Tren Takhayul Akademik

4
Ilustrasi dicangkok dari http://www.solocybercity.com

 tubanjogja.orgTakhayul Akademik

Takhayul Akademik
Ilustrasi dicangkok dari http://www.solocybercity.com

Beberapa hari ini, kesepian saya agak terganggu. Pasalnya, ada saja obrolan di sekitar yang heboh dengan sendirinya gegara ada yang mau menjalani ritual akhir akademik (ujian munaqasyah). Ada yang sibuk kluntang-klunting mengabari teman-teman lainnya lewat WA supaya turut menghadiri ritual. Ada yang cuma bersendawa di kamar mandi menggeser-geser situs lazada.com atau bukalapak.com sembari mencari kado murah apa yang layak diberikan. Bahkan ada juga yang marah-marah dengan sendirinya lantaran ia ketinggalan info kalau temannya ada ritual. Yang mau menjalani ritual itu temannya, tetapi mengapa mereka yang ribut? Heran.

Saya melihat ada perkembangan yang cukup signifikan di sini. Dulu, pada paruh akhir tahun 2013, tren merayakan “ritual akhir akademik” tidak se-mengasikkan hari ini. Kala itu, saat ada yang ujian akhir, cukup dengan foto bersama, sudah. Itu pun jika memang ada yang mengikuti prosesinya. Jika tidak, maka ya seperti biasa, tiada perayaan. Mungkin di benak mereka, perayaan cukup dilakukan waktu wisuda.

Namun, jika kita melihat hari ini, pemandangannya jauh berbeda. Belum saja ritual dimulai, kado-kado usai berjejal di depan pintu “ruang ritual” bak kamar tamu tetangga yang lagi merayakan ulang tahun anaknya. Pun, kadonya beragam. Mulai dari bunga sungguhan, bunga plastik anti air, sampai pada bunga-bungaan yang bisa dimakan ada di situ, tumplek-blek. Seakan, di dataran pemikiran mereka ada sejenis nilai bahwa dengan begitu, mereka bisa merasa senang karena usai membahagiakan si teman. Sehingga pada akhirnya, mereka berhasrat melakukannya.

Terbentuknya nilai tersebut bukan tanpa proses. Mungkin, ini diawali dari perasaan ingin tampak eksis sebagai pribadi yang baik. Turut berucap “selamat” kepada teman yang usai paripurna tugas sebagai mahasiswa adalah tindakan yang baik. Banyak dari mereka menyadari itu. Alhasil, lahirlah se-nilai di atas. Nilai yang dengannya, mereka bisa bebas mengucapkan selamat—dengan beragam coraknya—dan lantas mengunggahnya di akun instagramnya dan bummm, tampak eksis deh mereka sebagai pribadi yang baik. Banjir like!

Seiring berlarinya waktu, nilai tersebut semakin banyak digandrungi. Sebab rupanya, eksistensi kebaikan diri kebanyakan dari mereka sungguh telah mendapatkan konfirmasi dari liyan, baik pacar, gebetan, mantan, dosen, dan sejenisnya. Mendapati itu, teman-teman lain yang belum pernah melakukannya kebakaran jenggot, dan akhirnya, mereka ikut juga merayakannya. Tepat pada garis ini, di balik fenomena di atas, saya melihat ada perubahan wujud dari “nilai” menjadi “mitos” atau “takhayul”. Tanpa tersadar, perayaan ritual ujian akhir sudah ditakhayulkan sendiri oleh mereka.

Berada di tengah-tengahnya, saya merasa khawatir. Jika takhayul akademik dibiarkan, kestabilan ekonomi mikro bisa terombak. Hari ini mungkin yang lagi tren masih selempang (bertulisankan “Suyono, S.Ma.”, semisal), kado, dan bunga. Tapi, coba setahun atau dua tahun ke depan. Wah, studio foto bisa-bisa ikut nimbrung juga. Photo Booth berjejal di kanan-kiri lorong Fakultas. Mungkin ada juga mahkota (waw …) sebagai pengganti selempang. Spanduk-spanduk berfoto kartun simbol solidaritas organisasi terenteng di jendela kelas-kelas. Dan bahkan, para orang tua akan turut berdatangan: iya, kalau cuma orang tua, kalau keluarga besarnya? Kalau se RT? Hebat! Wisuda bisa gulung tikar! Ruang munaqasyah perlu dibongkar, dibangun lagi yang besar.Zav

Baca juga: Takhayul Akademik II

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here