Tren Takhayul Akademik II

1
Cerpen daruz armedian
Ilustrasi dicangkok dari Brilio.net

 tubanjogja.orgAkademik

Akademik
Ilustrasi dicangkok dari Brilio.net

Belum genap seminggu, kesunyianku kembali terusik. Kali ini oleh teman dengan latar belakang jenis yang berbeda. Di suatu pagi, tanpa sengaja, ia dipertemukan denganku. Dalam pertemuan, kita banyak ngobrol soal hal-hal yang sejatinya tidak terlalu penting di kampus, seperti bikin abstrak untuk pengajuan judul tugas akhir, konsultasi akademik, cari tanda tangan pejabat, setoran hafalan mata kuliah—jangan salah, di kampus kita ada mata kuliah hafalan!—dan sejenisnya. Dia begitu antusias, begitu pun denganku, hingga tanpa tersadar kita sampai pada persoalan sima’an al-Quran, sejenis ibadah, yang digalakkan oleh salah satu organisasi penelitian al-Quran di kampus.

Bak jomblo yang foto IG-nya nembe dapat like dari sang pujaan, saya merasa obrolanku dengannya semakin menarik. Apalagi saat dia bilang begini, “Ah, sima’an! Siapa pun ya bisa. Lantas apa bedanya dengan paguyuban al-Quran lainnya di luar? Apa istimewanya? Apalagi untuk ukuran organisasi penelitian! Semisal yang di-sima’ adalah kesejarahan dari ­sima’an al-Quran itu sendiri, mending ya, tapi ini?” Mendengarnya, saya mengangguk-angguk saja. Pada faktanya, yang ia katakan memang tidak sepenuhnya salah. Jangankan di luar kampus, dalam kampus saja, sudah ada UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang fokusnya ke hal-hal sejenis sima’an. Lantas, sedikit mengamini teman saya tadi, ngapain capek-capek ngaji? Di tengah-tengah kelas aktif perkuliahan pula!

Akan tetapi, meski demikian, sepertinya tidak efektif jika melihat fenomena tersebut hanya dari satu sisi. Saya pikir, kenapa organisasi penelitian al-Quran (OPQ) di atas sampai pada program sima’an adalah tidak bisa lepas dari dua hal, habitus yang usai terinstal dalam masing-masing kepala pelaksana OPQ dan arena yang melingkupinya. Pertama adalah soal pola pikir. Saya curiga, dalam kepala mereka (para pelaksana) terdapat struktur yang dengan itu segala pandangannya cenderung monoistik, satu arah. Dalam artian, mereka kerap merasa bingung untuk membedakan bagaimana, di mana, dan dalam keadaan apa, A semisal, harus diaplikasikan dan harus tidak diaplikasikan. Habitus sejenis ini biasanya berperan aktif menjadikan seseorang mudah menelan begitu saja apa yang tengah mereka pelajari, tanpa harus sama sekali merasa penting untuk menelaah lebih jauh sejarah kemunculannya—mungkin takut su’ul adab.

Dari pola pikir tersebut, saya kira wajar mengapa OPQ sampai pada keputusannya untuk mengadakan sima’an dalam kampus setiap minggu. Terlepas dari elemen berkah, pahala, dan surga, pola pikir itu adalah struktur. Se-struktur yang lahir dari struktur. Struktur apa? Struktur lingkungan yang melingkupi para pelaksana, dan inilah yang saya sebut sebagai arena.

Oke, sekarang kita berbicara tentang “arena”. Mungkin pertanyaannya begini, arena apa yang melingkari mereka hingga sampai pada pola pikir monoistik? UKM! Iya, jika kita mengamati, banyak dari para pelaksana OPQ, rupanya berkelamin ganda. Selain aktif di OPQ, mereka juga aktif di UKM al-Quran atau sebut saja arena al-Quran. Di arena al-Quran, tentu sima’an bukanlah hal yang asing, bahkan ia merupakan ruh darinya. Mereka lama hidup dan berkembang di arena semacam itu. Jadi, sudah mengerti kan maksud saya? Tepat sekali! Pola pikir monoistik para pelaksana OPQ terbentuk dan tergodok di sini, sehingga teramat wajar mengapa mereka sama sekali tidak merasakan kegalauan saat “ia” menyusup di tengah perkuliahan aktif teman-teman mahasiswa.

Sampai di sini, mungkin apa yang diresahkan teman saya tadi sedikit terjawab. OPQ menggalakkan program sima’an bukan tanpa alasan. Itu adalah konsekuensi dari adanya struktur yang terinstal di kepala masing-masing pelaksana dan di waktu yang sama, ia juga merupakan telur dari struktur sebelumnya. Jadi, di sini saya menemukan tiga struktur yang berkelindan, yaitu habitus para pelaksana (sebagai struktur inti), struktur UKM (sebagai arena), dan struktur sima’an (sebagai telur dari struktur inti).

Jika dilanjutkan—ini yang menggelikan—dari struktur sima’an, nanti akan pula lahir struktur baru. Artinya, seandainya kita masih tenang-tenang saja dengan kehadiran sima’an di tengah aktifitas akademik kampus, sangat mungkin sebentar lagi di depan ruang OPQ akan dibangun tempat wudlu sendiri—sebab sebelum sima’an ada takhayul harus wudlu dulu—dan bahkan akan dibikin pula lapak-lapak kecil yang menyediakan air mineral, peci, tasbih, kerudung, buku-buku dosen, dan sebagainya. Lha, lantas? Ha ha ha, entah! Wahai temanku, begitu lah ceritanya mengapa hari ini kita harus ngalap berkah di kampus setiap minggunya.Zav

Baca juga: Takhayul Akademik

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here