Bapak Dosen dan Bapak Ahli Tata Parkir

0
Ilustrasi dicangkok dari http://chillinaris.blogspot.co.id

tubanjogja.org – Bapak Dosen dan Bapak Ahli Parkir

Dosen
Ilustrasi dicangkok dari http://chillinaris.blogspot.co.id

Pada banyak kesempatan, saya sering mendapat teguran dari teman-teman menyangkut penggunaan kata panggilan orang. Ada yang secara langsung bilang di hadapanku, “kamu ndak sopan!” Ada juga yang lebih melek IT memanfaatkan gawainya dengan mengirim chat lewat WA, “Hoi, apa maksudmu di grup tadi dengan memanggil BELIAU begitu?” Bahkan ada yang sampai membawa Tuhan. Dia berkata, “Kamu itu belajar di Ushuluddin, tapi akhlakmu begitu. Apa kamu lupa dalam al-Quran ulama adalah warisan para Nabi? Dosen itu ulama!” Untuk yang paling akhir ini, saya tercengang! Sejak kapan dosen jadi ulama?

Kemudian dalam cerita berbeda. Di luar perkiraanku, saat saya secara ceplas-ceplos membicarakan kesabaran salah satu tukang parkir (perkiraan umurnya 40an) sebuah kafe Jogja di hadapan mereka dengan “panggilan” yang sama, tidak ada satupun yang menegur. Malahan, mereka ikut menggunakannya.

Saya terheran-heran. Mengapa saat saya menyebut sebuah dosen dengan namanya langsung (Nyono! Semisal), mereka harus merasa penting untuk menegurku? Dan di waktu yang sama, manakala saya menyebut nama seorang tukang parkir dengan langsung “namanya” pula (Nasikin! contohnya), mereka merasa tiada tuntutan apa pun? Malahan mereka mengikutinya. Padahal, jika diukur, keduanya sama-sama manusia Indonesia, umurnya tidak terpaut jauh, sama-sama kerjanya, dan sama-sama halalnya—kecuali kalau mereka punya konsep halal sendiri sih. Namun, kenapa respons yang muncul berbeda? Apa yang aneh di sini? Mereka atau saya? Inilah yang unik dari manusia Indonesia.

Mochtar Lubis suka menyebut itu sebagai salah satu ciri manusia Indonesia. Ia memasukkan kategori gaya bertingkah masyarakat Indonesia kayak di atas sebagai “perilaku feodal”. Dalam berpikiran plus bertutur, ukuran yang dipakai mereka masih sedangkal jabatan. Semisal si A kerjanya dosen—dan dosen sering dinarasikan sebagai yang lebih tinggi dari guru dan tukang parker—maka, ia tentu harus lebih dihargai, disembah, dan bahkan dijilat ketimbang si B yang kerjanya sebagai ahli parkir.

Sampai di sini, saya memutuskan untuk mantuk-mantuk saja. Wajar sekali kenapa teman-teman berlaku demikian. Rupanya, mereka masih susah move on dari gaya berperilaku feodal warisan kolonial itu. Dan sepertinya saya penting untuk memberitahu mereka bahwa salah satu syarat biar mudah move up adalah dengan berpikiran setara. Antara kamu dan dia itu segaris. Jika di pikiranmu kamu masih saja berada di posisi pengemis, di bawahnya, sampai terminal Tuban dilewati Bus pun, kamu takkan pernah move up darinya. Mbok ya yang adil! Tukang Parkir juga manusia. Begitu juga dosen. Semesta itu maha seimbang!Zav

Baca juga : Takhayul akademik I dan Takhayul Akademik II

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here