempuan, kuat dan lemah, pintar dan bodoh, kaya dan miskin, saleh dan sesat, maju dan mundur, sukses dan gagal, anugerah dan bencana, pujian dan hinaan, berkah dan kutukan, suka dan duka, bahagia dan derita, tawa dan tangis, dan seterusnya.

Setiap unsur dalam pasangan-pasangan itu memang tampak kontradiktif. Tapi, dalam kehidupan nyata pasangan-pasangan itu bukan barisan oposisi biner. Tawa menyimpan tangis. Tangis pun mengandung tawa. Dalam maskulinitas, ada unsur feminitas. Sebaliknya pun demikian. Sukses adalah buah dari rangkaian kegagalan, sedangkan kegagalan—kata orang—adalah kesuksesan yang belum terwujud. Pintar adalah merasa bodoh, sedangkan bodoh adalah merasa pintar. Dari sudut pandang tertentu, anugerah adalah bencana. Sementara itu, dari sudut pandang yang lain, bencana merupakan anugerah. Derita adalah rahim kebahagiaan. Kebahagiaan saat ini menyiapkan dan mengundang penderitaan esok hari.

Begitulah kehidupan, roroning atunggil: dua unsur yang tampak bertolak belakang dalam setiap pasangan sebenarnya merupakan kesatuan yang bulat. Karena itu, dalam kehidupan ini kita tak bisa menerima salah satu unsur sembari membuang unsur lain. Kalau menerima tawa, kita pun harus menerima tangis. Kalau ingin sukses, kita harus siap gagal. Kalau mau pintar, kita harus bodoh dulu. Jatuh dalam kesalahan berkali-kali adalah konsekuensi dalam mencari kebenaran. Kebaikan yang diterapkan dalam konteks yang salah akan menjelma sebagai keburukan. Sesuatu menjadi indah jika dijejerkan dan dibandingkan dengan barang yang jelek. Sebab itulah, seharusnya keindahan berterima kasih kepada kejelekan.

Kesadaran akan roroning atunggil ini, yang dihayati secara sinambung oleh siapa saja yang telah menyaksikan kasunyatan Ilahi, disimbolkan sebagai Semar. Semar tertawa sekaligus menangis, berjalan tapi tampak duduk, sepuh tapi berkuncung seperti kanak-kanak, berwajah putih tapi berbadan hitam, lelaki tapi payudaranya sebesar payudara perempuan, dewa tetapi manusia, babu tapi dimuliakan majikannya.

Pesan dari simbolisme Semar sangat jelas: terimalah kehidupan secara apa adanya, secara lengkap dan utuh. Kesalahan diterima sebagaimana menerima kebenaran. Kejahatan didekap sebagaimana mendekap kebaikan. Kejelekan dihargai sebagaimana menghargai keindahan. Kegagalan disyukuri sebagaimana mensyukuri kesuksesan. Bencana disenyumi sebagaimana men-senyumi berkah. Derita disambut sebagaimana menyambut bahagia. Tenang saja, di dunia ini, baik hal negatif maupun positif hanya singgah sebentar. Mereka datang dan pergi. Tugas kita hanya mengalir, bukan mati-matian mengabadikan yang positif dan mati-matian pula menghapus yang negatif.

Inilah advaita, yang memungkinkan kita memetik hikmah dari setiap pengalaman dan fenomena. Mata hati kita terbuka sehingga kita akhirnya menemukan kesimpulan bahwa segala ciptaan di alam semesta, termasuk diri kita sendiri, adalah ayat-Nya semata. Ke arah mana pun seorang ulul albab menghadap, dia menyaksikan wajah-Nya. Dia senantiasa berdzikir. Ketika berdiri, berdzikir. Ketika duduk, berdzikir. Ketika baring, berdzikir. Kaum kejawen menamai kondisi batin ini sebagai manunggaling kawula-Gusti, puncak perjalanan dan pendakian spiritual.

Dia yang telah mengalami peristiwa manunggaling kawula-Gusti, tidak lagi terikat oleh kefanaan. Tidak lagi bersandar pada hal-hal yang fana. Walaupun jasadnya fana, ruhnya selalu bersama keabadian. Indikasinya, dia tidak mencintai kekasih duniawinya secara berlebihan. Dia tidak membenci musuh duniawinya secara berlebihan. Dia mengerti bahwa cinta dan benci, kekasih dan musuh, tidak terbebas dari kefanaan dan hukum cakramanggilingan. Cinta dan benci, kekasih dan musuh, baginya merupakan kesatuan yang manunggal, roroning atunggil. Karena itu, dia mencintai secara sederhana, membenci secara bersahaja. Tidak berlebihan. Tidak melewati batas. Sekadarnya saja. Sewajarnya saja. Seperlunya saja. Secukupnya saja. Adil.

Teorinya memang sederhana. Tapi percayalah, mengamalkan teori tersebut sungguh tidak sederhana. Sungguh tidak mudah. Manusia yang tercerahkan jumlahnya tidak pernah banyak. Kebanyakan manusia, tentu termasuk saya, mencintai kekasih secara berlebihan dan membenci musuh secara berlebihan pula. Apa Anda juga begitu?

Baca juga: Ada “Manusia” di Atap Masjid

— Cinta dan Benci —

Wisma Darussalam, 7 Sapar 1438 H

*Kontributor tetap tubanjogja.org

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here