WHY “TUBAN BUMI WALI” THE SPIRIT OF HARMONY?

6

tubanjogja.orgTuban Bumi Wali

Oleh: Moh. Khoirul Fatih, S.Th.I

(Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Khoirulfatih12@gmail.com

tuban bumi wali 2
Tuban Bumi Wali, gambar diambil dari http://diyondayonda.blogspot.co.id

 

  1. Latar Belakang

Tuban adalah sebuah nama wilayah yang berada di provinsi Jawa Timur, sebuah wilayah yang sangat strategis berada di berbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sebagai daerah yang menyimpan sejarah cukup panjang, Tuban memiliki kesan tersendiri di hati masyarakat, khususnya masyarakat Tuban dan masyarakat luar yang datang ke Tuban. Bagaimana tidak? Daerah ini di samping dikenal sebagai tempat makam wali penyebar Islam di Nusantara. Wilayah ini juga dikenal sebagai salah satu bumi wali di Indonesia.

Identitas kultural city brand Bumi Wali yang melekat pada Kabupaten Tuban selain karena mayoritas penduduk yang memeluk agama Islam tergolong taat, juga terdapat ciri khas lain yang mendukung simbol kewalian tersebut. Misalnya pendirian lembaga-lembaga keislaman, seperti pondok pesantren, masjid, langgar dan madrasah yang tumbuh hingga ribuan jumlahnya, di samping keberadaan situs-situs makam wali-wali lainnya yang jumlahnya hingga ratusan tempat. Belum lagi keberlangsungan ritus keagamaan maupun tradisi budaya Islam yang selalu dijaga oleh para pendukung setianya.

Kabupaten Tuban juga dikenal dengan sebutan Bumi Wali karena di dalam wilayah Tuban bersemayam ratusan makam para wali penyebar Islam di Nusantara. Bahkan, sebagian ahli menyebutkan, para wali yang dimakamkan di wilayah Tuban mencapai sekitar 480 makam, termasuk tokoh walisongo Sunan Bonang dan Syekh Ibrahim Asmaraqandi.

Dengan demikian, citra Bumi Wali yang berusaha disematkan sebagai city brand kota Tuban dimaksudkan agar wilayah Tuban mampu menjadi wilayah yang menonjolkan nilai keislaman yang diwariskan para wali. Namun, pertanyaanya sekarang bagaimana citra Bumi Wali The Spirit of Harmony diterapkan dan implementasikan dalam pembangunan kota dan bagaimana posisi umat beragama yang begitu plural di kota Tuban.

  1. City Brand Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony

City branding adalah bagian dari branding bangsa, dan sudah saatnya Indonesia serius untuk memposisikan dan membenahi image dirinya di mata international. Sebuah isyarat yang kadang tak disadari bahwa suatu bangsa membutuhkan pengakuan international, demikian pula nama resmi bangsa untuk dikenal dan mudah diingat. Keberhasilan branding bangsa tidaklah utama diukur dari kompetisi harga melainkan dari suksesnya upaya menanamkan image atau persepsi dari karakter dan keunikan sebuah bangsa dari bangsa lain.[1]

City branding merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menciptakan identitas tempat, wilayah, kemudian mempromosikannya kepada publik agar tertanam suatu image dan persepsi yang positif dan juga unik dari masyarakat kepada masyarakat yang lain. City branding adalah bagian dari model tempat yang berlaku untuk kota tunggal atau wilayah keseluruhan dari sebuah Negara.[2]

Selanjutnya, kota Tuban sebagai wilayah yang dinilai cukup tua dan memiliki pengaruh cukup besar dalam perkembangan Islam di tanah Jawa memilih dan mengembangkan city brand sebagai identitas wilayah dan ciri khas khusus wilayah Tuban. City brand dilakukan pemerintah kota Tuban untuk membangun citra daerah dan memberikan citra kota agar mudah dikenal dan diingat oleh kelompok masyarakat yang datang ke Tuban.

  1. Deskripsi Bumi Wali

Bumi Wali adalah sebutan yang berikan kepada suatu wilayah atau tempat yang di dalamnya terdapat sejarah signifikan tentang proses penyebaran Islam di Nusantara khususnya Jawa, nama ini dinisbahkan kepada suatu wilayah, melihat beberapa bukti yang terdapat, seperti makam para wali, yakni makam walisongo dan para muridnya, petilasan, dan beberapa peninggalan yang dinilai ada hubungannya dengan perjuangan para wali saat penyebaran Islam.

Penamaan “Tuban Bumi Wali” sebagai brand kota Tuban dirasakan sangat relevan dari berbagai aspek. Dari aspek sejarah, dilakukan penelusuran dan penelitian makam para wali yang tersebar di 20 kecamatan kota Tuban. Makam para wali tersebut mencapai sekitar 480 makam.[3] Makam para wali di wilayah Tuban terdiri dari banyak makam, mulai dari makam tokoh walisongo seperti Sunan Bonang dan Maulana Asmaraqandi serta beberapa makam para murid walisongo yang tersebar di beberapa wilayah kota Tuban. Selain itu, penegasan wilayah Tuban sebagai Bumi Wali karena peran sentral Tuban di masa lalu terhadap perkembangan Islam di tanah Jawa, dari hal itulah kiranya sangat relevan menjadikan daerah Tuban sebagai Bumi Wali.

Dengan melihat sejarah Tuban, maka idealnya kota ini harus benar-benar memiliki budaya Islam lebih kental. Sebagai penerus perjuangan wali, masyarakat Tuban harus berani mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mewujudkan tujuan mulia itu. Bukan justru sebaliknya, masyarakat larut terhadap hal-hal negatif yang memang kebetulan ada di Tuban. Terkait dengan hal itu juga, tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah kota Tuban berharap masyarakat Tuban akan lebih mengenal dan mencintai wali. Sehingga kondisi itu akan memberikan keberkahan tersendiri terhadap masyarakat secara keseluruhan. Selain itu, dengan slogan Bumi Wali, masyarakat dan pemimpin Tuban juga akan mampu belajar terhadap nilai-nilai yang dianamkan oleh para wali di kota ini.

  1. Logo Tuban Bumi Wali

Pada pesrpektif strategi pembangunan daerah diwujudkan melalui konsep city brand yang diidentifikasikan melalui lambang, logo dan simbol kedaerahan. Dalam hal ini kota Tuban memiliki city brand yang sudah dicita-citakan sejak lama oleh pemerintah Tuban. Tuban memili dan mendeklarasikan brand Tuban Bumi Wali dengan slogan The Spirit of Harmony yang digambarkan dengan logo di bawah ini:

tuban bumi wali

Gambar 1

Logo Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony

 

Istilah  “Tuban Bumi Wali” The Spirit of Harmony muncul dari semangat pemerintah kota Tuban untuk mengimplementasikan dan menonjolkan nilai peninggalan walisongo yang banyak ditemukan di wilayah Tuban. Awalnya tulisan yang digunakan hanya “Tuban Bumi Wali”, namun melihat kondisi masyarakat Tuban yang terbilang plural menjadikan brand Tuban Bumi Wali mendapatkan istilah tambahan The Spirit of Harmony dengan tujuan menciptakan keselarasan di kalangan sosial masyarakat kota Tuban.

  1. Bacground

Background berbentuk elips dengan dasar warna hijau muda menggambarkan:

  • Proses pendakian spiritual dan dakwah yang dilakukan para wali, keuletan dalam membina umat diseluruh pelosok Nusantara.
  • Warna hijau selaras dengan syair tembang spiritual Jawa Lir ilir karya Sunan Kalijaga.
  • Representasi Tuban sebagai tanah harapan yang subur, yang menjanjikan kesejahteraan lahir maupun batin.
  • Warna hitam merupakan simbol keabadian, kesetiaan, ketinggian ilmu dalam kedalaman spiritual dan ketenangan.
  • Warna hijau merupakan simbol kehidupan, harapan, inovatif, tumbuh dan berkembang serta kelestarian.
  • Bentuk elips menggambarkan rotasi yang bermakna dinamis dan mampu menyesuaikan perkembangan zaman.
  1. Tulisan “Tuban Bumi Wali” dan “The Spirit of Harmony”

Tulisan “Tuban Bumi Wali” dengan font (tipe huruf) bernuansa huruf Arab dengan kombinasi warna hijau muda dan hijau tua dilapisi warna putih dengan posisi berada di tengah warna dasar menggambarkan:

  • Kesatuan tekad Umara (Pemerintah), Ulama, dan Umat (Masyarakat dan Dunia Usaha) dalam rangka mewujudkan Tuban yang lebih maju dan religius.
  • Norma agama dan nilai spiritual yang menjadi dasar dalam melakukan aktifitas ekonimi dan sosial kemasyarakatan.
  • Peran sentral Kabupaten Tuban dalam percaturan sejarah nasional maupun sejarah penyebaran Agama Islam di Tanah Air.

Huruf W dalam kata wali dimodifikasi dalam bentuk menyerupai ombak merupakan simbol:

  • Lautan yang menggambarkan keluasan dan kedalaman sikap dan ilmu para wali.
  • Dalam dunia tasawuf lautan atau samudra menjadi bahasa

kiasan pemahaman dan pengetahuan ahli tasawuf.

  • Mengarungi samudra merupakan kiasan proses pencarian ketuhanan mengarungi lautan kehidupan.

Sedangkan tulisan “The Spirit of Harmony” menggambarkan:

  • Semangat dan cita-cita untuk mewujudkan keharmonisan, keselarasan hubungan dan keserasian hubungan antara sesama umat manusia, antara manusia dengan alam dan antara manusia dengan Tuhan-nya sebagaimana yang selalu diajarkan oleh para auliya.
  • Harmony merupakan suatu kondisi keterpaduan semua komponen yang masing-masing berperan secara selaras dan seimbang, menghasilkan suatu keindahan kehidupan.[4]
  1. Gambar Bola Dunia

Gambar bola dunia yang menunjukkan letak Kesatuan Negara Rebuplik Indonesia (NKRI) yang berada di ujung, menggambarkan:

  • Kesiapan kabupaten Tuban sebagai bagian dari NKRI dalam menyongsong globalisasi yang dilandasi semangat “rahmatan lil alamin” untuk mewujudkan Kabupaten Tuban yang “Baldatun thaiyyibatun wa rabbun ghafuur”
  • Para wali dan leluhur telah mengajarkan kepada masyarakat Tuban untuk bertoleransi terhadap semua kalangan serta dapat menyesuaikan diri terhadap kemajuan jaman.
  • Kabupaten Tuban menjadi salah satu tujuan para muballigh dari berbagai penjuru dunia untuk melakukan dakwah, hal ini terbukti banyaknya makam para muballigh (wali) yang tersebar di seluruh pelosok Kabupaten Tuban.[5]
  1. Rancangan Pembangunan Kota Tuban Melalui City Brand Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony

Seiring dengan berkembangnya otonomi daerah dan derasnya arus modernitas, setiap wilayah di daerah Indonesia berupaya menonjolkan ciri khas daerah yang nantinya dapat membantu dan menopang jalannya roda pemerintahan. Selain itu, perencanaan pembangunan daerah dapat dilihat dari konsep brand yang digunakan. City brand yang sudah dijelaskan di atas biasanya dikembangkan pemerintah melalui banyak hal, antara lain dalam pola-pola pengaturan, konsep pembangunan dan pelayanan publik.

Beberapa konsep pengembangan yang dapat dirumuskan dan menjadi prioritas guna pengembangan dan penguatan city branding “Tuban Bumi Wali” The Spirit of Harmony adalah sebagai berikut:

  1. Pembangunan di bidang sosial kultur dan religi di kalangan masyarakat.
  2. Pembangunan di bidang pendidikan dan generasi muda.
  3. Pembangunan di bidang infrastruktur dan tata kota.
  4. Pengembangan di bidang ekonomi.
  5. Pembangunan di bidang kepariwisataan.
  6. Pembangunan di bidang peningkatan pelayanan publik.
  7. Pengembangan di bidang public, sosialisasi dan promosi.[6]

Dari penjelasan tentang rancangan pembangunan kota Tuban melalui city brand “Tuban Bumi Wali” The Spirit of Harmony di atas dapat dipahami bahwa city brand Tuban Bumi Wali merupakan upaya pemerintah dan terobosan baru guna mengatur rencana pembangunan daerah agar lebih efektif dan efisien. Selain itu, upaya yang ingin ditekankan pemerintah kota Tuban adalah pembangunan wilayah Tuban secara merata. Namun, agar perencanaan pembangunan yang sudah dikonsep pemerintah Tuban dapat terealisasikan dengan baik, peran seluruh elemen masyarakat juga sangat dibutuhkan. Untuk mencapai tingkat keberhasilan dalam membumikan city brand “Tuban Bumi Wali” The Spirit of Harmony perluh dilakukan beberapa tahap penting, yaitu tahap pertama berupa perumusan kebijakan yang kiranya diselesikan pada tahun pertama city brand dideklarasikan. Tahap kedua perluh adanya sosialisasi secara merata di kalangan masyarakat dan tokoh-tokoh agama. Dengan demikian, setelah tahap pertama dan tahap kedua selesai dilakukan langkah selanjutnya adalah tahap implementasi dengan harapan city brand yang digunakan sudah menjadi dasar utama dan diterapkan dalam rencana-rencana pembangunan daerah.

 

  1. Kesimpulan

Seiring dengan berkembangnya Otonomi Daerah, berbagai daerah di Indonesia mengupayakan berbagai cara untuk menunjukkan diferensiasi dari kotanya dibanding dengan kota-kota di daerah lain.  Sebutan “Tuban Bumi Wali” digunakan pemerintah Kabupaten Tuban sebagai motto untuk menonjolkan identitas wilayah, yang mengandung suatu filosofi dalam pembangunan daerah. Motto daerah ini ditetapkan pada tanggal 05 Desember 2012 melalui Keputusan Bupati Nomor 188.45/203/KTPS/414.012/2012 perihal Tim Penyusunan Buku Tuban Bumi Wali sebagai logo dan slogan Kabupaten Tuban, keputusan ini ditetapkan pada pemerintahan Bupati Tuban H. Fathul Huda. Alasan motto “Tuban Bumi Wali” ditetapkan melihat kronologi sejarah yang mulanya Tuban tidak dapat lepas dari julukan “Tuban Kota Tuwak”,  kemudian pada awal tahun 1990 Tuban berupaya menghapus image negatif yang melekat pada julukan “Kota Tuwak” tersebut. Julukan tersebut dianggap bertentangan dengan fakta sejarah proses perjalanan panjang Kabupaten Tuban yang syarat dengan nilai spiritual, estetika dan religius, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menghapus image tersebut adalah dengan ditetapkannya motto “Tuban Bumi Wali”.

BAHAN BACAAN

Madison Avenue, Membangun dan Menciptakan Merek Global, PT Duta Cakrawala Komunikasi: 2005.

Miller Merrilees, D and Herington, “Antecedents of residents’ city brand attitudes” Journal of Business Research. 2009.

Tim Penyusun, Tuban Bumi Wali: The Spirit of Harmoni, Cet ke-2, Tuban: Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2015.

Haidlor Ali Ahmad (ed), Potret Kerukunan Umat Beragama di Provinsi Jawa Timur, Jakarta: Puslitbang, 2011.

[1] Madison Avenue, Membangun dan Menciptakan Merek Global .(PT Duta Cakrawala Komunikasi: 2005), hlm. 2.

[2] Miller Merrilees, D and Herington, “Antecedents of residents’ city brand attitudes” Journal of Business Research. 2009. No. 62, hal. 362

[3] Tim Penyusun, Tuban Bumi Wali: The Spirit of Harmoni, Cet ke-2 (Tuban: Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2015), hlm. 178.

[4] Tim Penyusun, Tuban Bumi Wali: The Spirit of Harmony, hlm. 180.

[5] Tim Penyusun, Tuban Bumi Wali: The Spirit of Harmony, hlm. 182.

[6] Tim Penyusun, Tuban Bumi Wali: The Spirit of Harmony, hlm. 183-185.

6 KOMENTAR

  1. Menarik sekali min, tapi sepertinya kota tuban harus bekerja lebih keras untuk merubah citra tuban, karena “tuban kota tuak” lebih ngehit dikhalayak umum, apa lagi anak muda. ..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here