Bukan Zaman Wahyu

0
Ilustrasi gambar diambil dari sattic.republika.ci,id

tubanjogja.org – Wahyu

Oleh: Taufiq Ahmad

Sekarang zaman ilmu, bukan zaman wahyu. Zaman wahyu sudah dipungkasi oleh Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, yang sekaligus juga memulai zaman ilmu. Makanya kalau ada gerakan (dalam Islam khususnya) kembali ke wahyu dengan memunggungi ilmu, gerakan itu menentang arus zaman, menentang sejarah, dan (lebih ngeri) menentang Islam itu sendiri. Itulah jahiliyah. Akibatnya apa? Jelas! Akan tersingkir dari peradaban, atau akan hancur binasa tergilas zaman. Itu sudah pasti!

Sebab itu, dulu Nabi pernah bersabda “Al-‘ulama warotsatul anbiya” (para ilmuwan adalah pewaris para nabi). Ya, para ulama, atau dalam bahasa kita: ilmuwan. Jadi zaman memang tak membutuhkan nabi lagi. Dan bagaimana wahyu? Apa juga tak dibutuhkan?

Wahyu dibutuhkan sebagai petunjuk atau penerang. Jalan yang berliku ditunjukkan arahnya biar kita tak tersesat, jalan yang gelap diterangkan biar kita tak terjerumus. Artinya Tuhan mempermudah manusia. Mungkin karena dulu alam masih ganas di satu sisi, sementara kapasitas keilmuan manusia dirasa belum mumpuni. Karena itulah diturunkan nabi-nabi.

Saat ini tentu saja berbeda. Islam dibawa Nabi terakhir untuk menyempurnakan agama di satu sisi, lalu memulai menyemarakkan keilmuan disisi lain. Karena itulah, banyak sekali ajaran Islam yang mewajibkan manusia mencari ilmu kapanpun dimanapun, dari lahir sampai mati. Makanya menjadi wajar jika Islam kemudian mengalami puncak kejayaan dunia lebih dari lima abad. Karena apa? Karena memuliakan ilmu.

Lalu bagaimana peran wahyu kini? Wahyu sudah melakukan babat alas buat kehidupan manusia. Itu tak bisa dilupakan. Tapi yang perlu diingat adalah di dalam wahyu ada perintah untuk mengembangkan ilmu. Banyak sekali ayat Al-quran menyindir kita agar kita memaksimalkan peran akal sebagai anugerah yang mulia. Misalnya Afala tatafakkarun (apa kalian tidak berfikir?), afala ta’qilun (apa kalian tidak berakal?), afala ta’lamun (apa kalian bego?).

Akal itu terbatas, tetapi tak perlu dibatasi. Pembatasan akal dilarang agama. Sebab, cara mensyukuri nikmat Tuhan yang sangat agung itu (yakni akal), adalah dengan menggunakannya, bukan dengan mencampakkannya. Masalahnya apakah segala masalah umat manusia kini akan bisa dipecahkan hanya dengan akal? Wallahu a’lam. Hanya Tuhan yang tahu. Mungkin saja Tuhan masih menurunkan wahyu (dalam kemasan yang berbeda) pada orang-orang tertentu. Tapi kita tak boleh hanya mengandalkan wahyu.

Jahiliyah di Bumi Wali

Dulu zaman nabi, masyarakat jahiliyah dikasih Alquran jadi tercerahkan, jadi Islam. Sekarang banyak sekali yang mengatasnamakan Quran, malah jadi jahiliyah. Buktinya banyak. ISIS yang jauh di sana hanya contoh kecil. Di sekitar kita ada seabrek. Misalnya yang menjadikan Islam sebagai citra dengan tujuan meraih hal-hal duniawi, entah kekayaan, jabatan, atau perempuan (bagi lelaki tentu saja, hehe). Misalnya lagi, Qu’ran hanya sebagai hiasan dinding. Asmaul Husna sebagai hiasan jalan. Bumi Wali dijadikan slogan. Tapi mudah-mudahan itu hanya kekhawatiran saya saja.

Namun, kalau melihat kenyataan di daerah kita tercinta alias Tuban, kekhawatiran saya diatas seperti terbukti. Iya, Tuban memang layak menyandang Bumi wali, jika hanya melihat banyaknya wali yang dikubur di buminya. Tapi bumi wali macam apa yang membiarkan masyarakatnya diterpa kemiskinan? Bahkan menurut data, kita termiskin ke-7 se-Jatim.

Iya, Tuban memang berhias Asmaul Husna di jalan kota-nya. Tapi apa ya tidak malu jika di satu sini Tuban terus-menerus dirusak buminya dengan sekian pertambangan, yang toh juga tak banyak hasilnya yang dinikmati masyarakatnya? Apalagi banyak pertambangan asing yang kini berebutan.

Iya, di Tuban memang bagus sekali arsitek dan hiasan masjid Agungnya (menyusul masjid-masjid yang lain tentu saja). Tapi ya apa gunanya jika jurang ketimpangan di Tuban kian menganga? Yang miskin kian melarat, yang kaya kian kaya, sehingga laku kriminal merajalela? Seolah keduanya (masjin dan kemiskinan) tak ada hubungannya.

Kalau diteruskan, contoh-contoh diatas akan sangat banyak sekali, yang menunjukkan agama memang sekedar citra, atau malah alat meninabobokkan massa agar merem terhadap kenyataan. Itulah problem jahiliyah di bumi wali kita.

Muliakan Ilmu

Pewaris nabi adalah ulama. Ulama disini jangan hanya dimaknai ahli fikih atau tafsir saja. Seolah Islam hanya mengurusi fiqih dan tafsir. Ilmu-ilmu yang harus dimiliki umat muslim, adalah menyeluruh. Geografi, biologi, antropologi, ekonomi politik, arkeologi, kimia, fisika, pertanahan, pertanian, sinematografi, dan seterusnya adalah juga ilmu. Kesemuanya wajib dikembangkan dalam Islam.

Makanya, jika Tuban hendak menjadikan dirinya Bumi Wali, perhatikan hal ini baik-baik. Secara lebih praktis bisa berbunyi begini, muliakan ilmu dengan memberi kesempatan seluas-luasnya bagi warga Tuban untuk mengakses dan mengembangkan seluruh dimensi keilmuan. Biayanya darimana? Kekayaan alam Tuban yang melimpah itu, saya pikir cukup jika kita kelola sendiri dan untuk kepentingan seluruh warga (artinya tidak dikorupsi).

Kedua, kebijakan demi kesejahteraan warga (arti sejahtera dalah adil-makmur), harus lebih diprioritaskan. Bukan kebijakan menghias kota agar nampak lebih Islami yang intinya hanya menghabiskan anggaran.

Gito lho mas, mbak! Punya akal gak sih?!

Baca juga: Filsafat Sebagai Soko Guru

Blandongan, 1 Maret 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here