LOKAJAYA DAN KITA

2
LOKAJAYA DAN KITA

tubanjogja.orgBrandal Lokajaya

Oleh: Qifu Insekta

Lokajaya adalah tokoh historis yang legendaris di Bumi Tuban. Soal baik atau buruk bukan urusan tulisan ini (apalagi urusan Pemda), biar Tuhan saja yang mengurus. Yang pasti, kehadiran Lokajaya—atau lebih lengkap, Berandal Lokajaya—dalam sejarah Tuban tidak bisa diremehkan.

Kepopuleran itu terutama berkat Raden Said, putera sang Adipati Wilwatikta, yang ternyata adalah pemimpin terakhir gerombolan berandal itu sebelum ditumpas penguasa. Status pemimpin, tentu saja, didapat setelah Said menakhlukkan pemimpin sebelumnya.

Mulanya berandal Lokajaya ditakuti masyarakat. Maklum, sebagai gerombolan berandal, kerjaannya meresahkan masyarakat. Maklum juga, wong namanya juga berandal. Sering ada kabar tentang perampasan, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, dan banyak kejahatan lain, yang pelakunya adalah berandal Lokajaya. Dari situlah berandal Lokajaya mendapatkan eksistensinya.

Namun, ketersohoran berandal Lokajaya itu, di mata keraton (kadipaten), tetap bukan suatu ancaman yang berarti. Malah dengan berandalan itu, secara tidak langsung, pemerintah diuntungkan. Dengan masyarakat resah, pemerintah jadi punya alasan untuk menguasai, meminta upeti dari rakyat, dengan dalih perlindungan. Miriplah dengan pemerintah sekarang yang gembar-gembor membesar-besarkan berita soal ancaman warga, entah dari teroris, komunis, berita hoax, atau bahkan alien. Pokoknya warga harus merasa terancam, dan mereka tatap bisa menyandang status sebagai pahlawan pelindung warga.

Sebab itulah, berandal Lokajaya tak perlu dibasmi. Cukup tahu sama tahu wilayah masing-masing. Wilayah pemerintah di kota dan legal, sementara wilayah berandal di hutan dan kegelapan. Pemerintah memungut upeti, berandal merampok. Kalaupun ada koar-koar pembasmian berandal, yakinlah itu hanya pemanis bibir. Bukankah itu hubungan yang sesungguhnya harmonis?

Namun, adalah Raden Said, anak bengal yang memecah keharmonisan itu. Anak yang sejak kecil enggan tinggal di istana tapi malah memilih keluyuran bersama jelata. Ikut makan bersama, tidur bersama, juga sabung ayam bersama, sehingga mampu memahami penderitaan warga.

Karenanya, setelah menguasai gerombolan berandal itu, Said merubah orientasinya. Berkat pengalaman blusukan tiap hari dan karenanya mengerti betul situasi rakyat; wilayah operasi gerombolan berandal digeser. Dari sekedar merampoki masyarakat, jadi merampoki kalangan penguasa. Ia menyabotase jalur distribusi upeti, merampok gudang istana, dan seterusnya. Tentu saja gerakan itu bukan kejahatan biasa (dalam bahasa Tuban disebut extraordinary crime), sebab efek yang ditimbulkan mengguncang tatanan kekuasaan.

Ditambah lagi, ditengah warga yang mengalami kemelaratan, Lokajaya datang bak pahlawan gelap, yang diam-diam mendistribusikan hasil rampokan itu untuk mereka. Artinya, dari sekedar kriminal kroco yang dianggap penyakit masyarakat seperti maling ayam atau pencopet, oleh Raden Said orientasi kriminalitas Lokajaya diubah jadi gerakan politik. Lokajaya jadi gerombolan yang benar-benar mengencingi wibawa kekuasaan kadipaten.

Perubahan orientasi, dari “penyakit masyarakat” menjadi “gerakan politis” itulah yang membuat penguasa berang bukan kepalang. Kalau dulu berandal Lokajaya bisa jadi “mitra-gelap” penguasa, kini sebaliknya. Ia jadi musuh utama panguasa. Sehingga, pihak penguasa kemudian melakukan segala cara untuk membasmi gerakan berandal Lokajaya.

Masalahnya, gerombolan Lokajaya, setidaknya pemimpinnya, memakai topeng sehingga susah dikenali. Dan bukankah tanpa mengenali musuh orang tak akan pernah menang dalam perang? Sebab itulah, pihak kerajaan benar-benar mengerahkan segala daya dan upaya untuk menjerat, menjebak, menangkapnya. Berita hoax disebar untuk meruntuhkan citra Lokajaya yang nyaris dianggap “pahlawan-gelap” itu. Jebakan jebakan dipasang. Telik sandi ditebar. Prajurit siaga satu.

Ini tentu saja persis yang dilakukan penguasa saat ini. Jika kamu melakukan gerakan-gerakan politik yang hendak meruntuhkan kekuasaan, kamu akan dituduh makar, teroris, komunis, anarkis, provokator, pemecah-belah, agen asing, pengkhianat NKRI, dan sebagainya. Dalam konteks Tuban saat ini, jika suaramu sedikit saja menyinggung wibawa penguasa, misalnya menolak industrialisasi ekstraktif sebab merusak lingkungan, atau misalnya menyinggung bisnis transportasi dan batubara sang penguasa, siap-siap saja label-label diatas akan disematkan padamu, dan masyarakat yang kamu bela juga akan mengucilkanmu.

Raden Said sepertinya tahu akan konsekuensi itu. Setelah ia berhasil dijebak dan tertangkap, ia memang tidak dibunuh, sebab ia anak sang Adipati itu sendiri. Tapi ia diusir dari tanah Tuban, dengan citra yang sudah begitu buruk. Namun, dari situ setidaknya kita tahu, bahwa langkah yang dilakukan Raden Said itu, adalah suatu reaksi anak muda yang jengah terhadap kekuasaan yang menggilas kehidupan masyarakat. Sebagai pemuda, hatinya tergerak. Ia tidak pasif, cari aman, dan membiarkan kezaliman terjadi. Soal langkahnya kemudian ia koreksi sendiri, itu hal lain. Setidaknya ia sudah berproses dengan sebaik-baiknya.

Terakhir, ketika kezaliman menduduki kursi kekuasaan maka pemberontakan bukankah suatu kewajiban?

Blandongan 11 Februari 2017

2 KOMENTAR

  1. Iya sepakat mas, problem utamanya adalah kesadaran dan tragisnya kelompok yang menyebarkan pemikiran kritis justru dibonsai dan dituduh surversif.

  2. Yg paling miris memang masyarakat yg belum sadar bahwa mereka punya hak terhadap pemerintah yg mereka biayai. Ketidaksadaran ini yg menyebabkan masyarakat kadang malah menyerang orang yg memperjuangkan mereka alih-alih mendukungnya. Maka pertama pemuda harus memulihkan kesadaran mereka ttg hak mereka thd. pemerintah. Walaupun lama dan melelahkan saya rasa itulah yg upaya terbaik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here