Bukan Perempuan Baik-Baik

1
Ilustrasi diambil dari 3.bp.blogspot.com

tubanjogja.org – Perempuan

Bukan Perempuan Baik-Baik
Ilustrasi diambil dari 3.bp.blogspot.com

Oleh: Daruz Armedian*

Naelinnia tahu, ibunya bukanlah perempuan baik-baik. Sering malam-malam pada saat pura-pura tertidur, ia mendengar dengus satu-satu dalam kamar ibunya. Sekalipun seperti itu, tak sedikit pun keberaniannya menyeruak kemudian mengetuk pintu. Ia hanya menajamkan pendengaran. Berusaha menangkap suara-suara itu.

Naelinnia juga tahu, dalam seminggu, ibunya kurang lebih tiga kali bertemu dengan seorang lelaki. Menjamunya. Mengajak bicara. Dan selebihnya, melayani dalam kamar—yang tentunya bisa ditebak sedang apa. Pada umur ke sepuluh, ia sudah mengerti apa yang sedang dilakukan mereka. Kalau sudah seperti itu, biasanya Naelinnia hanya meneteskan air mata. Terisak yang ditahan-tahan. Berharap kehidupannya hanya sebuah mimpi belaka. Lalu akan hilang pada saat pagi menjelang.

Ia terus-terusan bersedih bila pada saat sekolah. Teman-temannya akan menggunjing. Mengolok-olok kalau dirinya anak orang tidak jelas. Dalam hal ini, bukan keseluruhan teman. Hanya berdasarkan sebagian. Bukankah di dunia ini masih banyak juga orang baik? Selain itu, ia juga bingung sendiri. Entah laki-laki mana yang menjadi bapaknya. Juga predikat anak haram, sudah tentu dilekatkan sejak dulu. Rasa-rasanya, terlalu buruk nasibnya menjadi tokoh cerita.

Itu baru ingatan tentang di sekolah. Belum lagi ingatan-ingatan lain yang membuat dirinya tergidik. Seperti contoh: pada saat pagi, ia jarang sekali menemukan kehidupan dalam diri ibunya. Karena selalu bangun siang selepas ia pulang dari sekolahan. Jadi, perihal sarapan pagi yang sudah terhidangkan di meja makan hanya sebuah impian. Terlebih sarapan roti diolesi selai dan susu dalam gelas seperti pada iklan di televisi malah lebih dari sekedar mimpi. Khayalan tinggi.

Contoh lain: pada saat ibunya marah-marah, tidak jarang—artinya sering—ia kena pukul. Gelas bekas tuangan bir dan botol yang juga bekas bir dilempar-lemparkan begitu saja ke lantai. Kemarahan ibunya itu sudah jelas sebab Naelinnia bertanya macam-macam. Kalau soal nakal, ia dibiarkan. Maka, menarik kesimpulan yang telah terjadi. Ia tidak pernah bertanya seperti itu lagi.

**

Malam ini, malam yang biasa. Menghadirkan rembulan di atas sana. Dari balik jendela seperti mengintip lewat celah-celah jendela. Naelinnia belum tidur. Ah, bukan. Bukan. Ia baru saja terbangun dari tidur gara-gara mendengar suara gaduh di kamar ruang tamu.

Suara gaduh itu tidak sepatutnya ditayangkan. Hanya saja, di sana terdapat juga bunyi gelas pecah. Kemudian tak berselang lama, tangis yang pecah. Naelinnia tahu semuanya. Ia tidak terpejam. Matanya merangsek ke luar jendela. Malam di luar sana sangat indah. Bulan yang baik memang selalu tahu kapan harus muncul. Malam di dalam kamar itu sangat buruk. Kesedihan yang mengerikan memang tak mengerti waktu datang dan pulang.

Naelinnia sadar. Ibunya tengah bertengkar. Di situ ia kadang merasa sedih. Kenapa jalan hidupnya tak pernah tenang. Tubuh yang terbaring, bagi dirinya sudah sedari tadi melayang-layang. Bimbang. Akankah ia harus melerai ataukah pergi untuk selamanya dari rumah ini. Bukankah semua orang memang sepatutnya mendapatkan hak untuk merasakan suasana damai?

Tapi, Naelinnia adalah Naelinnia. Gadis kecil yang tak mengerti arti sebuah perjalanan. Ya, pada akhirnya ia hanya menangis sesenggukan. Ia keluar kamar. Mereka selesai bertengkar. Seorang laki-laki yang sudah tidak asing lagi di matanya, tanpa suara apa-apa pergi begitu saja. Ibunya menangis sendiri. Darah mengalir dari keningnya. Naelinnia tak bertanya apa yang tengah terjadi. Sebab, pertanyaan seperti itu sudah basi.

“Bu, mudah-mudahan kau cepat mati.” Di luar dugaan. Sungguh di luar dugaan. Seorang penakut semacam Naelinnia berkata seperti itu terhadap ibu sendiri.

“Kau benar, Anakku. Mudah-mudahan saja.” Perempuan itu berkata terpatah-patah sambil membalas pelukan anaknya yang dingin. Sedingin malam ini. “Ibu sudah tahu kau akan bilang seperti itu. Kau tentu sudah terlalu muak dengan keadaan ini. Ma-af-kan i-bu.”

Naelinnia terharu. Bibir mungilnya merapal doa-doa. Matanya menerawang jauh di luar jendela. Sebuah tanya seperti menggantung di langit sana. Dan ia akan menjawab pertanyaan itu. Cita-citaku ingin membunuh lelaki itu, batinnya.

**

Naelinnia tahu, dirinya bukan lagi perempuan baik-baik. Dalam semalam, ia sanggup melayani lebih dari dua laki-laki. Sekalipun seperti itu, ia tak akan berhenti dari pekerjaannya. Biarkan yang terjadi tetap terjadi. Begitulah setiap kali ia ingin berhenti.

Malam ini, bukan malam yang seperti biasa. Bulan tampak pucat di atas sana. Dalam kepulan rokok, Naelinnia curiga. Kenapa selalu bulan yang diceritakan. Bukankah mengeksplorasi dirinya lebih penting? Ia hembuskan asap tebal itu. Secara tiba-tiba, entah kenapa, ia ingat ibunya.

Naelinnia jadi tahu setelah melakukan pekerjaan seperti ini. Ibunya bukan seperti apa yang ia duga. Sebagai perempuan nakal dan tidak penyayang terhadap anaknya. Sembari memandang foto ibunya yang dengan senyum menggendong dirinya dalam bingkai yang terletak di meja kecil samping kamar, Naelinnia meneteskan air mata.

Naelinnia pecahkan bingkai itu. Kaca-kaca berserakan. Ia menangis sesenggukan. Membuat lelaki setengah baya yang sudah kelelahan dan hampir tertidur itu terduduk di sampingnya.

“Kamu kenapa, Naelinnia?” tiga patah kata keluar dari mulut lelaki itu.

“Kalau saja aku punya ayah.” Ia berandai-andai. Tatapannya sayu ke arah laki-laki itu.

“Lalu?”

“Barangkali aku tak akan melakukan hal seperti ini.”

“Kau menyesal?”

Tak ada jawaban. Naelinnia mengerti, lelaki ini dulu yang terakhir kali dilayani ibunya. Kini beralih pada dirinya. Ia tidak menyesal. Hanya saja, berharap lelaki ini juga yang terakhir ia layani.

“Itu karena ibumu perempuan jalang.”

“Aku tahu. Tapi, lelaki yang membiarkan istrinya hidup sendiri itu lebih jalang.”

“Maksudmu?”

“Ibuku berbuat seperti itu karena lelakinya yang brengsek. Lelakinya selingkuh. Lelakinya sering menyakiti.” Naelinnia kesal. Ia tak peduli. Lelaki itu kini di dekatnya.

“Itu karena ibumu miskin.”

“Hanya karena itu?”

“Dan kau juga miskin. Jadi, salahkanlah nasib menjadi miskin itu. Atau, kau juga bisa menyalahkan kenapa negara ini tak peduli dengan kemiskinan. Sehingga membuat penduduknya nekat bekerja seperti ini.”

“Kau…”

“Sudah, cukup!”

Ada hening sejenak. Kemudian jadi lama. Lelaki itu lunglai di atas kasur. Lantas matanya terpejam dan terpekur. Apa semua lelaki seperti itu, pikir Naelinnia. Bayangannya kembali melayang. Sudah delapan tahun ibunya tiada. Sudah seumur hidup, ia menderita. Sudah semalaman ia menyembunyikan rencana.

Setelah ini, dendam itu bukan lagi seperti dosa. Dendam itu muncul lagi. Ia paham apa yang harus dilakukan. Serakan kaca ia genggam dengan amarah sambil memandang lalaki yang tak asing itu. Lalu…

 

Jogja, Maret 2015

Cerpen ini pernah dimuat di Bangka Pos, 30 Agustus 2015

*Daruz Armedia, Kelahiran Tuban sekarang aktif di sanggar sastra Kutub.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here