Sajak-Sajak Daruz Armedian

1
Ilustrasi gambar diambil dari melida.files.wordpress.com

tubanjogja.org – Menyulut Api

Oleh: Daruz Armedian

Menyulut Api

terbakar aku, oleh api rindu, yang kusulut sendiri
aku tak pernah takut
bertahun-tahun menatap maut
seperti ingin kupeluk
seperti ingin kupagut

aku tak pernah setakut ini
api rindu akan membakar habis jiwaku
seperti ia membakar dahan-dahan
ranting-ranting dan dedaunan
menjadi abu

alangkah dungu diriku
waktu-waktu sedemikian jauh berlari
dan aku baru mengerti
rindu sekejam ini
dan aku baru mengerti
begitu lama diriMu tidak di sini

aku bertanya pada sebagian manusia
(sebagian manusia yang ikut menanggung kejam dunia
sebab Adam dan Hawa)
aku bertanya di mana diriMu
mereka begitu mudah menunjuk ke langit itu

ke sanalah aku tengadah
dan hanya menemukan bulan dan bintang-bintang berkilau
yang itu bukan Engkau

aku bertanya pada sebagian manusia
(sebagian manusia yang menyatu pada
yang mengadakan ketiadaan)
aku bertanya di mana diriMu
begitu mudah mereka menunjuk dadaku

aku menunduk
seperti padi-padi tua
dan di situ aku hanya menatap ruang hampa

Al, mungkin mataku buta
dadaku batu-batu
benda-benda tak berguna
dan tak pernah tahu cara menemukanMu

aku paham
Kita pernah bertemu
di suatu masa yang lebih panjang
dari sekadar masa silam
(mungkin di kandungan ibu
mungkin di ruang yang lain)

sebermula itu
aku menyulut api rindu
tetapi makin hari makin ia berkobar
ia menjalar
menguasai diriku
di luar keterbatasan dugaanku

kini aku takut jiwaku terbakar habis
dan aku senantiasa menangis
sebab menemukanMu aku belum tuntas
dengan jangkauan pikiran yang terbatas

2016

Aku Biarkan Kau Menjauh

aku biarkan kau menjauh
sampai ke arah yang tak mungkin kusentuh
dan jangan kau ingat
kita pernah dekat
kita pernah saling tatap lekat

kau aku hanya bayang-bayang
yang lahir dari ketiadaan
kalau kau pergi
sejatinya kau hendak kembali
pada ketiadaanmu

lalu aku bahagia
menertawakan keadaanku yang fana
menikmati kesia-siaan hidup
dengan jarum jam yang berjalan

dan hanya meninggalkan kenangan

lalu aku menangis
membayangkanmu rapuh dan jatuh
seusai kau jauh
dariku, dari kesepianku
kau menggumam:
inikah penyesalan?

sedang lelaki yang kau tinggalkan ini
masih setia bertanya
kenapa hujan tercipta dari lautan dan bukan air mata?

kenapa sungai hanya menuju pantai

dan bukan jalan yang tak kunjung selesai?
aku tak pernah bertanya kau ke mana
sebab rupanya aku tahu
kau terperosok ke jurang kenangan

semenyedihkan apa pun,

kenangan selalu terlihat anggun
dan kau merindukan masa itu
masa di mana pernah ada aku

tapi sayang, aku sudah lupa cara merindu masa lalu
aku kini pejalan tangguh
yang selalu melambaikan tangan
pada kenangan

selamat tinggal bagi yang mencoba pergi
langkahku adalah pintu
di mana aku masuk
aku tak butuh kembali

maka menangislah sesukamu
air mata hanya Si Bisu
yang tak sanggup bertanya kenapa
kenapa kau merana
air mata hanya Si Buntung
yang tak mampu menarik pundakku

dengan tangan-tangannya

2016

*Puisi-puisi ini pernah disiarkan di Koran Merapi, 20 Januari 2017

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here